Jakarta, Kompas
”Sejak awal kami sudah teriak agar pemerintah intervensi rupiah. Nyatanya enggak ada aksi. Tak hanya merugikan eksportir, penguatan rupiah pasti mendorong impor karena harga impor menjadi lebih murah,” kata Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Tjahyono, Jumat (3/6).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor barang konsumsi Januari-April 2011 setara dengan 7,98 persen dari total impor. Nilai total impor Indonesia pada April 2011 mencapai 14,89 miliar dollar AS, rekor nilai impor tertinggi.
Menurut Ambar, penguatan nilai rupiah mendorong kalangan pengusaha untuk memilih jalan pintas. ”Daripada membuat barang sendiri lebih baik beli saja barang-barang impor. Selain harganya lebih murah juga tidak perlu repot dan ribet. Hal ini perlu diwaspadai,” ujarnya.
Peningkatan impor barang konsumsi seharusnya mendapat perhatian pemerintah. ”Salah satu yang peningkatannya cukup tajam adalah makanan dan minuman. Kebanyakan berasal dari Malaysia. Dari aspek geografis, Malaysia bisa dengan mudah menjangkau pasar di Indonesia,” kata Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani.
”Malaysia menjadi kompetitor penting di tingkat ASEAN. Jika tidak cermat, barang-barang produksi dalam negeri justru tidak laku,” kata Franky.
Dia mengatakan, daya saing industri makanan dan minuman nasional harus terus diperbaiki. Pasalnya di tengah serbuan makanan dan minuman impor, produk lokal bisa makin tergusur.
Pengamat ekonomi dari Econit, Hendri Saparini, menilai, tingginya impor belum mampu mendorong pertumbuhan industri hilir yang bernilai tambah tinggi. Tingginya impor yang tidak didukung dengan penguatan industri justru menimbulkan beban berat terhadap cadangan devisa nasional. Indonesia terperangkap menjadi eksportir bahan mentah dan impor bahan modal untuk jangka pendek.
”Angka impor ini (April 2011) adalah tertinggi dalam sejarah,” ujar Deputi bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Djamal. Nilai impor itu naik 32,54 persen dibandingkan April 2010 (
Nilai ekspor selama April 2011 tercatat 16,52 miliar dollar AS, naik 37,28 persen dibanding April 2010 atau naik 0,96 persen dibanding bulan lalu. Hal itu disebabkan kenaikan ekspor migas 17,31 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 2,82 persen menjadi 12,92 miliar dollar AS.
Dengan memperhitungkan selisih nilai ekspor dan impor, ujar Djamal, neraca perdagangan Indonesia April 2011 mengalami surplus 1,63 miliar dollar AS. Meskipun demikian, surplus perdagangan Indonesia tercatat terus menurun sejak bulan Februari 2011.