Stasiun Manggarai Dilempari Batu

Kompas.com - 14/05/2011, 04:45 WIB

Jakarta, Kompas - Penertiban penumpang oleh manajemen PT Kereta Api Indonesia dijawab dengan amuk massa di Stasiun Manggarai, Jumat (13/5), sehingga sejumlah ruangan rusak. Saat kejadian itu berlangsung, petugas memilih menjaga keamanan sekitar stasiun agar amuk tak meluas.

Sementara itu, Suharto Abdul Majid, dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, dan pengamat transportasi, Darmaningtyas, menilai amuk itu terjadi karena pelayanan angkutan publik di negeri ini tidak manusiawi.

Kejadian di Stasiun Manggarai kemarin, menurut Senior Manager Keamanan dan Ketertiban PT KAI Daerah Operasi I Ahmad Sujadi, berawal dari penangkapan empat penumpang di atap kereta.

Petugas kami sedang menertibkan penumpang yang berada di tempat yang tidak semestinya di KRL Ekonomi Nomor 589 dari Bogor menuju Jakarta, pukul 06.38. Empat penumpang di antaranya ditangkap. Saat petugas menggiring keempatnya ke kantor pengawas, penumpang lain berteriak dan melemparkan batu,” kata Ahmad.

Nur, pedagang asongan minuman dan tisu di Stasiun Manggarai, mengatakan, penumpang di atap berhamburan ketika petugas mendekati kereta sesaat setelah rangkaian KRL itu berhenti. Namun, saat melihat ada penumpang tertangkap, Nur mendengar beberapa lelaki berteriak kemudian batu-batu dilemparkan ke arah petugas dan deretan ruang kantor di stasiun itu. Tak lama kemudian para penumpang yang mengamuk melarikan diri.

Amuk massa itu menyebabkan beberapa aset di Stasiun Manggarai rusak, termasuk kantor pengawas, kantor pemimpin perjalanan kereta api, dan papan informasi. Nilai kerugian materiil diperkirakan Rp 2 juta. Kerusuhan sekejap itu juga menyebabkan keempat penumpang nakal yang sempat ditangkap bisa melarikan diri.

Perjalanan terganggu

Sepanjang Jumat, perjalanan KRL tujuan Bogor-Jakarta dan sebaliknya juga terganggu karena rusaknya wesel atau alat pemindah rel di Stasiun Manggarai dan Depok. Akibatnya, penumpang menunggu 30 menit hingga satu jam karena rangkaian kereta api terlambat masuk ke Stasiun Bogor.

Keterlambatan itu terjadi pada pukul 08.00-10.00. Menurut data Stasiun Bogor, selama kurun itu hanya ada dua perjalanan KRL ekonomi dari seharusnya sembilan perjalanan. Misalnya, KRL ekonomi yang seharusnya berangkat pukul 08.44 mundur hingga pukul 09.50.

”Ada penumpukan penumpang 500-600 orang di stasiun. Sekitar 30 persen di antaranya mengembalikan tiket,” ujar Wakil Kepala Stasiun Bogor FS Budiman.

Menjelang pukul 11.00, perjalanan KRL dari Stasiun Bogor normal kembali setelah wesel diperbaiki. Menurut dia, keterlambatan itu bukan karena ada pelemparan batu di Stasiun Manggarai.

Bagi pelanggan KRL, gangguan perjalanan sudah menjadi hal biasa. Sarwono (37) yang ditemui di Stasiun Pasar Minggu, Selasa (10/5), mengatakan, hampir tiap 2-3 hari sekali ada saja gangguan sinyal, wesel, atau masalah aliran listrik menghambat perjalanannya dari Depok ke tempat kerja di Tanah Abang. Sidik (40), penumpang KRL ekonomi asal Bogor yang hendak menuju Stasiun Jakarta Kota, kemarin, mengaku dirugikan karena gangguan kereta menyebabkannya terlambat mengantar dagangan.

Salah pemangku kebijakan

Menurut Suharto, sebuah organisasi, termasuk PT KAI, bergantung pada pemangku kebijakan yang membentuknya. Jika

tidak memiliki kebijakan yang menelurkan efektivitas dan efisiensi, organisasi bentukannya pun bernasib serupa.

Terkait penertiban yang dilakukan PT KAI, Suharto menegaskan, itu manajemen panik. PT KAI selama ini juga bingung karena selalu berhadapan dengan membeludaknya penumpang, sementara armada tak juga ditambah. Penumpang setiap hari harus berdesak-desakan kalau mau terangkut.

Di Stasiun Kalibata atau Stasiun Kebayoran Lama, Rabu (11/5), pukul 06.00-09.00, tidak ada petugas yang mengecek tiket penumpang di dalam gerbong. ”Bagaimana mereka mau mengecek, lewat saja susah,” kata Widyawati, karyawan asal Serpong yang bekerja di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Saat jam sibuk, penumpang seperti menempel satu sama lain. Kapasitas gerbong yang normalnya diisi sekitar 100 orang bisa diisi 1,5-2 kali lipatnya. Pencopetan, pelecehan seksual, sampai sampah berserakan bukan hal baru.

Menurut Darmaningtyas, penumpang yang telah memenuhi kewajibannya membeli tiket tak terpenuhi haknya mendapat keamanan serta kenyamanan. Tidak heran jika terkadang penumpang pun bereaksi keras.

”Saya setuju, penertiban penumpang nakal harus dilakukan demi keamanan bersama. Namun, pemangku kebijakan di atas PT KAI harus segera mengimbangi dengan pembenahan moda transportasi ini secepatnya,” kata Darmaningtyas. (GAL/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau