Jika impian City itu terwujud, Sabtu ini bakal bisa menjadi pesta seluruh penduduk Manchester. Pendukung Manchester United (MU) juga sudah siap berpesta. Gelar juara Liga Inggris untuk klub mereka sudah di depan mata. MU hanya butuh satu poin untuk memastikan rekor juara ke-19 saat dijamu Blackburn Rovers, Sabtu ini.
Bagi City, kemenangan pada final Piala FA memiliki banyak makna. Selain menjadi trofi pertama sejak 1976, kemenangan itu menandai kebangkitan kekuatan sepak bola mereka.
Namun, yang lebih penting bagi mereka adalah gelar juara itu bakal jadi langkah awal mengubah mental klub yang paling royal berbelanja pemain sejak diambil alih konsorsium pengusaha Abu Dhabi tahun 2008.
Selasa lalu, berkat kemenangan 1-0 atas Tottenham Hotspur di Liga Inggris, Mancini memastikan peringkat keempat klasemen sementara Liga Inggris, yang juga berarti tiket lolos ke babak kualifikasi Liga Champions.
”Laga Sabtu ini bakal lebih sulit daripada saat menghadapi MU (di semifinal),” kata Mancini, seperti dikutip BBC Sport.
”Stoke adalah tim kuat dan sangat sulit. Berpikir bahwa mereka tim mudah adalah kesalahan. Jika ingin menang, kami harus tampil sangat baik dan berkonsentrasi di setiap situasi. Kami tidak boleh lengah,” ujarnya.
Untuk mengukir sejarah itu, City belum bisa dipastikan bakal diperkuat striker Carlos Tevez, yang belum lama pulih dari cedera hamstring. Striker Argentina itu masih akan dilihat hingga Sabtu pagi ini sebelum diputuskan masuk tim atau tidak.
Saat City menundukkan Tottenham, 1-0, Selasa lalu, Tevez tampil sebagai cadangan sejak menit ke-83. ”Kami telah membuktikan kami bisa melakukannya tanpa (Carlos) Tevez, yang sangat penting bagi kami. Edin Dzeko dan Mario Balotelli pulih (pada penampilan aslinya),” ujar Yaya Toure, gelandang City.
Mancini memastikan gelandang Gareth Barry dapat dimainkan. Satu hal yang harus diwaspadai Mancini, Stoke kini dalam kondisi bagus. Mereka merebut tiket final Piala FA setelah menggilas Bolton Wanderers, 5-0, di semifinal. Akhir pekan lalu, mereka menyikat Arsenal, 3-1, di Liga Inggris.
Bagi Pelatih Stoke Tony Pulis, duel final kali ini merupakan kesempatan balas dendam atas kenangan pahit pada final play-off Divisi II tahun 1999. Saat itu, tim Gillingham polesan dia memimpin 2-0 sebelum akhirnya kalah karena adu penalti.
”Laga melawan City mengandung banyak arti,” kata Pulis, ”Saat itu (final play-off Divisi II tahun 1999), kami tak seharusnya kalah dan sejak itu saya tak pernah kembali ke Wembley karena (kenangan pahit) tersebut.”
Pulis melukiskan, perbandingan secara finansial antara Stoke dan City seperti David versus Goliath. Perbandingan itu bisa saja juga menggambarkan permainan di lapangan. Stoke bakal menghadapi masalah, terkait dengan kondisi bek Robert Huth yang masih harus ditunggu kondisi terakhirnya karena cedera lutut. Gelandang Matthew Etherington juga diragukan untuk dimainkan.