Ekspedisi citarum 2011

Eretan Iringi Nafas Kehidupan di Citarum

Kompas.com - 15/05/2011, 06:38 WIB

PADA masa kejayaan kerajaan di Nusantara, perahu penyeberangan atau eretan adalah sarana transportasi utama di Citarum. Kerajaan Tarumanagara, Galuh, dan Sunda menjadikan perahu sebagai sarana angkutan pasukan perang, hingga perdagangan dan jasa. Pada masa kini, sekalipun keberadaannya semakin tersisihkan di tengah banalnya transportasi darat, eretan masih berperan dan mengiringi nafas kehidupan warga di sekitar Citarum.

Bagi Anip Setiawan (50), bandar ikan dari Kecamatan Jayasakti, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, misalnya, eretan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Eretan membuat perjalanan Karawang-Bekasi yang berjarak sekitar 100 kilometer (km) melalui jalur darat, bisa ditempuh tidak lebih dari 10 menit. Ongkos sekali perjalanan Rp 1.000 per orang.

Ditemui akhir Maret 2011 lalu, muka Anip berkerut dan sesekali melirik jam tangan digital di tangan kirinya. Sudah setengah jam ia menunggu pengiriman bibit ikan cecere dari Pasar Kedawung di Pakisjaya, Kabupaten Karawang. Ia menghitung pengiriman bibit ikan itu masih menyisakan dua dari enam paket ikan yang masing-masing beratnya 35 kilogram (kg). Ikan itu dijual Rp 2.000 per kg.

Raut wajahnya seketika berubah, saat Firman (35), anak buahnya, datang menggunakan sepeda motor membawa paket yang ditunggu. Ia melaporkan bahwa semua paket siap dikirim. "Sori bos, tadi eretan penuh jadi harus mengantre dulu. Tapi sekarang sudah selesai," jawab Firman lega.

Komar (45), pedagang kelontong di Bekasi, juga amat bergantung pada eretan. Ia urung berbelanja ke Pasar Kedawung di Pakisjaya bila eretan tidak berjalan. Padahal, Pasar Kedawung, adalah tempat paling lengkap dan murah yang bisa dijangkau untuk mendapatkan beragam barang.

"Ada pasar Senin dan Rabu yang bisa saya tempuh dengan jalan darat. Tetapi biasanya harga barangnya lebih mahal sekitar Rp 1.000-Rp 2.000. Selain itu barangnya juga tidak variatif," katanya.

Warga di hilir Citarum, terutama yang tinggal di Pakisjaya, Karawang, dan Jayasakti, Bekasi, masih bergantung pada eretan untuk penyeberangan antardaerah. Di sepanjang sungai dari Pakisjaya hingga Muaragembong, banyak ditemui tambangan atau tempat penyeberangan eretan.

Besar kecilnya tambangan itu tergantung pada jasa eretan yang mereka berikan. Ada eretan yang hanya melayani penyeberangan orang dan sepeda motor, tetapi ada juga yang menyeberangkan mobil. Oleh karenanya, bentuk eretan berbeda-beda, tergantung muatannya.

Rata-rata, perahu kayu bermesin di Citarum berukuran 9 meter x 2 meter dengan daya tampung 15 orang. Perahu jenis ini sering kali dipakai nelayan untuk melaut ataupun angkutan umum melintasi sungai.

Bentuk perahu eretan tidak berbeda dengan perahu nelayan. Namun, dibandingkan dengan perahu biasa, ukurannya lebih besar, yakni sekitar 11 meter x 3 meter. Satu eretan bisa menampung hingga 20 orang dalam sekali perja lanan. Mereka duduk di bangku panjang pada sisi kanan-kiri perahu. Adapun bagian tengah perahu dipakai mengangkut orang bersepeda motor atau mobil. Satu eretan bisa mengangkut dua mobil.

Peralatan pendukung eretan pun sederhana, antara lain tali baja, tali tambang dan katrol. Karena tidak menggunakan mesin, perahu eretan bergantung kepada kekuatan tangan si petambang. Untuk menghindari tangan lecet akibat tali tambang, awak perahu biasanya melapisi tangan dengan kain. Dalam satu eretan biasanya ada tiga awak. Dua awak adalah petambang, yakni mereka yang bertugas menarik katrol eretan, dan satu orang lainnya mengatur masuk-keluarnya penumpang serta kendaraan dari eretan.

Saat awak perahu menarik tali tambang yang diikatkan pada katrol, perahu pun meluncur pe lan-pelan. Suara derit katrol yang bergesekan dengan tali baja kadang membuat miris, khawatir tiba-tiba perahu terlepas dari katrolnya dan oleng. Dengan 20 penumpang di bangku, dua mobil, dan lima sepeda motor, perahu eretan bergerak seperti kura-kura yang kelelahan. Kurang dari 10 menit, eretan yang berangkat dari sisi sungai di daerah Karawang, kini sampai di sisi sungai lainnya yang termasuk Bekasi.

Salah seorang petambang Karno (45), warga Pakisjaya, mengatakan tidak mengetahui kapan pertama kali eretan ini berjalan. Saat menjadi penarik eretan tiga tahun lalu, eretan sudah ada di daerah itu.

Budaya sungai

Sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Nina Herlina Lubis, menuturkan, eretan atau perahu adalah bagian dari budaya sungai. Peranan penting perahu tercatat sejak awal abad ke-5. Saat itu di Jabar berkembang sebuah kerajaan besar bernama Tarumanagara yang lokasinya strategis, yakni di daerah antara Sungai Cisadane, Cidanghiang, di Banten, dan Citarum.

"Karena posisinya terletak di antara dua sungai besar, keadaan itu memberikan keuntungan di bidang pertanian. Kondisi ini juga membuat Tarumanagara berkembang di bidang teknologi, seni, agama dan perdagangan," ujar Nina.

Yoseph Iskandar dalam bukunya Sejarah Jawa Barat (1997), mencatat bahwa Raja Tarumanagara yang bernama Purnawarman amat memerhatikan kondisi sungai. Ribuan penduduk dikerahkan siang dan malam untuk membersihkan sungai. Sebagai wujud syukur atas sungai, Purnawarman memberikan hadiah dan menggelar upacara selamatan. Kepada para brahmana dan pemuka daerah, raja menghadiahi 1.000 ekor sapi, kerbau, kuda, dan perhiasan emas dan perak.

Para petani menjadi senang hatinya karena ladang menjadi subur dengan mendapat pengairan yang lancar dari sungai-sungai di Tarumanagara. Kawasan itu juga tidak menderita kekeringan saat kemarau.

Sungai juga menjadi benteng pertahanan negara. Tarumanagara memiliki pelabuhan yang ramai oleh kapal-kapal perang. Selama masa pemerintahannya, Purnawarman menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di Jabar. Melalui sungai dan laut, kerajaan ini juga menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan tetangga, seperti Bakulapura (Kutai) di Kalimantan.

Namun, kebesaran sungai dan kapal-kapal digdaya yang berlayar melintasinya kini tinggallah sejarah. Di daerah yang dulunya adalah wilayah Tarumanagara, yakni Bekasi dan Karawang, sisa-sisa kejayaan budaya sungai hanyalah eretan.

Mata pencaharian

Alat penyeberangan itu menjadi mata pencaharian utama para petambang. Karno yang bekerja bersama Iman (30), mengatakan eretan belum memberikan pendapatan memadai. Paling banyak ia mengumpulkan Rp 200.000 per hari dengan jam kerja dari 04.30 17.00. Setelah itu dilanjutkan petambang lainnya yang bekerja dari pukul 17.00-04.30.

Untuk setiap rupiah hasil sehari, Karno harus memb aginya dengan pemilik perahu dengan perbandingan 3:1. Jika Karno dan Iman mendapatkan Rp 200.000, uang yang mereka terima Rp 33.300 per orang per hari. Dikurangi biaya makan Rp 10.000 per hari, paling banyak keduanya membawa pulang Rp 23.300 per hari. Uang itu saya gunakan untuk biaya makan istri dan dua orang anak saya, kata Karno.

Hambali (33), petambang lainnya mengatakan, banyaknya eretan juga menimbulkan persaingan ketat. Sepanjang Pakisjaya-Muaragembong diperkirakan ada lebih dari 30 tempat penyeberangan eretan.

Para petambang itu pun tak selalu mendapatkan uang. Iman, misalnya, sering kali tidak membawa uang sepeser pun saat musim hujan. Hujan lebat membuat arus Citarum menjadi lebih besar dan sulit dilewati. Pemerintah Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi mengeluarkan larangan eretan untuk beroperasi bila arus membesar atau Citarum meluap.

Sepanjang 2010, petambang sering tidak memperoleh hasil karena arus Citarum yang deras membuat mereka tidak bisa beroperasi. Pendapatan minimal Rp 23.000 pu n tak terjangkau.

Seperti nasib sungai yang kian keruh, penghidupan para petambang itu pun tak kalah kelam. Mereka terombang-ambing di antara karamnya budaya sungai dan kehidupan di darat yang minim kesempatan... (RINI KUSTIASIH/CORNELIUS HELMY H)

   

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau