Strain Baru Bakteri Super Ditemukan pada Susu

Kompas.com - 04/06/2011, 21:43 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Para ilmuwan di Inggris menemukan strain baru "bakteri super" MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) pada sampel susu sapi. Kuman strain baru ini juga telah menginfeksi manusia, walaupun diyakini para ahli  tidak akan menjadi ancaman serius.      Seperti dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases, kluster bakteri strain baru MRSA  ini ditemukan pada manusia dan susu sapi yang belum dipasteurisasi di Inggris, Skotlandia dan Denmark.

Temuan ini dinilai para peneliti sebagai hal yang "mengkhawatirkan". Tetapi, kuman yang kebal terhadap sejumlah antibiotik ini diperkirakan takkan menimbulkan infeksi dengan cara masuk ke dalam rantai makanan melalui susu.      Kuman MRSA strain baru ini ditemukan oleh Mark Holmes dan timnya dari Cambridge University Inggris, saat meneliti bakteri S. aureus, penyebab penyakit bovine mastitis pada sapi.

Bakteri MRSA diperkirakan menewaskan 19.000 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat, dan jumlah yang sama di Eropa. Penggunaan antibiotik secara tak rasional  dalam beberapa dasawarsa belakangan telah memicu peningkatan infeksi bakteri yang kebal obat seperti MRSA dan C-difficile.      Tahun lalu, para ilmuwan memperingatkan kehadiran bakteri super dari India bernama New Delhi metallo-beta-lactamase (NDM-1) yang dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Sedangkan  pada Kamis (2/6/2011) kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengindikasikan bahwa bakteri E.coli yang mengakibatkan wabah di Jerman adalah strain baru yang sangat beracun.

Meskipun belum diketahui secara pasti bagaimana cara penyebarannya dan sifat keganasannya, para ahli di Inggris dan Amerika Serikat mengaku yakin bahwa strain MRSA ini bukan suatu ancaman serius.

"Ini bukanlah sesuatu yang harus membuat seseorang gelisah, kecuali Anda adalah peternak di Inggris. Tak ada sesuatu yang mengindikasikan bahwa kuman ini sangat berbahaya dan akan menyebar luas dan mengambil alih MRSA yang sudah ada," kata  Dr. Gregory Moran,  profesor pengobatan klinis dari UCLA School of Medicine   

"Dari sudut pandang keamanan pangan, kami yakin temuan MRSA pada susu ini tak menunjukkan adanya risiko penyakit apa pun," ungkap Holmes di dalam pernyataan mengenai temuan tersebut.

Laura Garcia-Alvarez, salah satu anggota tim peneliti, juga menegaskan bahwa  memanaskan susu sapi dapat mencegah risiko penularan melalui rantai makanan      Hal yang menarik perhatian peneliti  adalah temuan ini memunculkan pertanyaan apakah sapi dapat menjadi gudangnya strain baru kuman MRSA.      "Meskipun ada bukti nyata bahwa sapi perah dapat menjadi gudang infeksi, masih belum diketahui secara pasti apakah sapi menularkan penyakit ke manusia, atau manusia yang menularkan penyakit ke sapi. Ini adalah salah satu dari sekian kondisi yang akan kami teliti selanjutnya," katanya.      Para ilmuwan di Health Protection Agency (HPA) Inggris, yang juga terlibat dalam studi itu mengatakan, walau strain baru MRSA ini tak terdeteksi lewat skrining standar, kuman ini bukanlah ancaman serius. Pemeriksaan terbaru yang saat ini dilakukan di Inggris dan Eropa telah terbukti mampu mendeteksinya.      "Penting untuk diingat bahwa MRSA masih bisa diobati dengan sejumlah antibiotik dan risiko infeksi oleh strain baru itu sangat rendah," tegas Angela Kearns, pemimpin laboratorium Staphyloccocus milik HPA

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau