Presiden: Jangan Hanya Pandai Mencerca

Kompas.com - 22/05/2011, 03:18 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak para pemuka agama untuk ikut menjadi solusi bagi persoalan bangsa. Pemuka agama dapat memainkan peran utama dalam memberikan pencerahan, pencerdasan, keteladanan, serta memberi motivasi umat agar bersikap optimistis dan berpikir positif dalam menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.

”Kita tidak boleh hanya pandai mencerca dan menyalahkan, tetapi mari kita memberikan solusi. Pemerintah dengan tulus dan dengan tangan terbuka membuka pintu dan pikiran untuk setiap saat menerima pandangan dari siapa pun, termasuk dari pemuka agama,” kata Presiden saat menghadiri Perayaan Dharmasanti Waisak Nasional 2011/2555 Buddhis Era (BE) di Arena Pekan Raya Jakarta, Sabtu malam (21/5).

Presiden menegaskan, bangsa Indonesia saat ini telah berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat serta menunjukkan tingkat kemakmuran yang makin baik. Peran bangsa kita makin penting dan diperhitungkan di forum regional dan global.

Tidak mudah

Namun, Presiden juga mengakui, persoalan bangsa yang dihadapi semakin hari makin tidak mudah. Oleh karena itu, Presiden mengajak semua komponen bangsa, mulai dari jajaran pemerintah, para pemuka agama, dan tokoh masyarakat untuk bekerja lebih keras bagi kemajuan bangsa.

”Alangkah bersyukurnya jika semua pihak menjadi bagian dari solusi, tidak justru menciptakan persoalan baru,” kata Presiden.

Pemuka agama diajak untuk mengedepankan kearifan, kewibawaan, dan kemuliaan dalam menghadapi berbagai persoalan. ”Saya sungguh berharap para tokoh agama dapat memainkan peran utama untuk memberikan pencerahan, pencerdasan, dan keteladanan. Sungguh mulia jika pemuka agama senantiasa memberikan pernyataan yang menenteramkan, mendamaikan, dan memberikan motivasi kepada umatnya untuk terus bersikap optimis dan berpikir positif, seberat apa pun tantangan dan persoalan yang dihadapi bangsa kita,” ujar Presiden, yang hadir didampingi Ny Ani Yudhoyono.

Peringatan Dharmasanti yang bertemakan ”Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian dalam Diri Sendiri” tersebut juga dihadiri Ketua MPR Taufiq Kiemas serta Wakil Presiden Boediono dan Ny Herawati.

Para menteri yang hadir antara lain Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, serta Menteri Pendidikan Nasional M Nuh.

Dalam peringatan Waisak tersebut, Presiden mengajak umat Buddha di seluruh Tanah Air untuk meneladani nilai universal dari Sidharta Gautama.

Ia mengatakan, ”Mari kita tinggalkan sikap mementingkan diri sendiri, mari kita suburkan sikap saling menghormati, dan menghargai. Mari kita ciptakan suasana kehidupan nasional yang rukun, damai, dan harmonis. Mari kita bangun semangat bekerja keras yang dilandasi sikap kekeluargaan, kegotongroyongan, dan tolong-menolong sesama warga bangsa.”

Ketua Umum Panitia Waisak Hartati Murdaya menyatakan, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) mengajak umat Buddha se-Tanah Air memanfaatkan momentum Trisuci Waisak untuk melakukan introspeksi. Umat dengan rendah hati diajak bekerja keras, berjuang melawan kebodohan, keserakahan, kemarahan, dan berbagai penyakit moral, mental, dan kejiwaan yang lemah.

Vidyaka Sabha Walubi Biksu Tadisa Paramitha, dalam pesan Waisak, menyatakan, semua orang mencari dan berusaha mendapat kebahagiaan. Namun, sayangnya tidak banyak orang yang tahu wujud kebahagiaan itu sendiri.

”Kebahagiaan yang datang dari luar bersifat semu, kebahagiaan dunia hanya ilusi. Hanya kebahagiaan hakiki yang bersumber dari diri sendiri yang tidak tergantung dari luar,” katanya.

”Kebahagiaan hakiki adalah bebas dari keterikatan doktrin, mampu mengalahkan nafsu indera, serta selalu puas di hati,” lanjutnya.

Biksu Tadisa juga mengajak umat Buddha untuk mengembangkan akal pikiran yang tenang, menciptakan kondisi pikiran yang stabil, serta mengarahkan pikiran untuk berbuat kebajikan.

Menurut Hartati, makna dari tema Waisak tahun ini tidak hanya mengajak dan mengingatkan agar umat Buddha tidak perlu stres dalam menghadapi era globalisasi yang penuh dengan gejolak, malapetaka, krisis yang sambung-menyambung, dan banyak hal yang membingungkan. Hal ini karena sumber kebahagiaan dan kedamaian itu ternyata berada dalam diri sendiri.

Peringatan Waisak ini mengingatkan segenap umat Buddha agar meneladani sikap hidup Sidharta Gautama, serta meningkatkan kerukunan dan kebersamaan dalam melakukan kebajikan sesuai ajaran Dharma Sang Buddha.

Peringatan Dharmasanti yang dimeriahkan dengan drama musikal yang mengisahkan riwayat hidup Sang Buddha Gautama tersebut sekaligus menutup rangkaian peringatan Waisak Nasional tahun ini.

Taman makam pahlawan

Rangkaian peringatan Waisak tahun ini dimulai sejak 1 Mei dengan kegiatan membersihkan taman makam pahlawan di seluruh daerah. Khususnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sekitar 1.000 umat Buddha terlibat dalam kegiatan itu.

Acara dilanjutkan dengan bakti sosial pengobatan gratis yang digelar di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 14-15 Mei 2011. Sekitar 230 dokter dan paramedis, serta didukung 450 relawan dari berbagai instansi kesehatan, turut dalam bakti sosial itu. Sedikitnya 8.088 pasien dilayani dalam pengobatan gratis tersebut.

Pada hari yang sama digelar ritual keagamaan berupa upacara puja bakti pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Temanggung, Jawa Tengah, serta pengambilan api alam abadi di Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah.

Puncak perayaan menyambut detik-detik Waisak dipusatkan di Candi Borobudur pada 17 Mei 2011. (WHY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau