JAKARTA, KOMPAS.com — Penambahan jumlah kereta rel listrik yang melayani rute komuter Jabodetabek merupakan solusi atas terbatasnya daya angkut kereta pada jam sibuk. Namun, hal itu tidak mudah dan sulit diwujudkan dalam waktu dekat.
Demikian pandangan Aditya Dwi Laksana, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat, Selasa (24/5/2011).
"Berbeda dengan di negara lain, pengoperasian sejumlah jalur kereta komuter di Indonesia memanfaatkan rel yang bersinggungan atau satu jalur rel dengan kereta api jarak jauh," ujar Aditya menjelaskan alasannya melalui hubungan telepon.
Imbasnya, jalur kereta menjadi padat dan pengaturan jadwal kereta yang melintasi jalur yang sama pun menjadi lebih sulit.
Menurut Aditya, idealnya, jalur kereta komuter dipisahkan dan tidak bersinggungan dengan kereta jarak jauh.
Hambatan lain bagi penambahan KRL adalah masih banyaknya pelintasan sebidang, yaitu pertemuan jalur kereta dan jalan raya.
"Bila jumlah kereta ditambah, otomatis palang pintu di lintasan sebidang lebih sering ditutup," kata Aditya. Akibatnya, lalu lintas jalan raya akan terganggu, terutama saat jam sibuk. Hal tersebut berimbas pada semakin parahnya kemacetan di jalan raya.
Hal senada diungkapkan Mateta Rizalulhaq, Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi I. "Lihat saja deretan kendaraan yang mengular pada jam sibuk waktu palang pintu ditutup. Apalagi jika kereta yang dioperasikan saat ini ditambah," kata Mateta.
Menurut dia, PT KAI sepenuhnya menyadari adanya kebutuhan penambahan jumlah KRL. "Daya angkut kereta sudah tidak memadai lagi. Tapi, penambahan jumlah kereta maupun gerbong belum memungkinkan sebelum infrastruktur lainnya dibenahi," paparnya.
"Dengan headway (jarak antarkereta) sekitar 7-10 menit saja, kemacetan di jalan raya sekitar palang pintu sudah sangat mengganggu," lanjut Mateta. Jika jumlah kereta ditambah, headway KRL pun bisa dipangkas hingga lima menit. Itu artinya, palang pintu pelintasan kereta akan semakin sering ditutup dan selanjutnya lalu lintas jalan raya mengalami kemacetan yang semakin parah.
Baik Aditya maupun Mateta melihat pentingnya pengurangan lintasan sebidang sebelum jumlah KRL yang beroperasi ditingkatkan. Dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam hal ini.
"Mungkin pemda atau pemprov perlu membangun lebih banyak flyover (jalan layang) dan underpass (terowongan) pada titik-titik pertemuan jalur kereta dan jalan raya," tuturnya. Pembangunan tersebut akan mengurangi kemacetan di jalan raya akibat penutupan palang pintu pelintasan kereta api.
Selain menekankan pembangunan flyover dan underpass, Aditya pun melihat pembangunan jalur layang kereta sebagai solusinya. "Saat ini jalur khusus itu baru terdapat pada lintasan Stasiun Manggarai sampai Stasiun Kota," katanya.
Ia yakin, bila lintasan kereta tidak bersinggungan lagi dengan jalur jalan raya, kemungkinan saling mengganggu antarmoda transportasi darat akan terkikis dan jumlah kereta yang dioperasikan juga bisa ditambah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang