Penyakit hewan

Kasus Flu Burung Kembali Merebak

Kompas.com - 16/05/2011, 03:49 WIB

KONAWE, KOMPAS - Kasus flu burung kembali merebak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Sepanjang April, terdata 832 unggas mati akibat penyakit berbahaya itu, yang tersebar di empat kecamatan. Pemerintah daerah setempat meminta bantuan pemerintah pusat untuk penanggulangannya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Konawe Erman Asnawi mengatakan, jumlah kasus flu burung pada April itu melonjak dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya mencapai puluhan kasus. ”Untuk bulan ini, kami perkirakan jumlahnya akan lebih tinggi lagi,” kata Erman, Sabtu (14/5).

Dikatakan, melonjaknya kasus flu burung dimungkinkan akibat cuaca peralihan musim yang ideal bagi perkembangbiakan virus. Selain itu, lalu lintas ternak yang sulit dikendalikan juga membuat unggas di Konawe rentan terserang virus flu burung dari daerah lain.

”Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan virus flu burung yang menulari manusia,” kata Erman. Kabupaten Konawe merupakan salah satu daerah endemik flu burung di Sultra sejak kasus itu pertama kali merebak pada 2008.

Sebagai langkah antisipasi dan penanggulangan, Dinas Pertanian Konawe telah melakukan penyemprotan di wilayah-wilayah yang terjangkit flu burung, yakni Kecamatan Pondidaha, Unaaha, Anggaberi, dan Wonggeduku. ”Kami juga mengimbau kepada pemilik unggas untuk menjaga lalu lintas ternak,” ujar Erman.

Namun, penanganan komprehensif terhadap masalah itu terkendala akibat minimnya kemampuan keuangan daerah. Di antaranya dana kompensasi bagi peternak yang unggasnya dimusnahkan, serta alat rapid test untuk keperluan uji virus itu saat pemeriksaan di lapangan.

Erman mengatakan, pihaknya telah melaporkan lonjakan kasus flu burung kepada Kementerian Pertanian guna memperoleh bantuan penanggulangan. ”Namun hingga sekarang belum ada bantuan,” ujarnya.

Ketua DPRD Sultra Rusman Emba, meminta segera dilakukan koordinasi dengan dinas terkait di tingkat provinsi untuk mengantisipasi penyebaran flu burung ke wilayah lain di Sultra. ”Masalah ini serius karena peternakan unggas menjadi sandaran ekonomi banyak warga di Sultra,” kata Rusman.

Terkait anggaran, Rusman menyatakan, ada dana yang bisa digunakan seperti pos bencana. ”Dalam APBD perubahan bisa dimasukkan,” katanya. (ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau