Perayaan waisak

Hari Ini Pengambilan Air di Umbul Jumprit

Kompas.com - 14/05/2011, 11:07 WIB

TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Rangkaian perayaan Waisak sudah dimulai dengan pengambilan air dari sumber abadi di Umbul Jumprit, Tegalrejo, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Diperkirakan pukul 10.30 WIB pengambilan sudah dilakukan.

Saat berita dibuat, para perwakilan biksu dari berbagai sangha sudah berdatangan. Warga sekitar juga sudah mulai berdatangan, membawa jeriken untuk ikut mengambil air.

Air dari Umbul Jumprit akan disucikan di altar dan kemudian akan dibawa masing-masing sangha dari berbagai aliran.

kawasan Umbul Jumprit berada di lereng Gunung Sindoro, di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo dengan ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut (dpl), berjarak sekitar 26 kilometer dari kota Temanggung arah barat laut.

Kawasan Jumprit berada di jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, maupun Yogyakarta.

Mata air Jumprit tidak pernah kering meskipun saat kemarau panjang. Airnya cukup dingin walaupun pada siang hari dan jernih karena berasal dari sumber air pegunungan. Umbul Jumprit merupakan sumber mata air Sungai Progo.

Umbul Jumprit merupakan tempat yang disucikan umat Buddha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul tersebut. Biasanya pengambilan air suci dilakukan tiga hari sebelum perayaan Waisak.

Pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon banyak peziarah yang bermeditasi dan mandi kungkum di umbul tersebut. Air umbul Jumprit dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, enteng rezeki, dekat jodoh, dan sarana membuang sial.

Di sekitar Umbul Jumprit wisatawan dapat menikmati wanawisata dengan udara segar dan keindahan pemandangan saat matahari terbit. Wanawisata Jumprit merupakan salah satu objek wisata yang eksotis di Temanggung. Tempat ini bukan sekadar menawarkan wisata hutan pinus saja, tapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah.

Perjalanan menuju Jumprit wisatawan dapat menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran. Wisatawan dapat bermalam di kawasan Jumprit di wisma Perhutani atau mendirikan tenda di bumi perkemahan.

Wisatawan bisa menikmati kicauan burung yang saling bersautan di alam bebas dan dapat bertemu dengan sekawanan kera liar sekitar 25-30 ekor. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.

Keberadaan Umbul Jumprit semula hanya diketahui oleh kalangan tertentu, namun sejak awal 1980 mulai ramai pengunjung, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit.

Pada 18 Januari 1987, Pemkab Temanggung menetapkan Jumprit sebagai kawasan wanawisata. Nama Jumprit disebut dalam Serat Centini, terutama terkait dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau