Rezim suriah

Trik Pemadaman untuk Redam Demonstran

Kompas.com - 03/06/2011, 16:27 WIB

KOMPAS.com — Trik paling gres kini jadi andalan baru rezim Presiden Suriah Bashar al Assad. Tipu daya itu adalah pemadaman aliran listrik, telepon, dan pasokan air bersih. Menurut warta AP dan AFP pada Jumat (3/6/2011), pemadaman itu serentak dilakukan di sejumlah wilayah Suriah.

Sementara itu, dalam jangka waktu enam hari serangan terkini pemerintah, 15 orang tewas. Namun, kekejian ini terkesan tidak menyurutkan langkah pengunjuk rasa yang menuntut mundurnya Bashar.

Penggunaan kekerasan untuk meredakan unjuk rasa terjadi di kawasan Suriah bagian selatan. Lalu, beberapa daerah pertanian di negeri itu juga tak luput dari tindak kekerasan aparat keamanan Suriah tatkala menghalau pendemo.

Di Kota Rastan, pada Kamis (2/6/2011) penduduk yang sekarang menjadi pengungsi mengaku menyaksikan pasukan pemerintah membubarkan demonstran dengan kekerasan dan menangkap beberapa dari mereka. "Kami menjadi pengungsi di negara kami sendiri," kata penduduk Rastan yang mengaku terpaksa harus tidur di hutan untuk menghindari penangkapan.

Dia berhasil dihubungi melalui telepon dan menceritakan kondisi yang terjadi. "Keluarga dan saudara perempuan saya masih berada di sana, dan saya tidak mengetahui bagaimana kondisi mereka."

Dukungan

Oposisi di Suriah, yang selama beberapa tahun terpecah karena perbedaan ideologi, melakukan koordinasi pada hari Kamis dan menuntut Assad untuk mundur dan meminta pemilu yang bebas, pada akhir konferensi yang digelar selama dua hari di Turki.

Murhaf Jouejati, ahli politik Suriah dari Universitas George Washington, mengatakan, konferensi itu merupakan upaya untuk menyatukan visi mereka tentang Suriah pascapemerintahan Assad. Namun, tuntutan yang dilontarkan oleh peserta yang sebagian besar merupakan warga Suriah yang berada dalam pengasingan kemungkinan tidak akan bergaung setelah konferensi usai. Apalagi Pemerintah Suriah terus melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran yang menewaskan ribuan orang. Aktivis mengatakan, lebih dari 1.000 orang Suriah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditahan.

Pemerintahan Assad mendapatkan sinyal dukungan dari Rusia sebagai sekutu dekatnya. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengeluarkan peringatan kepada pemrotes dengan mengatakan, upaya untuk menurunkan rezim Assad dengan kekuatan akan menghadapi konsekuensi yang besar.

Di Washington, Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan bahwa AS telah memberikan sejumlah tekanan terhadap negara tersebut, tetapi dia mengeluhkan respons dari PBB dan Liga Arab yang lambat dan perpecahan pendapat yang terjadi di kalangan internasional membatasi respons AS atas kondisi di Suriah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau