Perdagangan

Penguatan Rupiah Dorong Impor

Kompas.com - 04/06/2011, 05:09 WIB

Jakarta, Kompas - Penguatan rupiah yang mulai terjadi pada pertengahan Februari terus mendorong aksi impor, khususnya barang konsumsi. Sepanjang Januari-April impor barang konsumsi 4,28 miliar dollar AS atau meningkat 39,42 persen dibanding periode sama tahun 2010. Jika penguatan terus dibiarkan, aksi impor akan terus melonjak.

”Sejak awal kami sudah teriak agar pemerintah intervensi rupiah. Nyatanya enggak ada aksi. Tak hanya merugikan eksportir, penguatan rupiah pasti mendorong impor karena harga impor menjadi lebih murah,” kata Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Tjahyono, Jumat (3/6).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor barang konsumsi Januari-April 2011 setara dengan 7,98 persen dari total impor. Nilai total impor Indonesia pada April 2011 mencapai 14,89 miliar dollar AS, rekor nilai impor tertinggi.

Menurut Ambar, penguatan nilai rupiah mendorong kalangan pengusaha untuk memilih jalan pintas. ”Daripada membuat barang sendiri lebih baik beli saja barang-barang impor. Selain harganya lebih murah juga tidak perlu repot dan ribet. Hal ini perlu diwaspadai,” ujarnya.

Peningkatan impor barang konsumsi seharusnya mendapat perhatian pemerintah. ”Salah satu yang peningkatannya cukup tajam adalah makanan dan minuman. Kebanyakan berasal dari Malaysia. Dari aspek geografis, Malaysia bisa dengan mudah menjangkau pasar di Indonesia,” kata Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani.

”Malaysia menjadi kompetitor penting di tingkat ASEAN. Jika tidak cermat, barang-barang produksi dalam negeri justru tidak laku,” kata Franky.

Dia mengatakan, daya saing industri makanan dan minuman nasional harus terus diperbaiki. Pasalnya di tengah serbuan makanan dan minuman impor, produk lokal bisa makin tergusur.

Pengamat ekonomi dari Econit, Hendri Saparini, menilai, tingginya impor belum mampu mendorong pertumbuhan industri hilir yang bernilai tambah tinggi. Tingginya impor yang tidak didukung dengan penguatan industri justru menimbulkan beban berat terhadap cadangan devisa nasional. Indonesia terperangkap menjadi eksportir bahan mentah dan impor bahan modal untuk jangka pendek.

”Angka impor ini (April 2011) adalah tertinggi dalam sejarah,” ujar Deputi bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Djamal. Nilai impor itu naik 32,54 persen dibandingkan April 2010 (year oon year), yakni 11,24 miliar dollar AS, serta naik 2,8 persen dibandingkan Maret 2011.

Nilai ekspor selama April 2011 tercatat 16,52 miliar dollar AS, naik 37,28 persen dibanding April 2010 atau naik 0,96 persen dibanding bulan lalu. Hal itu disebabkan kenaikan ekspor migas 17,31 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 2,82 persen menjadi 12,92 miliar dollar AS.

Dengan memperhitungkan selisih nilai ekspor dan impor, ujar Djamal, neraca perdagangan Indonesia April 2011 mengalami surplus 1,63 miliar dollar AS. Meskipun demikian, surplus perdagangan Indonesia tercatat terus menurun sejak bulan Februari 2011. (LKT/ENY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau