16.098 Siswa Tidak Lulus UN

Kompas.com - 14/05/2011, 05:21 WIB

Jakarta, Kompas - Sebanyak 16.098 siswa di jenjang SMA/MA/SMK tidak lulus ujian nasional. Siswa yang tak lulus itu terdiri atas 11.443 siswa SMA/MA dan 4.655 siswa di SMK. Adapun peserta Ujian Nasional 2011 adalah 1.461.941 siswa SMA/MA dan 942.698 siswa SMK.

Mulai tahun ini, standar kelulusan siswa bukan ditentukan hanya dari hasil ujian nasional (UN), melainkan juga dari nilai sekolah dengan komposisi 60:40.

”Hasil UN sedang dikirim ke sekolah untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan penentuan kelulusan siswa. Kelulusan siswa tetap ditentukan satuan pendidikan karena akan dilihat dengan nilai aspek-aspek lainnya,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat (13/5).

Seluruhnya tidak lulus

Mendiknas mengatakan, provinsi dengan jumlah siswa tidak lulus terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, dari total 16.835 SMA sederajat yang mengikuti UN, masih ada lima sekolah yang seluruh siswanya tidak lulus. Jumlah siswa dari kelima sekolah tersebut 147 siswa.

Sekolah yang tingkat kelulusannya nol persen itu berada di wilayah DKI Jakarta (7 siswa), Simeuleu Aceh (26 siswa), Jambi (2 siswa), Kian Darat Maluku (48 siswa), dan Urei Fasei Papua (64 siswa).

Meski masih ada siswa yang tidak lulus, Nuh mengaku tingkat kelulusan pada tahun ini lebih baik (99,22 persen) dibandingkan tahun lalu, yakni 99,04 persen. Nuh mengingatkan siswa yang dinyatakan lulus UN masih ada kemungkinan tidak lulus sekolah karena penentu kelulusan tetap ada di tangan sekolah. Namun, siswa yang tidak lulus UN bisa dipastikan tidak akan lulus sekolah. Ini disebabkan ada salah satu nilai UN di bawah standar minimal, yakni 5,5. Jadi, meskipun penentuan kelulusan diserahkan kepada sekolah, siswa yang tidak lulus UN pun akan tetap tidak lulus sekolah.

Dari hasil perolehan nilai UN, terlihat juga banyak siswa yang masih memperoleh nilai 4, yakni sebanyak 57,58 persen.

Tidak ikut

Dari total peserta UN, terdapat 9.517 siswa yang tidak memasukkan nilai sekolah tetapi tetap mengikuti UN dan 5.117 siswa yang tidak mengikuti UN karena berbagai alasan, seperti drop out atau sudah bekerja. Nuh mengingatkan bagi siswa yang tidak memasukkan nilai sekolah, maka ia akan kehilangan porsi 40 persen dari komposisi nilai kelulusan dan yang paling bertanggung jawab adalah pihak sekolah.

Nuh menyayangkan masih adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswanya. Padahal, hal ini akan mengganggu proses pemetaan kondisi pendidikan. Selain menilai hasil belajar siswa, UN juga akan digunakan untuk memetakan kondisi sekolah sehingga bisa dilakukan upaya-upaya perbaikan.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan Aman Wirakartakusumah menambahkan, kebijakan untuk menggunakan hasil UN untuk masuk ke perguruan tinggi adalah tepat.

”Kami akan mencoba meyakinkan para rektor perguruan tinggi negeri bahwa dengan nilai UN yang dicapai, siswa bisa langsung diterima di perguruan tinggi,” ujarnya. (LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau