Ngampar Bide, Upacara Jelang Gawai Dayak

Kompas.com - 19/05/2011, 00:28 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com--Panitia Pekan Gawai Dayak XXVI Kalimantan Barat, Rabu, menggelar upacara "Ngampar Bide" sebagai ritual sebelum pembukaan supaya mendapatkan kemudahan dari sang pencipta untuk melaksanakan acara tahunan tersebut yang akan dimulai pada 20 Mei.

"Ritual ’ngampar bide’ artinya ’bepinta’ (meminta), ’bepadah’ (memberitahu) kepada Jubata atau Tuhan supaya kegiatan kita mendapatkan kemudahan dan kelancaran," kata Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak Kalbar XXVI, Herculanus Didi di Rumah Betang Panjang, Jl Sutoyo, Pontianak.

Ia mengatakan, "Ngampar Bide" selalu dilaksanakan setiap akan memulai "Gawe" atau Gawai (pesta).

Ritual tersebut merupakan khas Suku Dayak Kanayatn yang mendiami sebagian wilayah di Kalbar. "Ngampar" yang berarti menggelar atau menghamparkan, sementara "Bide" mengandung pengertian sebagai tikar atau tempat untuk berserah.

Pelaksanaan "ngampar bide" berlangsung hari ini pada pagi tadi dan menjelang siang. Merupakan satu rangkaian ritual yang diharapkan Tuhan merestui kegiatan yang akan dilaksanakan selama sepekan ke depan.

Menurut Didi, pada "ngampar bide" kali ini, dipimpin oleh seorang imam atau seorang pemimpin doa, bernama Kasan. Acara tersebut dihadiri para "timanggung" adat Kota Pontianak, para Ketua Sanggar Seni Dayak dan panitia. Acara tersebut juga dihadiri Pengurus Harian Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis.

Sejumlah sesajian, di antaranya potongan daging ayam, babi, telur ayam, dan beberapa hidangan lainnya. Bahan-bahan tersebut diletakkan dalam tampah dan bakul yang terbuat dari kulit kayu. Pemimpin upacara membacakan doa keselamatan menggunakan Bahasa Dayak sambil memegang rangkaian daun-daunan.

Upacara tersebut berlangsung di halaman Rumah Betang, berlanjut di ruang upacara dalam rumah Betang dan di tempat sesajian yang terdapat patung manusia dari bahan kayu yang berada di samping kanan bangunan rumah panjang tersebut. "Upacara ini harus digelar sebelum memulai Gawai (pesta)," kata Didi lagi.

Sementara berkaitan dengan Pekan Gawai Dayak Kalbar yang akan dibuka pada Jumat (20/5), sejumlah acara telah disiapkan panitia, di antaranya Upacara Adat Baliant yang akan diadakan pada malam sebelum pembukaan atau Kamis (19/5) malam.

Kemudian pameran, pawai adat, dan sejumlah lomba di antaranya pemilihan bujang dan dara Dayak, menyumpit, melukis perisai, memahat patung, mendongeng, menganyam bakul, tari-tarian kreasi Dayak, menganyam manik, menumbuk dan menampik, membuat kue tradisional, dan parade busana anak.

Menurut Didi, Gawai Dayak diadakan untuk melestarikan budaya khas SukuDayak yang ada di Kalbar. "Ini program Gubernur kita (Cornelis), diharapkan berjalan lancar dan dikunjungi banyak orang, bukan hanya warga Dayak," katanya.

Dia mengatakan, target dari kegiatan tersebut, peningkatan dan pengembangan pelestarian kebudayaan. Panitia berupaya menampilkan kegiatan yang pada tahun sebelumnya tidak ada menjadi ada.

"Misalnya menganyam bakul. Pada tahun lalu tidak ada dan tahun ini kita selenggarakan. Ini permintaan  gubernur supaya tidak punah," katanya lagi.

Peserta menganyam bakul dapat menggunakan bahan-bahan seperti kulit kayu pilihan bernama kayu tarap, rotan dan daun bengkuang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau