Jumlah Pendaftar SNMPTN Naik

Kompas.com - 27/05/2011, 04:09 WIB

Semarang, Kompas - Jumlah pendaftar yang masuk perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah terus meningkat. Di Semarang, hingga Rabu (25/5) siang, jumlah peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2011 mencapai 23.968 orang, naik 7.251 orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di Solo, hingga hari terakhir penutupan pendaftaran SNMPTN 2011, jumlah yang terdaftar 17.204 orang, naik tiga kali lipat kuota mahasiswa yang akan diterima di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Menurut Ketua I Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang Agus Wahyudin, dari 23.968 pendaftar, sebanyak 8.306 pendaftar mengambil program IPA, 9.442 mengambil program IPS, dan 6.220 mengambil program IPC. Dari total calon mahasiswa baru yang mendaftar, 21.127 orang dari lulusan SMA tahun 2011. Sisanya sebanyak 2.841 lulusan sebelum 2011.

”Jumlah peserta yang mendaftar kemungkinan tidak bertambah. Kalau ada perubahan, kemungkinan jumlah peserta yang membayar, tapi sangat sedikit,” ujar Agus di Semarang, Kamis (26/5).

Sekretaris Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang Wiyanto menambahkan, pelaksanaan ujian tertulis SNMPTN akan diselenggarakan 31 Mei hingga 1 Juni. Pengumuman hasil ujian pada 3 Juni secara online.

Sekretaris Koordinator Wilayah II Jateng dan DIY Sutarno mengatakan, dari 17.204 pendaftar SNMPTN, sebanyak 14.801 peserta dari lulusan SMA tahun 2011, sedangkan 2.403 lulusan sebelum tahun 2011.

Tolak komersialisasi

Kemarin, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, berunjuk rasa menolak komersialisasi pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Kondisi itu dinilai tak selaras dengan semangat perguruan tinggi negeri yang mengemban misi pengabdian kepada masyarakat.

Presiden BEM Unsoed Muharam Nurdiyan mengatakan, berdasarkan survei BEM Unsoed terhadap peraturan penarikan biaya kuliah bagi mahasiswa baru, biaya pendidikan sudah kelewat mahal. Di Unsoed, biaya fasilitas pendidikan untuk mahasiswa kedokteran mulai Rp 75 juta hingga Rp 200 juta.

”Perguruan tinggi saat ini sudah bukan lagi kampus rakyat. Tidak ada bedanya dengan kampus swasta yang hanya mengejar keuntungan semata,” ungkapnya.

Para pengunjuk rasa menyeru, Unsoed merupakan kampus termahal di Jawa Tengah. Selain biaya fasilitas pendidikan, setiap semester mahasiswa masih dikenai biaya pendidikan sebesar Rp 1,75 juta.

Di Universitas Gadjah Mada, menurut Muharam, diterapkan Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik yang paling kecil Rp 10 juta dengan tambahan setiap semester Rp 2,3 juta.

Hal itu menunjukkan Unsoed lebih mahal dibandingkan dengan UGM yang kualitas pendidikannya dinilai masih lebih baik. Selain itu, jika dibandingkan dengan kampus lain di Jateng, Unsoed juga masih termahal.

Menanggapi tuntutan mahasiswa, Pembantu Rektor III Unsoed Nurul Anwar mengatakan, tidak semua orangtua mahasiswa dikenai biaya pendidikan yang sama. Pihak universitas telah membuat level yang disesuaikan dengan kemampuan orangtua mahasiswa. Bahkan, sebanyak 20 persen mahasiswa baru digratiskan dari biaya pendidikan.

Level berikutnya level murah. Di level ini mahasiswa baru fakultas kedokteran dikenai Rp 75 juta. Ada level mahal dan sangat mahal. ”Untuk level sangat mahal, mereka membayar Rp 200 jutaan,” kata Nurul.(WHO/WIE/GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau