Korban Tewas Capai 10 Orang

Kompas.com - 24/05/2011, 03:43 WIB

Madiun, Kompas - Korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas antara bus Sumber Kencono jurusan Surabaya-Yogyakarta dan truk berpenumpang buruh tebang tebu, Minggu (22/5) pukul 20.00, hingga Senin (23/5) mencapai 10 orang. Peristiwa itu terjadi di Kilometer 133-134 Jalan Raya Surabaya-Solo di Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Madiun.

Adapun korban luka dan dirawat di rumah sakit berjumlah tiga orang.

Sembilan dari 10 korban tewas seketika pada saat kejadian berlangsung. Satu korban dilaporkan meninggal saat menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara, Nganjuk. Dan, dari sepuluh korban, sembilan orang adalah penumpang truk dan satu orang adalah kernet bus Bambang Wicaksono.

Korban yang meninggal di rumah sakit adalah penumpang truk bernama Santoso (24), warga Kecamatan Wates, Kediri. Adapun korban yang tewas di lokasi adalah Bambang Wicaksono; sopir truk Sigit Sudarsono (43); pengawas tebang angkut pabrik gula Kanigoro, Sujiono (45); Ponidi (45); Darno (45); Suratman (45); Dwi Susanto (39); Sunaryo (43); dan Subiyanto.

Kepala Kepolisian Resor Madiun Ajun Komisaris Besar Nanang Juni Mawanto mengatakan telah menetapkan sopir bus Sumber Kencono bernama Mustari, warga Kabupaten Mojokerto, sebagai tersangka dalam kecelakaan itu.

”Nyalip” dan ”ngebut”

Kecelakaan lalu lintas antara bus Sumber Kencono bernomor polisi W 7666 UY dari Madiun menuju Surabaya dan truk milik Pabrik Gula Kanigoro bernomor AE 8804 BA dari arah Nganjuk terjadi pada Minggu malam.

Tim Kepolisian Daerah Jatim dan tim Polres Madiun mengungkapkan, kecelakaan dimulai saat bus menyalip dua kendaraan di depannya dari arah kiri. Ternyata di depan dua kendaraan yang disalip itu sudah ada truk dari arah yang sama. Bus kemudian berupaya menyalip truk dengan banting setir ke kanan.

Naas, sejajar dengan truk, ternyata ada sepeda motor yang hendak putar balik. Bus pun berusaha keras menghindari sepeda motor dengan membanting setir makin ke kanan. Ban bus meletus ketika tersangkut di median jalan. Setelah itu, bus terus melaju ke kanan hingga masuk ke lajur berlawanan. Saat itulah truk yang dikemudikan Sigit meluncur dari arah Nganjuk. Tabrakan keras pun tidak dapat dihindari.

Kepala Sub-Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim Komisaris Ade Safri Simanjuntak menemukan fakta, bus diketahui bergerak pada kecepatan tinggi karena posisi persneling pada gigi 5, dengan kecepatan 80-100 kilometer per jam.

Saat kejadian, truk mengangkut 12 penumpang, tiga di antaranya duduk di depan, sedangkan bus dipenuhi 70-an penumpang.

Polisi menyimpulkan, kecelakaan ini disebabkan faktor human error sopir bus Sumber Kencono. Faktor lainnya adalah kondisi jalan bergelombang dan penerangan jalan rambu lalu lintas minim.

Polda Jatim mencatat selama kurun 2009-2010 bus Sumber Kencono terlibat dalam sejumlah kecelakaan dan menelan korban 32 orang tewas, puluhan lain luka-luka. Saat Lebaran 2010, di Ngawi, Jawa Timur, kecelakaan bus Sumber Kencono mengakibatkan bus dibakar massa setelah bus menabrak sepeda motor. Sabtu lalu bus Sumber Kencono juga nyungsep di kebun tebu di tepi jalan lingkar Madiun, saat menghindari sepeda motor. Pada kejadian ini dua pengendara sepeda motor luka berat. (NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau