Ma-60 dilarang

Merpati Gunakan Fokker dan Cassa

Kompas.com - 24/05/2011, 10:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) mematuhi rekomendasi yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan untuk tidak mengoperasikan pesawat MA-60 di tiga kota di Nusa Tenggara Timur. Maskapai tersebut akan menggantikannya dengan pesawat Fokker-100 dan Cassa.

Direktur Niaga Merpati Toni Aulia Achmad mengatakan tidak terlalu mengkhawatirkan aturan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang sementara melarang MA-60 terbang ke kota Ruteng, Waingapu, dan Ende.  "Itu tidak masalah karena kami bisa mengoperasikan pesawat yang lainnya," kata Toni saat dihubungi di Jakarta, Senin (23/5/2011).

Menurut dia, pesawat yang akan dioperasikan menggantikan MA-60 adalah Fokker-100 untuk penerbangan rute Waingapu-Kupang dan pesawat Cassa untuk penerbangan di Ende dan Ruteng. "Selama ini untuk rute ke kota-kota itu tidak setiap hari ada penerbangan, jadi pengaruhnya tidak terlalu besar," tandasnya.

Pemerintah melarang MA-60 Merpati terbang ke kota-kota tersebut karena risiko penerbangan di bandara tersebut sangat besar. Banyak halangan bukit dan karang yang bisa mengganggu keselamatan penerbangan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau