Jerman Tinggalkan Energi Nuklir

Kompas.com - 31/05/2011, 07:34 WIB

BERLIN, KOMPAS.com — Pemerintah Jerman akhirnya memutuskan akan meninggalkan pasokan listrik dari energi nuklir untuk selamanya pada 2022. Jerman kemudian akan mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan listrik.

Keputusan Jerman itu diumumkan Menteri Lingkungan Hidup Norbert Roettgen, Senin (30/5/2011), setelah negosiasi alot antarpartai-partai koalisi berlangsung tujuh jam sepanjang malam. Keputusan ini juga diambil hanya sembilan bulan setelah pemerintahan koalisi tengah-kanan pimpinan Kanselir Angela Merkel mengumumkan akan memperpanjang masa pakai reaktor-reaktor nuklir di Jerman hingga pertengahan 2030-an.

Keputusan Merkel waktu itu langsung memicu protes antinuklir dan membuat popularitas Merkel merosot. Bulan Maret, partai Merkel, Uni Kristen Demokrat (CDU), kalah dalam pemilu lokal di Baden-Wuerttemberg, salah satu basis pendukung partai tersebut.

Perubahan keputusan ini juga didorong oleh krisis nuklir di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang. Ketidakberdayaan negara dengan teknologi setinggi Jepang terhadap krisis nuklir di Fukushima membuat Merkel memikirkan ulang kebijakan energinya.

”Sistem energi kami harus dan bisa diubah secara mendasar. Kami ingin (pasokan) listrik pada masa depan lebih aman, bisa diandalkan, dan layak secara ekonomi,” tutur Merkel, Senin.

Ia menambahkan, rantai pasokan energi negara itu membutuhkan ”arsitektur baru”, yang akan melibatkan sumber-sumber energi terbarukan, peningkatan efisiensi, dan perombakan besar-besaran jaringan transmisi listrik.

Pembangkit listrik yang memanfaatkan energi terbarukan, seperti angin, air, dan sinar matahari, saat ini memasok sekitar 17 persen dari total kebutuhan listrik Jerman. Pemerintah berambisi mendorong produksi listrik dari sumber-sumber terbarukan ini hingga mampu memasok 50 persen kebutuhan listrik nasional dalam beberapa dekade mendatang.

Dimatikan bertahap

Energi nuklir sendiri saat ini memasok 22-23 persen kebutuhan listrik di negara kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia itu. Untuk mulai melepaskan diri dari nuklir, Jerman secara bertahap akan mulai mematikan 17 reaktor nuklirnya.

Saat ini sudah ada delapan reaktor nuklir yang dimatikan. Tujuh reaktor di antaranya, yang dimatikan empat hari setelah insiden Fukushima, adalah reaktor-reaktor tertua di Jerman yang dibangun sebelum 1980.

Menurut Roettgen, tujuh reaktor ini tak akan diaktifkan lagi selamanya, kecuali satu reaktor yang oleh partai-partai koalisi disepakati akan dijadikan sebagai ”cadangan musim dingin” pada 2013 seandainya proses transisi menuju sumber-sumber energi baru tak mampu memasok kebutuhan listrik pada musim dingin.

Satu reaktor lagi di Kruemmel, Jerman utara, sudah tidak aktif beberapa tahun terakhir karena berbagai masalah teknis.

Tahap berikutnya adalah mematikan enam reaktor paling lambat akhir 2021 dan kemudian tiga reaktor tersisa akan dimatikan pada 2022.

Keputusan Pemerintah Jerman tersebut langsung disambut positif oleh pihak oposisi dan kalangan pencinta lingkungan. Akan tetapi, kalangan industri mengkhawatirkan kebijakan ini akan berdampak pada daya saing produk-produk Jerman di pasar dunia. (AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau