Asia Tenggara Masuk Destinasi Eksotis

Kompas.com - 01/06/2011, 11:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Asia Tenggara adalah satu dari peringkat tiga besar destinasi kapal pesiar paling eksotis. Dua destinasi eksotis lainnya adalah Galapagos dan Antartika. Sementara itu, tiga besar destinasi kapal pesiar utama adalah Karibia, Alaska, dan Mediterania.

Hal tersebut diungkapkan Expert Itinerary Planning Topic, Nancy Cipra dalam acara Seminar International Cruise Development of Indonesia, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (30/5/2011).

Ia membawakan presentasi mengenai pengembangan destinasi kapal pesiar. Nancy sudah 12 tahun lebih bekerja di bidang manajemen kapal pesiar. Salah satu destinasi kapal pesiar yang sering ia datangi adalah Indonesia. Sebagai bagian dari Asia Tenggara, Indonesia masih terbuka lebar sebagai destinasi kapal pesiar.

"Indonesia adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup bagi beberapa penumpang kapal pesiar. Banyak tamu yang merasa ini merupakan pengalaman pertama dan terakhir di Indonesia. Karena secara jarak yang jauh dari negara asal dan biaya yang besar. Sehingga mereka perlu mendapatkan kesan yang mendalam mengenai Indonesia," jelas Nancy.

Sementara itu, Deputy Director Cruise of Singapore Tourism Board, Remy Choo menuturkan bisnis pariwisata kapal pesiar merupakan hal yang baru tidak hanya di bagi Indonesia, namun juga bagi Singapura. Remy hadir sebagai salah satu pembicara dalam seminar.

Remy mengaku kaget Indonesia mulai serius mengarap pasar kapal pesiar. "Ini dengan pemerintah mengumpulkan orang-orang ahli dalam bisnis kapal pesiar juga instansi daerah di seminar ini bukti keseriusan. Di negara lain di Asia Tenggara belum ada yang begini," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kapal pesiar merupakan bentuk pariwisata yang berbeda dari wisata pada umumnya melalui jalur udara. "Kapal pesiar ini pariwisata regional. Kita tidak bisa saling bersaing antara negara. Beda dengan kunjungan lewat udara yang disasar adalah destinasi tunggal. Kapal pesiar ini berlabuh dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya," jelas Remy kepada Kompas.com.

Sehingga, lanjutnya, perlu adanya kerja sama di antara negara-negara terutama yang masuk kawasan Asia Tenggara. "Misalnya dari Singapura, kapal pesiar bisa lanjut ke Bali. Sebaliknya, dari Bali tujuan ke Singapura jangan langsung, tapi berlabuh di beberapa pelabuhan lain terlebih dulu. Indonesia ini punya banyak pelabuhan yang potensial untuk kapal pesiar. Tinggal pengembangannya saja," tuturnya.

Remy mengungkapkan Bali sebagai destinasi kapal pesiar sangat kuat dan bisa menjadi penghubung perjalanan kapal pesiar antara Australia dengan Asia Tenggara. Sehingga, lanjutnya, Singapura bisa jadi hub untuk maskapai penerbangan. Namun Bali menjadi penghubung kapal pesiar.

Remy melanjutkan, negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand memang telah menggarap pasar kapal pesiar. Sementara Vietnam baru mulai dan berpotensi besar pula. "Vietnam mulai bergerak di pasar kapal pesiar. Vietnam sudah punya pelabuhan di Ho Chi Minh City yang bisa untuk kapal pesiar. Tapi di sana masih banyak kontainer-kontainer. Tidak mungkin tamu saat turun dan lihat kontainer-kontainer itu. Perlu pembenahan," ungkapnya.

Pemerintah Singapura menginvestasikan sekitar 300 juta dolar Singapura untuk pelabuhan kapal pesiar. Saat ini, Singapura memiliki dua pelabuhan kapal pesiar yaitu di Sentosa dan Marina Bay Sands.

Sebelumnya, Dirjen Pemasaran Kembudpar, Sapta Nirwandar dalam jumpa pers Seminar International Cruise Development of Indonesia menuturkan bahwa Singapura memiliki luas wilayah yang jauh lebih kecil daripada Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah negara kepulauan. Namun jumlah kedatangan kapal pesiar ke kedua negara tersebut setara.

"Ada 300-400 kapal pesiar setahun ke Singapura. Kita 300 kapal pesiar ke seluruh Indonesia. Ini yang perlu digarisbawahi," ungkap Sapta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau