Suriah

Presiden Akui Aparat Keamanan Buat Kesalahan

Kompas.com - 19/05/2011, 02:59 WIB

Damaskus, Rabu - Presiden Suriah Bashar al-Assad mengakui, pasukan keamanan negara telah melakukan kesalahan ketika menghadapi aksi protes melawan rezimnya. Al Assad menyalahkan polisi yang kurang terlatih sebagai biang kerok tindakan kekerasan yang telah menewaskan lebih dari 850 orang dalam dua bulan terakhir ini.

Komentar Al Assad dimuat harian Al Watan, Rabu (18/5), menandai pengakuan langka tentang kelemahan badan-badan keamanan Suriah. Kata Al Assad, ribuan polisi yang ikut dalam upaya meredam aksi protes massa itu baru saja selesai mengikuti pelatihan. Sementara itu, aksi massa juga terus terjadi dan tidak ada tanda-tanda akan menyurut.

Hari Rabu, seorang aktivis hak asasi manusia mengatakan, pasukan Suriah telah menggunakan senapan mesin dalam menyerang permukiman di pusat kota Homs. Aksi unjuk rasa menuntut diakhirinya rezim Al Assad masih terjadi di kota ini.

Oposisi juga menyerukan aksi mogok massal nasional untuk memprotes rezim Al Assad, tetapi tampaknya seruan itu diabaikan publik. Sekolah, toko, dan pusat bisnis tetap buka di Damaskus, ibu kota negara, dan kota-kota lain di Suriah, seperti di kota terbesar kedua, Aleppo.

Imbauan mogok massal merupakan satu strategi baru para aktivis prodemokrasi untuk menghadapi tindakan keras pihak berwenang Suriah terhadap protes-protes menentang pemerintahan Al Assad. Revolusi 2011 Suriah, satu situs internet kelompok oposisi, menyerukan aksi mogok dengan harapan bisa menekan lagi rezim Al Assad.

”Siapa berani mogok dan mau kehilangan peluang bisnis mereka atau jadi sasaran pihak berwenang?” kata seorang pedagang di Damaskus yang minta namanya dirahasiakan.

”Semuanya (tempat kerja) buka,” kata seorang warga Homs, yang telah melihat aksi protes setiap hari dalam pekan-pekan terakhir ini.

Dua aktivis kepada AFP menuturkan, meski seruan mogok massal diabaikan publik, unjuk rasa akan dilakukan pada petang hari di beberapa daerah di utara dan daerah lainnya. Sekitar 850 orang, termasuk kaum wanita dan anak-anak, tewas dalam demonstrasi antirezim dan aksi kekerasan. Selain itu, 8.000 orang ditahan, kata data kelompok hak asasi manusia dan PBB.

Sementara itu, aksi unjuk rasa menentang rezim Al Assad juga terus berlanjut di Tel Kelakh, kota perbatasan Suriah. Unjuk rasa di sini sudah memasuki hari keempat, Rabu. Tank-tank militer bersiaga di berbagai sudut kota, meningkatkan tekanan terhadap aksi protes massa meski Barat terus menekan rezim untuk menghentikan kekerasan.

Aparat Suriah juga telah menangkap tokoh penting oposisi, Anaz al-Shughri, di kota Banias.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau