JAKARTA, KOMPAS.com — Keluarga besar almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memutuskan untuk tidak memperbolehkan penggunaan nama KH Abdurrahman Walid atau Gus Dur sebagai label perguruan tinggi yang akan didirikan Mubarok Foundation. Usulan nama sekolah tinggi tersebut adalah Gus Dur School of Philosophy.
Demikian surat resmi yang dikirimkan kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (20/5/2011). Surat sebagai pernyataan sikap keluarga Gus Dur itu dikirim melalui Wahid Institute atas nama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Qotrunnada Munawwaroh Rahman, Zarnuba Arifah Chafsoh Rahman, Anita Hayatunnufus Rahman, serta Inayah Wulandari Wahid. Dalam surat itu dituliskan, pihak keluarga Gus Dur telah mendengar dan meminta penjelasan terkait rencana Mubarok Foundation untuk mendirikan Gus Dur School of Philosophy.
"Melalui surat ini kami sampaikan bahwa kami telah mendengar dan meminta penjelasan terkait rencana Mubarok Foundation mendirikan Sekolah Filsafat KH Abdurrahman Wahid (atau Gus Dur School of Philosophy) dan direncanakan diluncurkan Jumat (20/5/2011). Setelah kami menelaah secara seksama rencana tersebut, kami atas nama keluarga KH Abdurrahman Wahid memutuskan untuk tidak memperbolehkan penggunaan nama KH Abdurrahman Walid atau Gus Dur sebagai label perguruan tinggi yang akan Mubarok Foundation dirikan."
Seperti diberitakan, Jumat, dalam rangka memperingati satu abad Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sejumlah cendekiawan berkumpul untuk menggagas berdirinya sekolah tinggi filsafat Gus Dur atau Gus Dur School of Philosophy. Sekolah tinggi ini diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran dalam membangun paradigma filsafat dan kebudayaan untuk meluruskan kembali roadmap kehidupan berbangsa.
Demikian dikatakan oleh fasilitator Gus Dur School of Philosophy, Edward Soeryadjaya, Jumat di Jakarta. Peluncuran gagasan ini merupakan kegiatan untuk mengundang partisipasi pemikiran dan peran serta setiap eksponen bangsa yang terpanggil untuk meluruskan kembali roadmap kehidupan berbangsa.
"Sekolah filsafat ini didirikan dengan maksud untuk menjadi basis pengembangan kajian pemikiran, filsafat, dan kebudayaan yang berwawasan global, tetapi memiliki akar kuat pada tradisi ke-Indonesiaan," kata Achmad Mubarok, salah satu penggagasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang