Dieng waspada

Gubernur Bibit Minta Warga Dieng Pulang

Kompas.com - 30/05/2011, 00:09 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, meminta warga Simbar, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara yang sebelumnya mengungsi karena meningkatnya aktivitas Kawah Timbang di Dataran Tinggi Dieng, kembali ke rumah karena jarak permukiman dengan kawah cukup jauh.

Imbauan Gubernur Jawa Tengah itu disampaikan oleh Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Agus Utomo, Minggu (29/5/2011) malam, melalui siaran pers menyusul gempa tektonik dan vulkanik berkekuatan rendah di Kawah Timbang pada Sabtu dan Minggu (28-29 Mei).

"Masyarakar Dieng jangan panik dan meninggalkan rumah. Masyarakat agar memperhatikan petunjuk aparat, jangan ikuti petunjuk dari pihak yang tidak bertanggung jawab," kata Gubernur Jateng.

Kawasan permukiman yang ditinggalkan warga dengan lokasi gempa berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Timbang sehingga dinilai masih aman untuk ditempati.

Kendati demikian, menurut Gubernur Jateng, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan demi menjaga keselamatan, masyarakat untuk sementara waktu agar tak melakukana aktivitas di ladang, yang rata-rata lokasinya berjarak 500 meter dari Kawah Timbang.

Hal tersebut untuk menghindari risiko apabila terjadi embusan karbondioksida (CO2) yang mengandung racun dari kawah tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral Jateng, Teguh Paryono, menjelaskan, gempa yang terjadi di kawasan Dieng merupakan hal biasa sehingga masyarakat tak perlu panik.

"Yang penting warga mengikuti informasi dan petunjuk dari aparat pemkab atau petugas dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi setempat," katanya.

Gempa yang terjadi Sabtu (28/5/2011) mulai pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB itu sebanyak 14 kali berupa gempa tektonik dangkal lokal. Getaran gempa dirasakan masyarakat Batur dengan kekuatan 2,1-3,4 Skala Richter.

Pada saat gempa, puncak Kawah Timbang terjadi konsentrasi CO2 sebanyak 26 persen, jauh di atas ambang batas maksimal 0,5 persen sehingga berbahaya bagi masyarakat karena beracun.

Gempa yang terjadi Minggu sudah menurun, yakni enam kali gempa vulkanik dan empat kali tektonik dengan kekuatan rata-rata 2 Skala Richter.

Demikian pula kadar CO2 juga menurun, yakni di puncak Kawah Timbang tinggal 1,2 persen, sedangkan di sekitar puncak kawah sudah di bawah ambang batas 0,5 persen atau riilnya sekitar 0,11 persen sampai 0,13 persen sehingga tidak berbahaya.

Meski demikian, Gubernur Jateng tetap minta masyarakat setempat untuk sementara tidak melakukan aktivitas di ladang yang berjarak hanya 500 meter dari puncak Kawah Timbang karena CO2 yang keluar dari puncak kawah masih fluktuatif.

Pemkab Banjarnegara sudah memasang alat pemantau kadar CO2 dan dalam radius 500 meter sudah dipasang pita peringatan agar warga tidak melakukan aktivitas di dalam area tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau