Skandal sepak bola

Perjudian Kian Memprihatinkan

Kompas.com - 04/06/2011, 05:51 WIB

Seoul, Jumat - Sindikat perjudian di dunia sepak bola kian memprihatinkan. Tidak cuma bandar judi yang terlibat, tetapi pemain dan ofisial juga ikut berperan untuk pengaturan hasil pertandingan.

Pada Jumat (3/6), jaksa penuntut di Pengadilan Korea Selatan telah menuntut dua tersangka calo perjudian yang terlibat pengaturan hasil pertandingan. Mereka diduga membayar dua pemain untuk mengatur skor laga, bulan lalu. Kedua pemain itu adalah seorang kiper yang dibayar 110 juta won (Rp 866 juta) dan seorang gelandang sebesar 120 juta won (Rp 944,8 juta). Keduanya sudah dibekuk polisi.

Sampai Jumat kemarin total lima pemain Liga Profesional Korea yang ditangkap, termasuk dua calo perjudian. Skandal perjudian dengan pengaturan skor di Korsel telah memberi dampak keprihatinan yang luas.

Pada Rabu lalu, para pemain sepak bola Korsel, pelatih, wasit, dan ofisial menandatangani ikrar antikorupsi. Penandatanganan ikrar ini dilakukan setelah seorang pemain yang diduga terlibat pengaturan pertandingan melakukan bunuh diri.

Pemain tengah berusia 29 tahun dari divisi tiga profesional, Seoul United, ini ditemukan gantung diri.

Dalam catatan yang dibuatnya sebelum gantung diri di dalam kamar hotel, ia meminta maaf karena sudah terlibat dalam skandal sepak bola.

Para pemain dilaporkan semakin banyak yang terlibat dalam skandal itu karena negara kurang mampu mengatasi masalah judi sepak bola di dunia maya (online) yang dioperasikan jaringan judi di Korsel dan China.

Asosiasi Sepak Bola Korea akan membentuk komite baru untuk menginvestigasi judi dan korupsi dalam sepak bola Korsel.

Di Australia, Menteri Olahraga Australia Mark Arbib menegaskan pemberian sanksi yang keras berupa hukuman 10 tahun penjara bagi pihak yang terlibat perjudian dan korupsi di dunia olahraga. Di Australia, kasus korupsi di olahraga termasuk kecil. Namun, untuk perjudian, sepanjang tahun 2008 angkanya mencapai 2,99 miliar dollar AS.

Muncul lagi di Italia

Di Italia, mantan striker Italia dan Lazio, Giuseppe Signori, bersama 16 orang lainnya ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam skandal pengaturan skor dan judi sepak bola.

Penangkapan itu dilakukan dalam sebuah operasi besar yang dipusatkan di Cremona. Mereka berhasil menangkap belasan orang dari 10 kota di Italia.

Kepala kepolisian Sergio Lo Presti mengungkapkan, para pemain ini terlibat dalam upaya memengaruhi hasil pertandingan dengan berbagai cara.

”Mereka merupakan bagian ’organisasi kriminal’ dan masing-masing punya tugas dan peranan. Mereka memberikan pengaruh dengan menyuap pemain dan membuat keputusan verbal,” ujarnya.

Signori memperkuat Lazio dari tahun 1992 hingga 1997. Signori menjadi sosok yang paling terkenal di antara para pelaku.

(REUTERS/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau