Sekolah filsafat

Keluarga Tak Izinkan Pakai Nama Gus Dur

Kompas.com - 20/05/2011, 17:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keluarga besar almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memutuskan untuk tidak memperbolehkan penggunaan nama KH Abdurrahman Walid atau Gus Dur sebagai label perguruan tinggi yang akan didirikan Mubarok Foundation. Usulan nama sekolah tinggi tersebut adalah Gus Dur School of Philosophy.

Demikian surat resmi yang dikirimkan kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (20/5/2011). Surat sebagai pernyataan sikap keluarga Gus Dur itu dikirim melalui Wahid Institute atas nama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Qotrunnada Munawwaroh Rahman, Zarnuba Arifah Chafsoh Rahman, Anita Hayatunnufus Rahman, serta Inayah Wulandari Wahid. Dalam surat itu dituliskan, pihak keluarga Gus Dur telah mendengar dan meminta penjelasan terkait rencana Mubarok Foundation untuk mendirikan Gus Dur School of Philosophy.

"Melalui surat ini kami sampaikan bahwa kami telah mendengar dan meminta penjelasan terkait rencana Mubarok Foundation mendirikan Sekolah Filsafat KH Abdurrahman Wahid (atau Gus Dur School of Philosophy) dan direncanakan diluncurkan Jumat (20/5/2011). Setelah kami menelaah secara seksama rencana tersebut, kami atas nama keluarga KH Abdurrahman Wahid memutuskan untuk tidak memperbolehkan penggunaan nama KH Abdurrahman Walid atau Gus Dur sebagai label perguruan tinggi yang akan Mubarok Foundation dirikan."

Seperti diberitakan, Jumat, dalam rangka memperingati satu abad Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sejumlah cendekiawan berkumpul untuk menggagas berdirinya sekolah tinggi filsafat Gus Dur atau Gus Dur School of Philosophy. Sekolah tinggi ini diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran dalam membangun paradigma filsafat dan kebudayaan untuk meluruskan kembali roadmap kehidupan berbangsa.

Demikian dikatakan oleh fasilitator Gus Dur School of Philosophy, Edward Soeryadjaya, Jumat di Jakarta. Peluncuran gagasan ini merupakan kegiatan untuk mengundang partisipasi pemikiran dan peran serta setiap eksponen bangsa yang terpanggil untuk meluruskan kembali roadmap kehidupan berbangsa.

"Sekolah filsafat ini didirikan dengan maksud untuk menjadi basis pengembangan kajian pemikiran, filsafat, dan kebudayaan yang berwawasan global, tetapi memiliki akar kuat pada tradisi ke-Indonesiaan," kata Achmad Mubarok, salah satu penggagasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau