Jakarta, Kompas -
Varietas dikembangkan Guru Besar Biologi Molekuler Fakultas MIPA Universitas Jember Bambang Sugiharto untuk PT Perkebunan Nusantara XI bekerja sama dengan Ajinomoto. PTPN XI di Jawa Timur menyiapkan 29.000 hektar lahan kering untuk ditanami tebu produk rekayasa genetika (PRG).
”Tanaman tebu memiliki penyerapan air tinggi. Kami mencoba memberi jalan keluar bagi penanaman tebu di lahan kering atau tegalan yang banyak di luar Jawa,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (27/5).
Produk itu diperoleh dengan merakit struktur genetika tebu dengan memasukkan gen yang menghasilkan
Pada uji terbatas, tebu PRG punya rendemen lebih tinggi 1 persen dibandingkan tebu kontrol yang sebesar 7,83. Ada peningkatan produksi 20 persen.
Tebu PRG lain masih dikembangkan, yaitu tebu PRG rendemen tinggi (kerja sama Universitas Jember dan Institut Teknologi Bandung) dan tebu PRG efisien pemupukan fosfat (bersama Institut Pertanian Bogor).
Pimpinan Divisi Riset dan Pengembangan PTPN XI, Daud Wattie, mengatakan, produk tebu PRG diteliti sejak tahun 1999. Hasilnya dibawa ke serangkaian sidang Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Indonesia (KKH) untuk menguji dampaknya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
”Kami berkali-kali sidang dengan KKH. Ada lampu hijau dari komisi. Tinggal satu kali sidang lagi,” kata Daud.
PTPN XI memiliki 67.000 hektar lahan dan 40 persennya lahan kering/tegalan. Tebu PRG diyakini menjadi salah satu jalan keluar meningkatkan produksi.
Saat ini, produktivitas tebu 70 ton gula per hektar per tahun. Dengan tebu PRG, hasilnya meningkat 20 persen.
Menurut Sidi Asmono, Koordinator International Food Policy Research Institute wilayah Indonesia, ketika PRG lolos KKH, maka bisa uji pelepasan varietas. Itu jadi PRG pertama bila lolos uji sertifikasi KKH.
Diakui, masyarakat butuh adaptasi dengan produk bioteknologi. Jagung hibrida baru mencakup 50 persen lahan petani. Sebagian masih menggunakan jagung lokal atau bibit unggul.
Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia Pusat Penelitian Bioteknologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, perangkat KKH, dalam situs webnya menyatakan, tebu toleran lahan kering itu aman bagi lingkungan.
Ketua Aliansi Desa Sejahtera Tejo Wahyu Jatmiko mengingatkan, Indonesia punya pengalaman buruk dengan kapas transgenik di Sulawesi Selatan, tahun 2001-2003. Petani merugi karena gagal panen.
Kapas transgenik juga lolos sertifikasi dan mendapat izin pemerintah ditanam terbatas. Namun, tetap merugikan petani. ”Itu harus jadi acuan,” ujarnya.
Produk transgenik berpotensi mendatangkan ketergantungan petani kepada bibit dari pemegang lisensi tanaman. Kali ini, petani harus diberi keleluasaan memilih tanaman yang akan diusahakan. Itu untuk menghargai petani tradisional yang setia pada jenis lokal.