Sementara itu, Suharto Abdul Majid, dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, dan pengamat transportasi, Darmaningtyas, menilai amuk itu terjadi karena pelayanan angkutan publik di negeri ini tidak manusiawi.
Kejadian di Stasiun Manggarai kemarin, menurut Senior Manager Keamanan dan Ketertiban PT KAI Daerah Operasi I Ahmad Sujadi, berawal dari penangkapan empat penumpang di atap kereta.
Petugas kami sedang menertibkan penumpang yang berada di tempat yang tidak semestinya di KRL Ekonomi Nomor 589 dari Bogor menuju Jakarta, pukul 06.38. Empat penumpang di antaranya ditangkap. Saat petugas menggiring keempatnya ke kantor pengawas, penumpang lain berteriak dan melemparkan batu,” kata Ahmad.
Nur, pedagang asongan minuman dan tisu di Stasiun Manggarai, mengatakan, penumpang di atap berhamburan ketika petugas mendekati kereta sesaat setelah rangkaian KRL itu berhenti. Namun, saat melihat ada penumpang tertangkap, Nur mendengar beberapa lelaki berteriak kemudian batu-batu dilemparkan ke arah petugas dan deretan ruang kantor di stasiun itu. Tak lama kemudian para penumpang yang mengamuk melarikan diri.
Amuk massa itu menyebabkan beberapa aset di Stasiun Manggarai rusak, termasuk kantor pengawas, kantor pemimpin perjalanan kereta api, dan papan informasi. Nilai kerugian materiil diperkirakan Rp 2 juta. Kerusuhan sekejap itu juga menyebabkan keempat penumpang nakal yang sempat ditangkap bisa melarikan diri.
Sepanjang Jumat, perjalanan KRL tujuan Bogor-Jakarta dan sebaliknya juga terganggu karena rusaknya wesel atau alat pemindah rel di Stasiun Manggarai dan Depok. Akibatnya, penumpang menunggu 30 menit hingga satu jam karena rangkaian kereta api terlambat masuk ke Stasiun Bogor.
Keterlambatan itu terjadi pada pukul 08.00-10.00. Menurut data Stasiun Bogor, selama kurun itu hanya ada dua perjalanan KRL ekonomi dari seharusnya sembilan perjalanan. Misalnya, KRL ekonomi yang seharusnya berangkat pukul 08.44 mundur hingga pukul 09.50.
”Ada penumpukan penumpang 500-600 orang di stasiun. Sekitar 30 persen di antaranya mengembalikan tiket,” ujar Wakil Kepala Stasiun Bogor FS Budiman.
Menjelang pukul 11.00, perjalanan KRL dari Stasiun Bogor normal kembali setelah wesel diperbaiki. Menurut dia, keterlambatan itu bukan karena ada pelemparan batu di Stasiun Manggarai.
Bagi pelanggan KRL, gangguan perjalanan sudah menjadi hal biasa. Sarwono (37) yang ditemui di Stasiun Pasar Minggu, Selasa (10/5), mengatakan, hampir tiap 2-3 hari sekali ada saja gangguan sinyal, wesel, atau masalah aliran listrik menghambat perjalanannya dari Depok ke tempat kerja di Tanah Abang. Sidik (40), penumpang KRL ekonomi asal Bogor yang hendak menuju Stasiun Jakarta Kota, kemarin, mengaku dirugikan karena gangguan kereta menyebabkannya terlambat mengantar dagangan.
Menurut Suharto, sebuah organisasi, termasuk PT KAI, bergantung pada pemangku kebijakan yang membentuknya. Jika
tidak memiliki kebijakan yang menelurkan efektivitas dan efisiensi, organisasi bentukannya pun bernasib serupa.
Terkait penertiban yang dilakukan PT KAI, Suharto menegaskan, itu manajemen panik. PT KAI selama ini juga bingung karena selalu berhadapan dengan membeludaknya penumpang, sementara armada tak juga ditambah. Penumpang setiap hari harus berdesak-desakan kalau mau terangkut.
Di Stasiun Kalibata atau Stasiun Kebayoran Lama, Rabu (11/5), pukul 06.00-09.00, tidak ada petugas yang mengecek tiket penumpang di dalam gerbong. ”Bagaimana mereka mau mengecek, lewat saja susah,” kata Widyawati, karyawan asal Serpong yang bekerja di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.
Saat jam sibuk, penumpang seperti menempel satu sama lain. Kapasitas gerbong yang normalnya diisi sekitar 100 orang bisa diisi 1,5-2 kali lipatnya. Pencopetan, pelecehan seksual, sampai sampah berserakan bukan hal baru.
Menurut Darmaningtyas, penumpang yang telah memenuhi kewajibannya membeli tiket tak terpenuhi haknya mendapat keamanan serta kenyamanan. Tidak heran jika terkadang penumpang pun bereaksi keras.
”Saya setuju, penertiban penumpang nakal harus dilakukan demi keamanan bersama. Namun, pemangku kebijakan di atas PT KAI harus segera mengimbangi dengan pembenahan moda transportasi ini secepatnya,” kata Darmaningtyas.