Petani Tembakau Kawatirkan Anomali Cuaca

Kompas.com - 30/05/2011, 22:30 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com - Sudah menjadi kebiasaan sebagian petani di lima kecamatan di wilayah kabupaten Jombang meliputi Kabuh, Kudu, Plandaan, Musian dan Ploso, sehabis panen padi menanam tembakau. Namun demikian, mereka amat mengkhawatirkan anomali cuaca yang sewaktu-waktu datang dan menghancurkan tanaman tembakau.

"Kalau kemaraunya panjang, justru tambah bagus hasilnya untuk tanaman tembakau. Tapi, kalau tiba-tiba turun hujan setiap hari, tanaman tembakau pasti rusak," kata Saroh (49), salah seorang petani tembakau asal Dusun Bedander, Desa Sumber Gondang, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Senin (30/5/2011).

Ia mengatakan, dalam bulan Mei ini sebagian petani sudah mulai tanam dan sebagian lainnya baru memulai mengolah lahan untuk tanaman tembakau. "Sudah dua minggu ini cuacanya cerah dan sudah jarang turun hujan, sehingga sangat baik untuk memulai tanam tembakau," katanya.

Saroh mengatakan, petani tembakau sangat mengkhawatirkan cuaca buruk yang tiba-tiba datang dan menghancurkan tanaman tembakau.

Pasalnya, dalam tiga tahun terakhir ini cuaca buruk kerapkali merusak tanaman tembakau sebagaimana panen tembakau tahun lalu yang masih turun hujan, sehingga kualitas tembakau hasilnya kurang bagus. "Harapan petani saat panen nanti cuacanya terang dan bagus," katanya.

Dari luas areal tanaman tembakau kurang lebih 75 meter persegi yang ditanami 3.000 pohon tanaman tembakau, Saroh berharap pada musim panen bulan Agustus-September mendatang hasilnya baik, termasuk harganya.  

Panen tahun lalu harga tembakau basah (daun tembakau segar habis petik-red) berkisar Rp 1.500-Rp 2.500 per kilo , sedangkan harga tembakau kering (rajangan-red) berkisar Rp 17.000-Rp 18.500 per kilo.

"Harga jual tembakau kering yang sudah rajangan memang jauh lebih mahal daripada harga jual tembakau basah. Tapi, prosesenya tidak gampang dilakukan oleh petani, selain harus punya tempat penjemuran dan penyimpanan, petani masih harus punya biaya untuk ongkos tenaga rajang tembakau," katanya.

Ia mengatakan, umumnya petani tembakau menjual tembakau basah habis petik kepada bakul ataupun pengepul tebakau. Alasannya, petani tidak punya biaya untuk proses pengeringan dan perajangan tembakau. "Pabrik juga ikut menentukan harga yang terkadang menyulitkan petani, karena sudah menyangkut kualitas tembakau," katanya.

Kepala Bidang Usaha Tani, Perlindungan Tanaman dan Konservasi Lahan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jombang Sutaji mengatakan, dari luas areal tenaman tembakau kurang lebih 5.000 hekter yang tersebar di wilayah kecamatan Kabuh, Kudu, Ploso, Plandaan dan Musian, pihaknya menaruh harapan besar dalam panen tembakau tahu n ini hasilnya baik.

"Yang menjadi persoalan selama ini cuaca buruk dan drainase yang kurang bagus, sehingga kalau hujan rata-rata saluran airnya mampet," katanya.

Ia mengingatkan, agar petani tembakau mewaspadai serangan hama ulat daun yang merusak tana man tembakau, sehingga memerosotkan kualitas rajangan tembakau.

"Kami tidak menganjurkan petani menggunakan pestisida, karena dampak residunya tinggi. Jadi, untuk membasmi ulat daun, ya dengan jalan ambil satu per satu ulatnya," kata Sutaji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau