Kelulusan un

Peraih UN Tertinggi Terancam Tak Kuliah

Kompas.com - 16/05/2011, 20:02 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Faktor biaya menjadi kendala utama bagi Chantika Padmadewi (18), siswi SMKN 8 Kota Malang, Jawa Timur, peraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi tingkat SMK di Jawa Timur, untuk melanjutkan studi ke bangku kuliah. Ditemui di SMKN 8, Kota Malang, Senin (16/5/2011), seusai mengikuti pengumuman kelulusan, Chantika mengaku dirinya belum tentu bisa melanjutkan ke bangku kuliah.

"Saya belum tentu melanjutkan kuliah karena keluarga saya tak ada biaya, katanya," ucap Chantika.

Chantika mengaku, sebenarnya dirinya ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.

"Saya sebenarnya ingin melanjutkan ke Politeknik Negeri Malang, mau ambil jurusan Teknik Informatika. Tapi tidak tahu, apa ada biaya," kata anak dari pasangan Jonjang Himawan dan Tutik Arumi ini.

Di SMKN 8 Kota Malang, Chantika adalah siswi jurusan Teknik Komputer Jaringan. "Saya masih bingung antara melanjutkan kuliah atau bekerja untuk membantu keluarga," ujarnya.

Saat ini Chantika sudah mendaftar di Politeknik Jurusan Teknik Informatika melalui jalur PMDK dan masih dalam tahap seleksi.

"Semoga saja bisa kuliah dengan nilai yang saya peroleh itu," harapnya.

Sementara itu, menanggapi keinginan anaknya tersebut, Jonjang Himawan, ayah Chantika, saat dihubungi via telepon mengaku akan berusaha semaksimal mungkin agar anaknya bisa melanjutkan studi.

"Karena saya harus mempersiapkan biaya senilai Rp 10 juta untuk biaya daftar ulang. Kalau demikian, berarti saya harus mempersiapkan biaya sebesar Rp 20 juta. Karena harus menguliahkan dua anak saya yang sama-sama lulus tahun ini," akunya.

Chantika Padmadewi adalah saudara dari Ayunda Prima Dewi, dari pasangan Jonjang Himawan dan Tutik Arumi.

"Jadi, kalau ada biaya, keduanya saya kuliahkan. Kalau tidak ada biaya, ya, terpaksa keduanya langsung cari kerja membantu kami," kata Jonjang.

Jonjang juga berharap Pemerintah Kota Malang dapat mengapresiasi prestasi putrinya tersebut dengan ikut membantu meringankan biaya masuk kuliah Chantika. Jonjang saat ini bekerja sebagai tenaga administrasi di Rumah Sakit Jiwa dr Radjiman Widyadiningrat, Lawang, Malang.

"Sebenarnya uang Rp 10 juta saja bagi kami sudah cukup berat. Kami juga merasa keberatan dengan biaya kuliah di Politeknik Negeri Malang itu. Tapi, itu hak kampus. Semoga saja Chantika bisa kuliah dan ada biaya," katanya.

Di tempat yang berbeda, Kepala Urusan Humas SMKN 8 Kota Malang Trisno Budi mengatakan, pihak SMKN 8 juga akan membicarakan hal tersebut dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Malang.

"Siapa tahu ada penghargaan atas prestasi Chantika itu," ujarnya.

"Yang jelas, pihak sekolah akan mengusahakan agar Chantika bisa mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliahnya nanti. Prestasi Chantika meraih nilai UN tertinggi se-Jatim untuk SMKN itu adalah prestasi luar biasa," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau