Ri-korsel

Tujuh MoU Ekonomi Ditandatangani

Kompas.com - 18/05/2011, 08:11 WIB

BALI, KOMPAS.com  - Sebanyak tujuh Nota Kesepahaman atau MoU akan ditandatangani oleh delegasi Korea Selatan dan Indonesia terkait dengan pembicaraan lanjutan Joint Task Force antar kedua negara di bidang hubungan ekonomi. Dengan penandatangan MoU tersebut maka realisasi investasi Korea Selatan di I ndonesia semakin mendekati kenyataan.  

Pembicaraan tersebut akan digelar di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali pada 18-19 Mei 2011, demikian dinyatakan Kepala Biro Persidangan dan Humas, Kementerian Koordinator Perekonomian, Iga Mai Sukariyanti dalam suratnya yang diberikan kepada media massa Nusa Dua, Bali, Rabu (18/5/2011).

Catatan program yang dipublikasikan Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan bahwa dari pihak Indonesia akan hadir Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wiryawan, dan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Suryo Bambang Sulisto. Adapun dari Korea Selatan akan dihadiri Menteri Ilmu Pengetahuan dan Perekonomian Korea Sel atan, Choi Joong-Kyung.

Pembicaraan ini akan dilanjutkan dengan pembahasan tingkat teknis yang dilakukan dalam tujuh Kelompok Kerja (Working Groups). Ketujuh Working Groups itu adalah pertama, Kelompok Kerja Perdagangan dan Investasi. Kedua, Kelompok Kerja Kehutanan, Pertanian, dan Perikanan. Ketiga, Kelompok Kerja Energi dan Sumber Daya Mineral.

Keempat, Kelompok Kerja Infrastruktur dan Konstruksi. Kelima, Kelompok Kerja Industri Pertahanan. Keenam, Kelompok Kerja Kerjasama Industri. Ketujuh, Dukungan Kebijakan dan Pengembangan Pembiayaan.

Pembicaraan kedua negara ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Hatta Rajasa ke Seoul dan Busan, Korea Selatan pada 17 Februari 2011 lalu sebagai utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Hatta menyampaikan surat khusus Presiden kepada Presiden Korea Selatan, Lee Myun Bak di Blue House atau Istana Kepresidenan. Isi surat ini mengingatkan Presiden Lee tentang kesepakatan antara kedua negara di Bali beberapa saat sebelumnya terkait janji dukungan Korea Selatan terhadap beragam proyek infrastruktur di Indonesia.

Hatta Rajasa mengatakan , Indonesia berharap banyak pada tiga negara besar di Asia, yakni Jepang, Korea Selatan, dan China untuk berperan paling aktif dalam mewujudkan Visi Pembangunan Ekonomi 2025, payung dari Enam Koridor Ekonomi di Indonesia . Ketiga negara tersebut diajak untuk mendorong investasi pada proyek-proyek senilai Rp 36.000 triliun yang antara lain ditawarkan melalui program enam koridor ekonomi Indonesia.      

"Nilai investasi yang diharapkan dari Korea Selatan sekitar 15 miliar dollar AS. Yang belum itu China. Saya ingin China juga investasi dong. Jangan cuma trading (berdagang ). Adapun Korea Selatan itu kan sudah pasti ada Posco (perusahaan produsen baja) senilai enam miliar dollar AS," ujar Hatta.

Saat itu, ikut serta dalam penyerahan surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Menteri Perindustrian MS Hidayat, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, dan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung , dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau