Seoul, Jumat
Pada Jumat (3/6), jaksa penuntut di Pengadilan Korea Selatan telah menuntut dua tersangka calo perjudian yang terlibat pengaturan hasil pertandingan. Mereka diduga membayar dua pemain untuk mengatur skor laga, bulan lalu. Kedua pemain itu adalah seorang kiper yang dibayar 110 juta won (Rp 866 juta) dan seorang gelandang sebesar 120 juta won (Rp 944,8 juta). Keduanya sudah dibekuk polisi.
Sampai Jumat kemarin total lima pemain Liga Profesional Korea yang ditangkap, termasuk dua calo perjudian. Skandal perjudian dengan pengaturan skor di Korsel telah memberi dampak keprihatinan yang luas.
Pada Rabu lalu, para pemain sepak bola Korsel, pelatih, wasit, dan ofisial menandatangani ikrar antikorupsi. Penandatanganan ikrar ini dilakukan setelah seorang pemain yang diduga terlibat pengaturan pertandingan melakukan bunuh diri.
Pemain tengah berusia 29 tahun dari divisi tiga profesional, Seoul United, ini ditemukan gantung diri.
Dalam catatan yang dibuatnya sebelum gantung diri di dalam kamar hotel, ia meminta maaf karena sudah terlibat dalam skandal sepak bola.
Para pemain dilaporkan semakin banyak yang terlibat dalam skandal itu karena negara kurang mampu mengatasi masalah judi sepak bola di dunia maya (online) yang dioperasikan jaringan judi di Korsel dan China.
Asosiasi Sepak Bola Korea akan membentuk komite baru untuk menginvestigasi judi dan korupsi dalam sepak bola Korsel.
Di Australia, Menteri Olahraga Australia Mark Arbib menegaskan pemberian sanksi yang keras berupa hukuman 10 tahun penjara bagi pihak yang terlibat perjudian dan korupsi di dunia olahraga. Di Australia, kasus korupsi di olahraga termasuk kecil. Namun, untuk perjudian, sepanjang tahun 2008 angkanya mencapai 2,99 miliar dollar AS.
Di Italia, mantan striker Italia dan Lazio, Giuseppe Signori, bersama 16 orang lainnya ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam skandal pengaturan skor dan judi sepak bola.
Penangkapan itu dilakukan dalam sebuah operasi besar yang dipusatkan di Cremona. Mereka berhasil menangkap belasan orang dari 10 kota di Italia.
Kepala kepolisian Sergio Lo Presti mengungkapkan, para pemain ini terlibat dalam upaya memengaruhi hasil pertandingan dengan berbagai cara.
”Mereka merupakan bagian ’organisasi kriminal’ dan masing-masing punya tugas dan peranan. Mereka memberikan pengaruh dengan menyuap pemain dan membuat keputusan verbal,” ujarnya.
Signori memperkuat Lazio dari tahun 1992 hingga 1997. Signori menjadi sosok yang paling terkenal di antara para pelaku.