JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata segera melakukan sertifikasi terhadap sumber daya manusia yang bergerak di industri spa dan kesehatan.
"Dalam pengembangan industri spa, hal yang diatur dan dibuat oleh pemerintah adalah standardisasi tenaga kerja dan ketika kita bicara standardisasi, maka kita bicara sertifikasi, maka itulah yang akan kita lakukan," kata Kepala Badan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kembudpar I Gde Pitana di Jakarta, Selasa (24/5/2011).
Menurut Pitana, melalui sertifikasi itulah, pihaknya akan menyusun kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh SDM yang bergerak dalam industri spa Tanah Air.
Ia melanjutkan, hal itu sangat penting sebab sertifikasi bagi SDM tidak sekadar melingkupi ranah keterampilan, tetapi juga perilaku dan pengetahuan tenaga kerja yang bersangkutan dalam upaya memberikan pelayanannya. "Jadi, sertifikasi itu meliputi tiga komponen, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang secara implisit sudah memuat etika yang harus distandarkan," kata Pitana.
Ia mencontohkan, ketika pihaknya memberikan ujian sertifikasi, SDM sudah mengetahui cara terbaik yang terstandar dalam memperlakukan tamunya.
Pitana menambahkan, sertifikasi SDM spa diharapkan mampu meningkatkan citra profesi sekaligus profesionalisme tenaga kerja. "Salah satu permasalahan yang sangat mendasar dalam pengembangan spa di Indonesia adalah citra spa yang masih negatif sehingga dengan disertifikasinya SDM spa diharapkan spa terapis bisa bekerja secara lebih profesional," katanya.
Kembudpar siap memfasilitasi pelaku industri spa untuk menyusun kode etik industri spa sesegera mungkin. Apalagi pertumbuhan industri spa di Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di kawasan Asia setelah India dan China.
Pada 2010 pertumbuhan industri spa di Tanah Air tercatat mencapai 7 persen atau sedikit di bawah pertumbuhan industri spa China (8 persen) dan India (11 persen). Berdasarkan data Global Spa Summit 2011 yang diselenggarakan di Bali, perputaran uang dalam industri spa di seluruh dunia mencapai 260 miliar dollar AS. Bisnis modern spa juga pertama kali dikembangkan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang