Hasil Uji DNA Cocok

Kompas.com - 25/05/2011, 04:00 WIB

NEW YORK, Senin - Contoh DNA yang diambil dari mantan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Dominique Strauss-Kahn cocok dengan materi yang didapatkan dari seragam pekerja hotel.

Dua orang sumber yang menyatakan hal ini, Senin (23/5), tidak menjelaskan lebih lanjut material apa yang didapatkan dari kaus pekerja hotel itu, tetapi memastikan bahwa DNA yang didapatkan sama.

Uji coba juga dilakukan dengan sampel lain. Selama proses penyelidikan, petugas membawa sepotong karpet dan mengelap tempat cuci tangan serta permukaan lain di kamar hotel yang pernah ditempati Strauss-Kahn. Para penyelidik yakin karpet di kamar itu mengandung semen Strauss-Kahn.

Bukti forensik ini merupakan hal pertama yang menghubungkan Strauss-Kahn dengan perempuan pekerja hotel itu.

Pengacara Strauss-Kahn, Benjamin Brafman, menolak berkomentar atas temuan itu. Dalam persidangan pekan lalu, dia mengatakan kepada hakim bahwa bukti forensik yang dikembangkan tidak akan konsisten dengan upaya pemaksaan.

Juru bicara kepolisian New York, Paul J Browne, dan jaksa Distrik Manhattan enggan berkomentar mengenai hal ini. Selasa pagi waktu setempat, polisi menyangkal laporan tentang cocoknya hasil tes DNA tersebut. ”Belum ada hasil dan belum ada informasi tentang tes tersebut,” demikian pernyataan polisi.

Sementara itu, pengacara Strauss-Kahn juga sibuk mencari apartemen baru untuk kliennya yang akan tampil di sidang pada 6 Juni mendatang. Setelah ditolak oleh penghuni apartemen di kawasan mewah Upper East Side, Strauss-Kahn saat ini tinggal di Empire Building di Jalan Broadway 71, hanya sepelemparan batu jaraknya dari Wall Street.

Para penghuni di sini juga mengeluhkan ingar-bingar akibat kedatangan Strauss-Kahn sehingga manajemen apartemen memutuskan untuk meminta Strauss-Kahn pindah dari situ.

Hambatan Lagarde

Sementara itu, Menteri Keuangan Perancis Christine Lagarde semakin banyak mendulang dukungan untuk menduduki kursi nomor satu Dana Moneter Internasional (IMF). Bahkan, pejabat Perancis menyebutkan, China berada di belakang Lagarde. Meksiko mengajukan Gubernur Bank Sentral Agustin Carstens.

Ternyata Lagarde juga tengah tersangkut masalah hukum. Hakim akan memutuskan tepat pada 10 Juni apakah Lagarde akan dituntut atau tidak. Kebetulan, tanggal itu merupakan batas akhir pencalonan kursi direktur pelaksana IMF.

Skandal ini terkait dengan penjualan saham perusahaan Adidas pada 1993 milik taipan Perancis, Bernard Tapie, mantan anggota Parlemen dan menteri dari kubu Sosialis. Tapie mengeluhkan bank yang menangani transaksi tersebut, bank milik negara, Credit Lyonnais, telah menipunya dengan memberikan harga lebih tinggi kepada pembeli, Robert Louis-Dreyfus.

Kasus Tapie melawan Credit Lyonnais bergulir hingga 2005. Tapie yang juga merupakan kawan dekat Presiden Nikolas Sarkozy mendapatkan uang pengganti sebesar 135 juta euro. Namun, keputusan ini dimentahkan pengadilan tahun berikutnya. Lagarde menyuruh beberapa hakim melakukan arbitrase. Kubu oposisi menuduh Lagarde menyalahgunakan kekuasaannya.

Pada 2008, panel menggandakan kompensasi menjadi 285 juta euro. Lagarde membela dengan mengatakan Tapie hanya menerima 39 juta euro setelah dia membayar pajak dan biaya-biaya terkait dengan kasus itu. Ternyata Tapie dilaporkan masih mengantongi 200 juta euro.

Penuntut menuduh Lagarde mengabaikan rekomendasi untuk memeriksa apakah proses arbitrase tersebut legal dan menolak rekomendasi untuk melawan pemberian kompensasi yang jumlahnya besar itu.

Pengadilan dapat memberi satu dari tiga kemungkinan keputusan, menganggap kasus itu selesai, meminta informasi lebih lanjut, atau memerintahkan pemeriksaan yang dapat menjadikan Lagarde dituduh melakukan pelanggaran kriminal.

Jika pengadilan mengeluarkan keputusan yang terakhir, tentu akan menyulitkan Lagarde maju ke kursi pucuk pimpinan IMF.(AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau