Bukan Sekadar Menang-Kalah

Kompas.com - 29/05/2011, 03:31 WIB

LONDON, SABTU - Kalah atau menang bukan hal serius dalam filosofi sepak bola Barcelona. Apa pun hasil partai final Liga Champions—menang atau kalah—di Wembley, Minggu (29/5) dini hari WIB tadi, Barcelona merasa sukses jika gaya permainan mereka terus dikenang hingga 15 tahun ke depan.

”Jika 5, 10, dan 15 tahun ke depan orang masih ingat pada gaya permainan yang kami peragakan saat ini, itu sukses yang sangat besar bagi kami,” kata Pep Guardiola, Pelatih Barcelona, seperti dikutip situs UEFA dalam jumpa pers, Jumat (27/5).

”Cara bermain kami tahun ini telah membuat orang gembira. Saya tidak berpikir hal itu akan berubah, baik apakah kami menang maupun kalah melawan United,” tutur Guardiola, sosok sentral bagi kesuksesan Barcelona dalam dua dekade terakhir.

Saat masih menjadi pemain, Guardiola ikut mengantarkan juara Eropa 1992 dengan memukul Sampdoria pada final di Wembley. Itu gelar Eropa pertama Barcelona. Ia menambah gelar Eropa bagi Barcelona saat menjadi pelatih klub Catalan itu pada 2009, dengan memukul Manchester United, 2-0, di final.

Guru spiritual Cruyff

Semangat untuk tidak terpaku pada hasil kalah-menang itu tak lepas dari mahaguru spiritual Barcelona, Johan Cruyff. Seperti dikutip Times, legenda sepak bola Belanda itu menyebutkan, kesuksesan merebut trofi juara merupakan hal yang fantastis. Akan tetapi, jika sukses tersebut tidak tercapai, itu bukan sesuatu yang harus diratapi.

”Juara adalah salah satu hal, hal yang penting. Namun, tampil dengan gaya Anda sendiri membuat orang meniru dan mengagumi Anda. Itu anugerah yang paling besar,” tutur Cruyff.

Ia memaparkan pengalamannya sendiri. Cruyff mengungkapkan, sampai hari ini banyak orang masih memberi selamat kepada dirinya atas gaya permainan yang diperagakan timnya, Belanda, meski kalah di final Piala Dunia 1974. ”Kami kalah di final dan itu promosi terbesar yang kami peroleh,” ujar Cruyff.

”Menjadi juara itu hanya satu hari. Sebuah reputasi dapat dikenang sepanjang hidup. Anda saksikan, nama Barcelona telah menyebar di seluruh dunia,” ucapnya. Cruyff ingin mendidik masyarakat lewat sepak bola, seperti dilakukan di Barcelona.

Ditanamkan di ”La Masia”

Barcelona adalah salah satu klub papan atas Spanyol yang dimiliki para anggotanya (selain Real Madrid, Athletic Bilbao, dan Osasuna). Klub Catalan itu memiliki sekitar 170.000 anggota dan menegaskan identitas mereka dengan slogan yang terkenal, ”lebih dari sekadar klub”.

Kesuksesan Barcelona tidak lepas dari sukses akademi sepak bola klub itu, La Masia. Akademi itu kini menjadi model internasional bagi pengembangan pemain usia muda. Pengembangan usia muda di La Masia berbeda dari model pengembangan olahraga di Amerika, yang secara umum berbasis di sekolah.

Ini juga berbeda dari model pembinaan sepak bola tipikal Eropa, di mana para pemain top rata-rata meninggalkan sekolah sekitar usia 15 tahun untuk total berkonsentrasi dalam olahraga. Di Barcelona, banyak pemain tim B—termasuk salah satu bintangnya, Andres Iniesta—mengambil kuliah.

”Hal ini mengejutkan banyak orang,” kata Carles Folguera, Direktur La Masia, seperti dikutip The New York Times, ”Mereka berpikir, para pemain di sini hanya untuk bermain sepak bola dan bukan untuk belajar. Kami menyiapkan mereka untuk olahraga, tetapi juga membekali dengan masa depan lain jika olahraga tidak cocok untuk mereka.”

”Para orangtua memberi kami sesuatu yang mereka anggap paling berharga—anak-anak mereka—pada usia rawan. Penting menunjukkan kepada mereka arti usaha keras dan rendah hati. Talenta saja tidak cukup. Anda harus rendah hati dan menjadi manusia normal, hal yang oleh para orang tua jadi kebanggaan.”

”Di Barcelona, mereka mendidik pemain dan kemenangan bakal datang dengan sendirinya,” kata Claudio Reyna, mantan kapten timnas Amerika Serikat (AS) yang kini Direktur Teknik Usia Muda Sepak Bola AS.

”Saya percaya itu berdampak saat pemain berkembang dalam lingkungan tenang dan memadai. Mereka tidak dinilai apakah Anda menang terus-menerus. Mereka hanya mencari pemain yang punya otak sepak bola,” ujarnya.

Ambisi Ferguson

Dalam sejarah Liga Champions, setelah dirombak dari format lama Kejuaraan Eropa pada musim 1992/1993, Spanyol dan Italia adalah dua negara yang paling sukses merebut juara. Kedua negara itu masing-masing lima kali juara (Spanyol juara pada 1998, 2000, 2002, 2006, dan 2009; Italia pada 1994, 1996, 2003, 2007, dan 2010).

Namun, tidak ada tim yang melebihi AC Milan untuk tampil di final. Saat juara 2007, klub Italia itu tampil di final untuk keenam kalinya dan menyamai rekor juara tiga kali yang dicatat Real Madrid. Tim yang juara di final musim ini, Barcelona atau Manchester United (MU), bakal menyamai rekor itu.

Pelatih MU Sir Alex Ferguson mengakui, sebelum laga, ia berkonsultasi dengan Pelatih Real Madrid Jose Mourinho. Ia ingin MU menancapkan kuku di kancah Eropa. (SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau