PSSI dan Ketakutan Nasional

Kompas.com - 25/05/2011, 02:54 WIB

Roch Basoeki Mangoenpoerojo

Perdana Menteri Netanyahu menolak proposal Presiden Obama. ”Visinya tidak realistis,” katanya tegas dan blakblakan begitu keluar dari pertemuan di Gedung Putih, Washington, membahas perbatasan Palestina dan Israel pada Jumat, 20 Mei lalu. Netanyahu tidak takut menghadapi keperkasaan negara adidaya Amerika Serikat.

Pada hari yang sama di Jakarta terjadi Kongres PSSI yang berakhir buntu tanpa hasil. Beda pendapat tidak dapat diakhiri. Komite Normalisasi adalah pelaksana Kongres Pemilihan Ketua Umum merujuk pada surat mandat FIFA. Sementara referensi Kelompok 78 adalah Statuta FIFA. Yang satu berani menghadapi FIFA, yang lain takut menghadapi sanksi FIFA.

Kepemimpinan vs sistem

Namun, yang mencuat di sidang maupun tanggapan para komentator di televisi: kongres sudah diwarnai oleh politik perebutan kekuasaan di dalam PSSI menyangkut pro dan kontra George Toisutta-Arifin Panigoro. Prasangka begini bukankah karena otak kita sudah dikotori politik kekuasaan? Dalam kasus apa pun, yang selalu terlihat adalah pendekatan kekuasaan. Kalau kebiasaan ini mau diteruskan, kita menjadi makanan empuk bagi siapa pun yang ingin menguasai pemikiran manusia Indonesia di bidang apa pun.

Bukankah Kelompok 78 hanya bertanya: berdasarkan pasal Statuta FIFA/PSSI yang manakah alasan pencoretan empat nama calon ketua umum PSSI? Keempat calon itu dianggap putra terbaik kita dan sudah dijawab oleh FIFA. Alasan itu ternyata di luar pasal-pasal Statuta FIFA. Lalu di mana politiknya?

Diakui bahwa kesabaran ketua sidang sangat luar biasa. Ia bisa mengakhiri sidang dengan aman meski bukan menyelesaikan. Dia menggunakan pendekatan kepemimpinan dari pengalamannya. Ia meyakini akan bisa menyelesaikan soal.

Pendekatan Kelompok 78 kesisteman: bahwa segalanya sudah diatur dalam pasal-pasal Statuta FIFA/PSSI yang harus dihormati semua pihak. Juga oleh FIFA. Kalau perilaku peserta sidang terasa brutal, memang begitulah perilaku kita yang senyatanya. Lihat di kongres atau munas ormas apa pun di negeri ini, seperti itu jugalah yang terjadi. Di parpol jauh lebih menyeramkan. Suksesnya kepemimpinan butuh rekayasa yang cantik.

Siapa yang benar? Bergantung pada nilai-nilai keindonesiaan. Lebih mendambakan kepemimpinan atau kesisteman? Diharap kita bisa menemukan cara menyiasati sanksi FIFA yang mungkin akan jatuh. Itu pasti akan menyangkut soal penguasaan atas aspirasi penggila bola (pasar), perangkat keras dan perangkat lunak sepak bola Indonesia, kemampuan manajerial melihat ke depan dan merencanakan yang terpenting. Beranikah kita menghadapi kenyataan tantangan seperti Netanyahu?

Sanksi FIFA

Di sidang terlihat bahwa FIFA kurang menghormati statutanya sendiri dan lebih menunjukkan kekuasaan. Apalagi ia duduk di meja pemimpin sidang dan memengaruhi ketua sidang. Layaknya peninjau kongres, ia seharusnya duduk di tempat yang disediakan khusus dan tidak ikut bicara. Begitu peninjau bicara, wajar orang awam merasa takut.

Siapa tak takut menghadapi sanksi? Dunia sepak bola Indonesia akan gulita. Bukan cuma pemain. Pelatih, wasit, dan semua perangkat akan kehilangan nafkah. Seluruh transaksi dengan investor pasti batal. Harga diri bangsa pun terkoyak parah dan kita harus terasing dari dunia internasionalnya bola.

Bila kita melihat persoalan dibayangi rasa takut, kita tidak akan jernih melihat masalah. Tidak akan ada yang mampu mengatasi selain ”mohon ampun” karena kepemimpinan tidak didukung mayoritas suara pemilik PSSI. Sanksi bukan suara kekuasaan, hanya satu dari banyak pasal statuta. Lalu, bagaimanakah menyiasati aturan supaya ”kepentingan nasional Indonesia” terakomodasi?

Apakah kepentingan nasional akan dikalahkan oleh ketakutan nasional? Penentu kepentingan Indonesia adalah pemerintah, dalam hal ini Susilo Bambang Yudhoyono atau setidaknya Menpora. Siapakah yang dipercaya berbicara kepada FIFA soal lain, setelah 101 pemilik suara menyepakati siasat dengan segala risiko yang harus dihadapi.

Selama pemerintah lantang menyuarakan kepentingan nasional, pasti 101 suara akan mengikutinya. Kalau Menpora sudah turun tangan sebelum 20 Mei, Kongres pasti tidak berjalan seperti yang telah terjadi. Kesadaran memang selalu datang terlambat.

Roch Basoeki Mangoenpoerojo Purnawirawan TNI AD

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau