Inspirasi

Modal Rp 2 Juta, Kini Punya 25 Pekerja

Kompas.com - 01/06/2011, 08:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Belajar dari pembeli dan melihat tren di pasar, kini Wawan si perajin gelang kayu dari Situbondo, mampu memasarkan produknya hingga ke India. "Saya tahun 2002 mulai usaha ini, tapi dimulai dengan gantungan kunci," ujar Wawan kepada Kompas.com, di Jakarta, Minggu ( 30/5/2011 ).

Selang empat tahun setelahnya, ia pun mencoba untuk membuat gelang dari kayu. Pemilik Mentari Handycraft ini membuat produk ini karena melihat pasarnya di daerah Yogyakarta dan Bali cukup besar.

"Dari (gelang) polos, kita kreatif, ada ukir, ada gelang dengan menggunakan tambahan (penghias) pasir. Jadi gelang kayu dilapisi pasir laut," ungkapnya, yang memulai usaha dengan modal Rp 2 juta, untuk pembelian kayu.

Ia terus berinovasi dalam membuat gelang ini. Berbagai macam warna, hingga pemakaian gliter dicobanya. Bukan hanya gelang yang dihasilkannya, jika ada permintaan barang seperti tas, kalung, hingga cincin dari kayu akan diladeninya. "Kalau ada pesanan apapun, akan saya kerjain. Asal dari kayu," tuturnya.

Usaha yang dikerjakan bersama dengan adiknya ini, memiliki 25 orang pekerja. Di mana pekerja ini, ia rekrut dari masyarakat setempat. Bahkan mereka yang sedang pengangguran pun ia ajak.

Kayu yang ia pakai untuk kerajinan ini, disebut kayu mimbo. Namun, kalau di Situbondo sedang kosong untuk kayu tersebut, maka ia mendapatkannya dari Asembagus, hingga Banyuputih. Untuk ketersediaan kayu tersebut, ia memiliki 25 orang yang menjadi supliernya.

Mengenai persaingan di usaha sejenis, ia menyebutkan masing-masing daerah punya motif yang berbeda. Bahkan ada puluhan perajin yang berada di jenis usaha yang sama di kota asalnya, Situbondo. "Ya puluhan. Dan juga kebanyakan yang bikin itu dia jual mentahan juga. Kalau saya jual yang sudah jadi," tuturnya.

Sebagaimana usaha rakyat lainnya, modal menjadi kendala Wawan untuk mengembangkan usahanya. Karena setiap pesanan, ia butuh uang muka sekitar 50 persen dari jumlah pesanan untuk modal pembuatan. Nah, kesulitannya, ia menuturkan kalau pembeli mau bayar jika pesanan sudah selesai.

Ia mengungkapkan pernah masuk sebagai mitra binaan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tidak bertahan lama karena jaminannya harus besar. Sedangkan pendapatan yang ia punya masih terbilang kecil.

Dari segi omzet, meski tidak menyebutkan angka pastinya, Wawan mengaku bisa memanen uang jika musim libur tiba.  Saat liburan, menurutnya omzet bisa mencapai 200 persen dari normal karena permintaan dari Bali dan Jogja biasanya naik.

Mengenai produksi, ia menyebutkan bisa memproduksi 6.000 gelang per harinya dengan rentang harga jual dari Rp 5.000 hingga Rp 30.000. Angka tersebut merupakan produksi rata-rata mengingat produksinya biasanya berdasarkan pesanan. Dan, wilayah yang jadi pemasarannya di Indonesia, yaitu Jogjakarta, Surabaya, dan Bali. "Cuma dari Bali ya itu ada yang dikirim ke Malaysia (dan) India," sebutnya, yang dikirim melalui distributor.

Ia menuturkan, gelang banyak disukai turis asing karena bahannya yang alami. Selain pengiriman ke daerah tersebut, ia juga menitipkan barangnya di sejumlah rumah makan dan toko.

Pria yang pernah mencicipi dunia media selama 15 tahun ini pun mengungkapkan akan mencoba bahan tambahan lain seperti pelepah pisang dan kulit telur bagi karyanya. "Yang penting alam," serunya.

Ia juga akan coba membuat kalung berbahan kayu dan batok kelapa. Sementara bahan, ia akan tetap memakai kayu, sebagai bahan utama. "Karena ada (bahan) alam di tempat saya paling banyak itu kayu. Jadi kita manfaatin apa yang ada di alam kita, di Situbondo," sebutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau