Gunung Kidul Mulai Krisis Air Bersih

Kompas.com - 31/05/2011, 10:04 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com — Hujan yang menghilang sejak tiga pekan terakhir di wilayah Gunung Kidul mulai dirasakan dampaknya oleh warga, terutama di Kecamatan Tanjungsari, yang setiap tahun menjadi langganan krisis air bersih.

Menurut Kepala Desa Hargosari Subardi, sebagian warga yang memiliki bak penampungan air hujan (PAH) sudah mulai mengkawatirkan persediaan airnya. Pasalnya, intensitas hujan yang mulai menurun dan air bersih tersebut tidak saja untuk konsumsi dan kebutuhan warga, tetapi juga untuk ternak mereka.

Saat ini pihak pemerintah desa sudah mengajukan permohonan dropping air kepada pemerintah. "Kalau droping air tak segera dilakukan oleh pemerintah kabupaten, warga terpaksa membeli air dari tangki air swasta yang harganya mencapai Rp 80.000 per tangki ukuran 5.000 liter. Itu pun bagi yang mampu. Bagi yang tidak mampu, terpaksa patungan dengan tetangga," kata Subardi, Selasa (31/5/2011).

Sementara sejumlah proyek air bersih yang ada di Gunung Kidul saat ini belum semuanya berfungsi dan mampu menjangkau ke seluruh kecamatan. Dari data yang ada, sedikitnya 11 kecamatan dari 18 kecamatan yang ada di Gunung Kidul selalu mengalami krisis air bersih tahunan sepanjang musim kemarau.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau