Cuti Bersama, "3 in 1" Tak Berlaku

Kompas.com - 16/05/2011, 03:57 WIB

Jakarta, Kompas - Jalan arteri di Jakarta dibebaskan dari sistem 3 in 1 selama cuti bersama PNS berlangsung, Senin (16/5) dan Selasa. Dengan adanya cuti bersama itu, diperkirakan arus lalu lintas dalam Kota Jakarta lancar, selain hari Selasa merupakan hari libur nasional merayakan Waisak.

Demikian disampaikan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa, Minggu.

Arus lalu lintas dalam Kota Jakarta selama hari Minggu juga relatif lancar. Ruas Jalan Cilincing sampai Serpong pun cukup lancar meski pada hari biasa selalu dipadati arus truk yang sementara ini tak diperbolehkan masuk ke tol dalam kota pada pagi hingga malam hari. ”Bahkan, di sepanjang jalan ini tidak ada antrean, sangat lancar,” kata Royke.

Sebaliknya, kepadatan arus kendaraan dijumpai di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Puncak padat

Hasil pemantauan Kompas di lapangan, arus kendaraan yang menuju Kawasan Wisata Puncak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus bertambah, Minggu (15/5). Kendaraan hanya bisa melaju perlahan di beberapa simpul kemacetan. Volume kendaraan di Puncak diperkirakan akan terus bertambah hingga Senin.

Titik kemacetan terpantau berada di Cipayung (Kecamatan Megamendung), serta di sekitar Taman Wisata Matahari di Cisarua pada Minggu pagi hingga siang. Kendaraan yang melaju dari arah pertigaan Gadog menuju Puncak terhambat karena beberapa bus masuk dan keluar dari lokasi parkir atau karena ada pengunjung yang menyeberang jalan di Taman Wisata Matahari. Sementara itu di Cipayung arus kendaraan bertemu dengan lalu lintas warga setempat.

Satuan Lalu Lintas Polres Bogor masih memberlakukan sistem arus searah seperti akhir pekan biasa, yakni satu arah menuju Puncak pada pukul 09.00-11.30, serta searah turun ke Gadog pada pukul 15.00 hingga 17.30.

Kendaraan yang hendak naik saat pemberlakuan searah dari Puncak ke Gadog ditahan di pertigaan Gadog, sedangkan saat searah naik kendaraan dari Puncak ditahan di Desa Tugu Selatan, Cisarua, serta di Gunung Mas.

”Jumlah kendaraan yang lewat hari Minggu ini lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena libur lebih panjang. Kami warga di sini lebih memilih enggak keluar rumah kalau enggak benar-benar terpaksa. Daripada kena macet,” tutur Itang (49), warga Cipayung, Megamendung.

Puncak kemacetan Senin

Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor Ajun Komisaris Zainal Abidin, volume kendaraan diperkirakan naik hampir 50 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Data Gerbang Tol Jagorawi di Ciawi menunjukkan, mobil menuju Gadog dari arah Jakarta pada pukul 06.00-14.00 mencapai 11.854 unit, sedikit turun dibanding sehari sebelumnya, 13.531 unit.

”Kami perkirakan puncaknya Senin karena masih ada pengunjung yang naik ke Puncak,” ujar Zainal Abidin.

Pihaknya tetap akan memberlakukan buka-tutup arus maupun menerapkan arus searah sesuai situasi yang berkembang. Sementara untuk Selasa akan diprioritaskan untuk kendaraan yang turun searah dari Puncak.

Zainal juga menganjurkan pengendara untuk tetap mengutamakan jalur utama ketimbang jalan alternatif karena selain berbelok-belok juga bisa berpotensi memperparah kemacetan.

Hasil pemantauan, sebagian warga Jakarta juga banyak yang memilih liburan akhir pekan dengan berbelanja dan mengunjungi kawasan wisata seperti Ancol, Jakarta Utara.

Humas Taman Impian Jaya Ancol Sofia Cakti memprediksi, hingga Selasa esok pengunjung Ancol bisa mencapai 177.000 orang. (GAL/MDN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau