Tasikmalaya, Kompas -
”Rencananya, kami akan mengirimkan masing-masing 18 ton beras organik ke tiap negara. Namun, rencana ini untuk kesekian kalinya terancam batal karena keterbatasan biaya,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Petani Simpatik, Uu Syamsul Bahri, di Tasikmalaya, Jumat (27/5).
Selaku eksportir, Gapoktan Simpatik masih terkendala modal ekspor. Total dana yang dibutuhkan untuk ekspor ke tiga negara sekitar Rp 450 juta. Namun, kini tersedia Rp 150 juta.
Harga beras organik ekspor Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram. Jika masuk pasar lokal berkisar Rp 3.500-3.600 per kg. ”Kami minta pemerintah mengucurkan dana pinjaman berbunga rendah agar ekspor terlaksana,” kata Sodikin (42), petani organik Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
Dari 49.500 hektar lahan sawah di Tasikmalaya, baru 320 hektar lahan sawah organik yang mendapat sertifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan dari The Institute for Marketologi (IMO). Panen padi organik 10 ton per hektar.
Kadis Pertanian Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tasikmalaya, Atik Sobari, berjanji terus berupaya meningkatkan lahan padi organik. Ditargetkan 9.000 hektar lahan baru untuk diolah menggunakan metode organik pada 2011 dan 2012.
Pengajar Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Sri Yulianto, mengatakan, teknologi yang kian berkembang melalui agrometeorologi memungkinkan petani menanam komoditas yang sesuai iklim setempat. Selain cuaca terus berubah, pemetaan yang lebih rinci memungkinkan petani menanam komoditas yang cocok di suatu wilayah.