Smoky Eyes untuk Tata Rias Pengantin Jawa

Kompas.com - 23/05/2011, 08:09 WIB

KOMPAS.com - Busana dan tata rias pengantin berkembang mengikuti tren mode yang diciptakan para perancang bridal maupun penata rias pengantin. Namun satu hal yang harus diingat adalah, tidak boleh meninggalkan “pakem” yang sudah disepakati secara turun-temurun.
Misalnya untuk busana pengantin Solo dan Jogja, tata rias berupa paes pada wajah pengantin wanita harus tetap dipertahankan.

Taufik, seorang pengajar make-up Bridal and Fashion Puspita Martha International Beauty School memodifikasi tata rias pengantin Jawa Solo Putri dengan mengaplikasikan Paes sebagai Eye Shadow. Paes yang berwarna hitam tersebut diaplikasikan sebagai alas eye shadow,
kemudian ditimpa dengan eye shadow warna hitam creamy agar daya tahannya lebih kuat.

“Teknik-teknik make-up yang saya praktekkan tadi mungkin masih asing bagi siswa sekolah tata rias yang hadir di sini. Tadi saya tidak menyentuh wajah model dengan tangan, jadi sangat steril. Semuanya dilakukan dengan kuas,” ungkap Taufik saat ditemui Kompas Female usai
mempraktekkan teknik tata riasnya di Gedung Smesco UKM, Jakarta, Rabu (18/5/2011) lalu.

Taufik menambahkan, ia sengaja menggunakan paes agar eye shadow pengantin lebih kuat dan tahan lama. “Kalau langsung eye shadow untuk pengantin tidak kuat, tidak ter-cover eye shadow biasa, jadi kalau pakai paes itu kesan smoky-nya nggak nanggung. (Memang) Ada orang dandan smoky eyes tapi terlalu tipis. (Tetapi) Untuk pengantin, sengaja saya buat smoky eyes yang kuat,” jelasnya.

Dalam demo tata riasnya, Taufik menggunakan foundation yang creamy dan liquid, lalu mengaplikasikan bedak tabur sebelum bedak padat, dengan pilihan warna natural untuk seluruh wajah, lalu warna gelap untuk kesan shading dan warna cerah untuk menipiskan. Alis dibuat natural dengan tidak mengubah terlalu banyak bentuk alis model. Untuk leher, Taufik melakukan permainan bedak agar warna leher tidak jauh berbeda dengan warna wajah.

Sedangkan untuk koleksi baju pengantin, dua penata busana mengeluarkan koleksi pakaian pengantin modifikasi Jawa berwarna hitam dengan tema Putu Baru Jogja, dan modifikasi Kalimantan berwarna merah dengan tema Borneo Kalimantan.

Deden Siswanto, perancang busana yang menjadi Ketua APPMI Jawa Barat, mengeluarkan busana modifikasi pengantin Jawa. Ia menggunakan bahan utama beludru hitam yang menjadi ciri khas pengantin Jawa, namun dengan kain yang dibuat lebih panjang hingga menjuntai ke lantai
seperti ekor (train) gaun pengantin internasional. Ia menggunakan teknik bordir dengan pemakaian sumbu kompor yang dicampur jip sebagai benang pengikat. Aksesori yang digunakan adalah rose burung merak. Busana pengantin ini lebih glamor sehingga cocok digunakan untuk resepsi malah hari.

Sementara itu Rudy Chandra, perancang busana yang juga menjadi anggota APPMI tahun 2000, merancang busana pengantin modifikasi Kalimantan. Ia menggunakan bahan organza pengganti manik-manik. Ia juga menambahkan bulu-bulu khas Kalimantan. Warna merah sengaja dipilih sebagai simbol gadis pemberani, dengan paduan warna gold dan hitam untuk kesan mewah.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau