Protein dan Serat Mengurangi Godaan Ngemil

Kompas.com - 02/06/2011, 17:07 WIB

KOMPAS.com - Apakah pinggang Anda mulai melebar karena kebiasaan mengudap makanan kecil tanpa henti? Rasa lapar yang sering timbul bisa menjadi penyebabnya. Dan, itu semua berakar pada nafsu makan yang tidak dapat terkendali serta pilihan makanan yang salah membuat perut Anda lebih cepat kosong. Coba perbaiki dengan melakukan lima hal berikut ini.

1. Makan lebih banyak serat
Makanan yang berserat tinggi akan membuat Anda kenyang lebih lama. Makanan seperti beras merah dan havermut akan mengembang saat berada di perut, juga membantu melepaskan gula perlahan-lahan sehingga energi Anda tidak mudah habis. Pilihan makanan yang berserat tinggi lainnya adalah buah apel, alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian (seperti gandum), dan sayuran seperti brokoli.

2. Santap juga lebih banyak protein
Sering diserang rasa kantuk menjelang pukul 16.00? Ini bisa dikarenakan kadar gula yang turun. Hindari makan yang tinggi karbohidrat pada saat makan besar, terutama makan siang. Memang, Anda akan cepat kembali berenergi, tapi segera setelahnya langsung loyo lagi. Pilih makanan yang kaya protein, yang membuat tubuh Anda lebih lambat dalam mengubah karbohidrat menjadi gula. Hasilnya, Anda tidak akan kepingin ngemil karena masih kenyang. Ada berbagai pilihan sehat yang bisa divariasikan setiap hari, mulai dari daging ayam, ikan, telur, keju, sampai kacang-kacangan seperti buncis atau quinoa.

3. Minum yang cukup
Riset membuktikan, ternyata otak tidak dapat membedakan antara sensasi lapar dengan haus. Keduanya dianggap sama. Karena itu, ketika Anda mulai merasa ingin ngemil padahal belum lama makan, coba anggap dulu itu sebagai tanda-tanda haus alih-alih kelaparan. Minum segelas air, kemudian tunggu 20 menit untuk memastikan Anda memang benar-benar lapar, bukannya sekadar haus. Selain itu, cukupi juga asupan minum dalam sehari dengan minum setidaknya 8 gelas sehari. Plus, awali acara makan dengan minum segelas air, sehingga Anda tidak makan berlebihan.

4. Jangan jadikan makan sebagai hobi
Anda benar-benar lapar, atau hanya bosan, stres, atau sedih? Ternyata, ada sebagian orang yang makan karena dorongan pelampiasan emosi. Atau, karena terbiasa menyantap puding setelah makan besar dan minum soda saat nonton di bioskop. Coba ganti dorongan seperti ini dengan me-"make-over" jenis makanan Anda. Misalnya, saat beban kerja sedang tinggi dan Anda ingin mengunyah, makanlah kacang atau apel, bukannya biskuit cokelat.

5. Berolahragalah lebih sering
Menurut studi, olahraga yang sifatnya aerobik dapat membantu menekan nafsu makan berlebihan. Selain itu, olahraga juga dapat membantu mengendalikan kadar gula darah. Jadi, segera kenakan sepatu olahraga Anda dan mulailah latihan. Jangan lupa santap juga makanan bergizi agar hasilnya lebih maksimal.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau