Cara pemecatan seperti itu tergolong menyakitkan karena termasuk yang tak lazim di Inggris, negara yang menjunjung tinggi kehormatan seseorang. Ancelotti, dalam jumpa pers terakhirnya setelah kekalahan dari Everton di Goodison Park, memperkirakan, keputusan atas dirinya baru akan disampaikan pekan depan.
”Saya sekarang liburan, tetapi saya tidak tahu berapa lama liburan itu. Kami belum mengatur pertemuan, tetapi saya rasa pada pekan depan. Sekarang musim telah berakhir, klub bisa menilai pekerjaan saya dan mereka akan mengambil keputusan. Saya harus menunggu dan melihat apa yang terjadi,” ujarnya.
Nyatanya, Abramovich dan manajemen ”The Blues” bergerak jauh lebih cepat. Tanpa ada pertemuan seperti yang disampaikan Ancelotti itu, surat pemecatan langsung dikeluarkan.
Ancelotti adalah manajer keempat yang dipecat Abramovich sejak September 2007 ketika Jose Mourinho diberhentikan. Sejak itu, Avram Grant dan Luiz Felipe Scolari juga dipecat tanpa ampun. Hanya Guus Hiddink yang terhindar dari ”pemenggalan” pemilik Chelsea itu karena dia hanya penjabat sementara dan mundur secara sukarela pada 2009.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan manajemen Chelsea disebutkan, ”Penampilan musim ini mundur dari yang diharapkan dan klub merasa waktunya sudah tepat untuk melakukan perubahan menjelang persiapan musim depan.”
Pemecatan pelatih asal Italia itu mengingatkan pada pemecatan manajer West Ham Avram Grant yang juga dilakukan segera setelah klub itu dikalahkan Wigan Athletic dan terusir dari Liga Primer Inggris.
Akan tetapi, oleh sebagian pihak, hal itu bisa dipahami karena para pemain akan segera menikmati musim liburan sehingga ada baiknya pengumuman dikeluarkan saat para pemain masih berkumpul sehingga bisa langsung menyampaikan perpisahan kepada pelatih.
Ancelotti sendiri sudah menegaskan bahwa dirinya siap menerima vonis apa pun pascatersingkirnya Chelsea dari Liga Champions, plus kegagalan mempertahankan gelar juara Liga Inggris.
Meski sejumlah pengamat sudah memperingatkan bahwa memecat Ancelotti adalah sebuah kesalahan, Abramovich yang berpikiran instan tidak memberi kesempatan lagi kepada mantan pelatih AC Milan itu untuk membangun kembali Chelsea dan para pemainnya.
Ancelotti, kelahiran Reggiolo, Italia, 10 Juni 1959, adalah salah seorang pemain sekaligus pelatih yang sukses.
Sebagai pemain, dia adalah pemain tengah andalan AS Roma yang memenangi Kejuaraan Italia pada 1983, Coppa Italia empat kali, dan membawa klubnya mencapai final Kejuaraan Eropa pada 1984. Dia kemudian bermain untuk AC Milan dan menjadi bagian dari pasukan Milan yang memenangi Piala Kejuaraan Eropa pada 1989 dan 1990.
Sebagai pelatih, Ancelotti mengawali karier barunya ini di Reggiana pada 1995. Setahun kemudian, dia pindah ke Parma yang dibinanya selama dua tahun dan pada 1998 pindah ke Juventus menggantikan Mancello Lippi.
Puncak kariernya sebagai manajer terlihat di AC Milan yang dibinanya sejak 2001. Bersama AC Milan, dia dua kali memenangi Piala Champions.
Di Chelsea, tahun pertama masa kepelatihan Ancelotti juga tidak buruk. Dia langsung mempersembahkan dua piala kepada klub barunya itu, salah satunya Juara Liga Primer Inggris yang sangat bergengsi itu. Sayangnya, pada tahun keduanya, penampilan Chelsea menurun sehingga pada akhir musim ini tidak mendapatkan satu gelar pun.
Pemecatan Ancelotti semakin menguatkan sosok Abramovich yang ingin langsung mendapatkan hasil maksimal, mengabaikan proses yang sewajarnya. Tampaknya benar seperti yang disampaikan mantan pelatih Chelsea, Jose Mourinho, ikut campurnya sang pemilik justru sangat mengganggu keseimbangan dan suasana di dalam tim.
Sama seperti ketika Abramovich mendatangkan Andriy Shevchenko ke Chelsea, yang kemudian terbukti ternyata tidak bisa berbuat banyak di klub itu, di masa kepelatihan Ancelotti pun sang miliarder asal Rusia itu langsung menarik Fernando Torres dari Liverpool ke Chelsea untuk memperkuat barisan pendobrak Chelsea. Akan tetapi, Torres pun tidak bisa berbuat banyak untuk mengangkat tim barunya.
Bagi Abramovich, seperti telah sering kali disampaikan bawahan-bawahannya, Chelsea belum apa-apa selama belum menjuarai Liga Champions. Karena itu, dia terus menggunakan pendekatan ”potong kompas” untuk mewujudkannya, yaitu menarik orang-orang yang pernah berhasil meraih Liga Champions.
Kini nama Guus Hiddink dan pelatih Porto, Andre Villas-Boas, digadang-gadang sebagai kandidat pelatih Chelsea. Bisakah mereka langsung menjadikan Chelsea juara Champions?(AP/Reuters/OKI)