Bencana banjir

Banjir Bandang Trenggalek Mulai Surut

Kompas.com - 20/05/2011, 17:50 WIB

TRENGGALEK, KOMPAS.com - Banjir bandang yang sempat merendam sejumlah kawasan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, berangsur surut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Jumat (20/5/2011) siang, air bah yang sebelumnya sempat memutus jalan utama menuju pusat Kota Trenggalek di Kelurahan Kelutan, pada pukul 12.00 WIB telah surut.

Demikian juga dengan kondisi daerah lainnya. Namun, air terus bergerak ke sejumlah kawasan yang posisinya lebih rendah sehingga menyebabkan kepanikan warga terjadi secara berantai.

"Meski sebagian besar telah surut, beberapa pemukiman sampai saat ini masih terendam. Banjir ini biasanya akan terus bergerak ke daerah yang lebih rendah hingga mendekati muara Sungai Ngasinan ke Bendungan Niama di Kabupaten Tulungagung," kata Kabid Kebencanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Sukamto.

Ia menambahkan, genangan air sementara masih terlihat sejumlah pemukiman di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan dengan ketinggian air sekitar satu meter lebih.

Meski inventarisasi kerusakan maupun kerugian akibat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sedikitnya sembilan kecamatan di kota penghasil keripik tempe ini masih bersifat sementara, Sukamto menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Warga masih terus bahu-membahu membersihkan rumah masing-masing, yang sebelumnya sempat terendam banjir hingga ketinggian 1,5 meter lebih.

Tujuh rumah di Kecamatan Karangan, Suruh, serta Munjungan dipastikan mengalami kerusakan cukup parah. Beberapa bahkan ambruk sama sekali karena diterjang air bah setinggi dada orang dewasa.

Selain melanda pemukiman warga, banjir di Kecamatan Munjungan juga menyebabkan dua unit ruang kelas MI Karangtalun hanyut tergerus banjir.

Belum diketahui secara pasti kerugian yang ditimbulkan akibat banjir dan tanah longsor yang mulai terjadi pada Jumat dinihari pukul 00.30 WIB tersebut.

Namun jika mengacu luasnya area terdampak, kerugian materiil yang ditimbulkan diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Sebab selain menyebabkan sejumlah bangunan warga dan sarana publik hancur, sedikitnya empat jembatan terputus.

Informasi dari berbagai sumber di lapangan, hujan deras memang sempat mengguyur hampir seluruh wilayah Trenggalek sejak Kamis (19/5/2011) sore (sekitar pukul 19.00 WIB) hingga Jumat pagi.

Diduga, tingginya curah hujan menyebabkan drainese alam yang ada di kawasan pegunungan tidak mampu menyerap air secara normal. Akibatnya, aliran air yang berasal dari langit terakumulasi dalam bentuk aliran yang terus membesar dan berubah menjadi air bah.

Banjir bandang terbesar terakhir kali terjadi pada tahun 2006. Saat itu, hujan deras yang mengguyur salah satu kawasan pesisir selatan Jawa tersebut bahkan menyebabkan pusat Kota Trenggalek lumpuh total.

Selain itu, hujan yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut saat itu juga menyebabkan beberapa kawasan mengalami longsor. Sedikitnya 13 orang meninggal dan ratusan KK terpaksa diungsikan.

Banjir serupa juga sempat terjadi pada tahun 2007 tetapi dengan eskalasi lebih kecil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau