Aksesori Cantik Tanpa Bling-bling

Kompas.com - 23/05/2011, 09:04 WIB

KOMPAS.com - Dalam pergelaran ASEAN Jewelry Expo 2011 lalu, tak hanya perhiasan serba bling-bling yang dipamerkan, tetapi juga berbagai perhiasan berbahan baku alternatif. Kuncinya adalah kreativitas dalam mendesain bahan yang semula ”bukan apa-apa” menjadi jauh lebih istimewa dan bernilai jual.

Salah satu butik yang memamerkan karyanya adalah Violet Gallery, dengan berbagai perhiasan batu-batuan unik yang diikat dengan kawat. Heri Rusmiyati, pemilik Violet Gallery, mengenal keterampilan kreasi perhiasan kawat ini sejak 2008. Ketika itu, Heri yang masih bekerja di sebuah organisasi internasional yang bermarkas di Jakarta, masih menjalani keterampilannya sebagai hobi. Heri sempat mengikuti kursus singkat untuk mengasah keterampilannya. Dari iseng dan coba-coba, kreasinya ternyata disukai teman-temannya. Sampai akhirnya perempuan ini merasa pekerjaan tetapnya yang menuntut full time menghambat keleluasannya berkarya.

”Saya akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan itu supaya bisa full time berkreasi,” kata Heri.

Keistimewaan kawat tembaga yang khusus digunakan untuk aneka kreasi seni ini, menurut Heri, adalah fleksibilitasnya. Kawat ini berdiameter 0,3-1,5 milimeter. Kawat tersebut dapat diaplikasikan dengan berbagai bentuk batuan atau pernik apa pun. Sebuah batu yang bentuknya tak beraturan dapat diikat dengan dijadikan liontin hanya dengan kawat tanpa bantuan lem dan solder, tanpa harus mengutak-atik batuan aslinya sama sekali. Dengan demikian, batu benar-benar bisa tampil sebagai bentuk aslinya.

”Dengan kawat, tidak dimungkinkan membuat hasil akhir perhiasan dengan desain yang salah. Karena fleksibilitasnya, desain yang salah saat pengerjaan bisa langsung diperbaiki. Sementara, jika dengan bahan perak saja, misalnya, sebuah desain yang salah terpaksa dilebur kembali,” kata Heri.

Alat bantu yang digunakan Heri untuk membuat perhiasan kawat hanya dua buah, yakni tang bulat pipih dan cutter. Dengan kedua alat itu, Heri memadukan berbagai macam batuan, seperti agate, onyx, koral, kecubung, jasper, dan rose quartz, dengan kawat yang ditekuk berbagai rupa. Batu-batu itu lantas diwujudkan menjadi berbagai perhiasan, kalung, bros, gelang, giwang, anting-anting, hingga penjepit jilbab.

Beberapa batu yang dia pakai bahkan masih berupa bongkahan dalam dengan rekahan-rekahan alami. Ketika sudah diikat dengan kawat, bongkahan batu yang ”sangar” ini mampu tampil apik dan artistik.

”Saya cenderung menyukai desain yang besar dan klasik. Kalau perhiasan dari logam mulia kan bisa didesain kecil-kecil, kalau yang seperti ini menurut saya lebih bagus kalau yang berukuran lebih besar,” tutur Heri.

Tepung beras
Lain lagi dengan Tipuk Wirasari yang mendesain berbagai perhiasan berbahan baku tepung beras. Tipuk bercerita, awal mulanya pada 2009 dia mengkreasikan perhiasan dengan bahan terigu. Namun dari berbagai percobaan—uji coba selama setahun—tepung beras dia pilih menjadi bahan utama. ”Percobaan berkali-kali untuk menemukan formula adonan tepung beras yang pas dan membuat warna keluar, enggak cemplang,” kata Tipuk.

Dari adonan tepung beras itu, Tipuk membuat berbagai macam perhiasan kalung, anting atau giwang, dan bros. Tipuk mengkhususkan diri membuat desain berbentuk kelopak-kelopak bunga, baik berukuran kecil maupun besar.

Tipuk mencontohkan pembuatannya dengan menjumput sedikit adonan tepung beras yang telah diwarnai, lalu dengan ujung-ujung jarinya dipipihkan dan dibentuk menjadi kelopak-kelopak bunga mawar. Tipuk menggunakan pewarna poster, akrilik, dan cat minyak. Setelah bentuk yang diinginkan jadi, cukup dijemur atau dioven dengan suhu rendah dalam waktu beberapa menit saja. Dengan formula dan proses pembuatan perhiasannya, meski berbahan pangan, Tipuk mengatakan bahwa tak ada masa kedaluwarsa bagi perhiasan kreasinya.

Berbagai bunga dari tepung beras itu kemudian diaplikasikan pada penampang logam berbahan tembaga atau kuningan. Jadilah perhiasan yang manis dan unik. Tipuk mengatakan, dia rencananya juga ingin mengaplikasikan bunga-bungaannya pada penampang berbahan perak untuk menambah kaya desainnya.

Ditanya apa alasan sesungguhnya penggunaan bahan tepung terigu, Tipuk mengatakan, ”Saya memang sengaja tidak menggunakan clay. Semua bahan saya upayakan adalah bahan yang mudah diperoleh, tak perlu impor. Dengan demikian, kita enggak tergantung kalau suatu saat ada masalah dalam impor. Itu alasannya kenapa pakai tepung beras,” kata Tipuk, lulusan Desain Grafis Universitas Trisakti angkatan 1987 ini.

(Sarie Febriane)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau