Bioteknologi

Tebu Rekayasa Genetika Tunggu Sertifikasi

Kompas.com - 28/05/2011, 04:02 WIB

Jakarta, Kompas - Tanaman tebu rekayasa genetika yang diklaim toleran lahan kering siap ditanam secara komersial di Indonesia. Pengesahannya menunggu keputusan formal Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Indonesia.

Varietas dikembangkan Guru Besar Biologi Molekuler Fakultas MIPA Universitas Jember Bambang Sugiharto untuk PT Perkebunan Nusantara XI bekerja sama dengan Ajinomoto. PTPN XI di Jawa Timur menyiapkan 29.000 hektar lahan kering untuk ditanami tebu produk rekayasa genetika (PRG).

”Tanaman tebu memiliki penyerapan air tinggi. Kami mencoba memberi jalan keluar bagi penanaman tebu di lahan kering atau tegalan yang banyak di luar Jawa,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (27/5).

Produk itu diperoleh dengan merakit struktur genetika tebu dengan memasukkan gen yang menghasilkan betain atau asam amino. Keberadaan betain membuat tebu toleran terhadap kondisi lahan kering.

Pada uji terbatas, tebu PRG punya rendemen lebih tinggi 1 persen dibandingkan tebu kontrol yang sebesar 7,83. Ada peningkatan produksi 20 persen.

Tebu PRG lain masih dikembangkan, yaitu tebu PRG rendemen tinggi (kerja sama Universitas Jember dan Institut Teknologi Bandung) dan tebu PRG efisien pemupukan fosfat (bersama Institut Pertanian Bogor).

Sejak tahun 1999

Pimpinan Divisi Riset dan Pengembangan PTPN XI, Daud Wattie, mengatakan, produk tebu PRG diteliti sejak tahun 1999. Hasilnya dibawa ke serangkaian sidang Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Indonesia (KKH) untuk menguji dampaknya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

”Kami berkali-kali sidang dengan KKH. Ada lampu hijau dari komisi. Tinggal satu kali sidang lagi,” kata Daud.

PTPN XI memiliki 67.000 hektar lahan dan 40 persennya lahan kering/tegalan. Tebu PRG diyakini menjadi salah satu jalan keluar meningkatkan produksi.

Saat ini, produktivitas tebu 70 ton gula per hektar per tahun. Dengan tebu PRG, hasilnya meningkat 20 persen.

Menurut Sidi Asmono, Koordinator International Food Policy Research Institute wilayah Indonesia, ketika PRG lolos KKH, maka bisa uji pelepasan varietas. Itu jadi PRG pertama bila lolos uji sertifikasi KKH.

Diakui, masyarakat butuh adaptasi dengan produk bioteknologi. Jagung hibrida baru mencakup 50 persen lahan petani. Sebagian masih menggunakan jagung lokal atau bibit unggul.

Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia Pusat Penelitian Bioteknologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, perangkat KKH, dalam situs webnya menyatakan, tebu toleran lahan kering itu aman bagi lingkungan.

Pengalaman buruk

Ketua Aliansi Desa Sejahtera Tejo Wahyu Jatmiko mengingatkan, Indonesia punya pengalaman buruk dengan kapas transgenik di Sulawesi Selatan, tahun 2001-2003. Petani merugi karena gagal panen.

Kapas transgenik juga lolos sertifikasi dan mendapat izin pemerintah ditanam terbatas. Namun, tetap merugikan petani. ”Itu harus jadi acuan,” ujarnya.

Produk transgenik berpotensi mendatangkan ketergantungan petani kepada bibit dari pemegang lisensi tanaman. Kali ini, petani harus diberi keleluasaan memilih tanaman yang akan diusahakan. Itu untuk menghargai petani tradisional yang setia pada jenis lokal. (ICH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau