PLN Impor Gas

Kompas.com - 19/05/2011, 03:29 WIB

Jakarta, Kompas - PT Perusahaan Listrik Negara berencana mengimpor gas untuk mengatasi kekurangan pasokan gas sehingga biaya operasi pembangkit listrik bisa ditekan. Hal ini disebabkan perseroan itu tidak mendapat kepastian mengenai pasokan gas dari dalam negeri sehingga terpaksa memakai bahan bakar minyak.

Menurut Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (18/5) di Jakarta, pemakaian BBM untuk mengoperasikan pembangkit listrik mengakibatkan biaya produksi listrik menjadi tinggi.

Namun, menurut Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji, ketidakpastian untuk memperoleh gas bagi PLN sangat tinggi. Saat ini perseroan itu kekurangan gas sekitar 1.000 juta kaki kubik per hari, di antaranya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Tawar dan PLTGU Tambak Lorok.

Jika fasilitas penampung dan regasifikasi gas alam cair terapung (FSRU) selesai dibangun, kemampuannya baru 400 juta kaki kubik (mmscfd). Hal itu pun sampai saat ini komitmen gas baru 50 persen dari total kapasitas. ”Kami melihat, prospek ke depan tidak ada komitmen gas yang pasti. Bila tidak ada pilihan lain, kami akan mengimpor gas,” katanya.

Dahlan menambahkan, PLN menjajaki kemungkinan mengimpor gas alam cair (LNG) dari Iran dan beberapa negara lain, seperti Australia dan Qatar. Pihak PLN telah menjajaki impor dari Iran dengan volume impor mencapai 750 mmscfd. Produsen LNG dari Iran menyanggupi mengirim LNG ke Indonesia pada 2013. Saat ini Iran sedang membangun terminal LNG besar-besaran dengan kapasitas produksi tahap pertama 1.500 mmscfd.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, seusai pembukaan acara pameran dan konvensi Industri Migas yang diprakarsai Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA), menyatakan, sampai sekarang alokasi gas dari Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi yang terbesar masih untuk PLN dan pupuk.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menegaskan, kenaikan tarif dasar listrik haruslah adil. Bukan hanya industri, semua pelanggan listrik rumah tangga juga harus ikut dinaikkan tarifnya.

”Kami setuju tarif dinaikkan tahun depan, tetapi 35 juta pelanggan listrik berkapasitas 900 kWh ke bawah yang selama 15 tahun disubsidi juga harus dinaikkan. Mereka umumnya hanya membayar tagihan Rp 55.000 per bulan,” kata Sofjan.

Sofjan menyatakan, akibat kebijakan populis, pemerintah tidak mau menaikkan tarif listrik. Akibatnya, industri yang dibebani lagi untuk menyubsidi rumah tangga. (EVY/OSA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau