Buruh migran

Korban Perdagangan Manusia Pulang

Kompas.com - 01/06/2011, 22:10 WIB

SUKABUMI, KOMPAS.com Yanti (36), warga Kampung Gunungguruh, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang menjadi korban perdagangan manusia di Malaysia, akhirnya pulang ke rumahnya.

"Saya dikirim dari Pontianak ke Malaysia melalui jalur darat pada malam hari dan saya pun tidak punya visa ataupun paspor karena agen saya yang akan mengurusinya," kata Yanti, Rabu (1/6/2011).

Korban mengatakan, awalnya dia ditawari  kerja ke Malaysia, tetapi saat di perjalanan malah dibawa ke Pontianak, Kalimantan Barat. Saat itu dia hampir mendapat pelecehan seksual dari agen yang akan menyalurkannya ke Malaysia.

Yanti menuturkan, ternyata dia bukan dipekerjakan di rumah majikannya yang lama, tetapi dipekerjakan di kedai kopi di daerah Kuching, Serawak, Malaysia. Di tempat kerjanya tersebut dia tidak mendapat gaji dan akhirnya kabur setelah dua minggu bekerja.

Ia kemudian melarikan diri, tetapi tertangkap lagi oleh agen penyalurnya dan dipekerjakan di hotel. Selama bekerja di hotel atau hampir tujuh bulan, pahlawan devisa itu tetap tidak digaji.

"Selama kerja, saya dihina dengan kata-kata yang melecehkan bangsa Indonesia oleh majikan saya. Karena mendapatkan pelakukan tidak menyenangkan, akhirnya saya kabur ke kantor polisi di Kuching dan diantar ke Konsulat RI," ungkap Yanti.

Ibu enam anak ini pun bisa pulang setelah pihak konsulat menghubungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Jawa Barat. Selain Yanti, masih ada lima perempuan asal Jawa Barat yang menjadi korban perdagangan manusia yang ikut dipulangkan, yakni berasal dari Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, Bogor, Cirebon, dan Garut.

Walaupun tidak mendapat pelecehan seksual, korban merasa ditipu atau dijual oleh agen karena gaji selama dirinya bekerja hanya diterima oleh agennya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti, mengatakan, kepulangan korban merupakan kerja sama pihaknya dengan Konsulat Jenderal RI di Malaysia yang mendapat informasi bahwa ada korban perdagangan manusia asal Sukabumi yang melapor ke konsulat jenderal.

"Kami langsung menjemput korban ke Bandung, setelah anggota P2TP2A Jabar menjemput korban dari Malaysia," ujarnya.

Elis menambahkan, pada tahun ini sudah empat korban perdagangan manusia dipulangkan ke Kabupaten Sukabumi, yakni Mulyani, Dela, Nurliani, dan Yanti.

Sumber: ANTARA

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau