Kepala Presiden Luka, Lima Pejabat Dirawat

Kompas.com - 05/06/2011, 03:45 WIB

Kairo, Kompas - Konflik di Yaman memasuki babak baru yang membahayakan. Serangan roket dari oposisi untuk pertama kali menghantam masjid di kompleks Istana Presiden Yaman di Sana’a, Jumat (3/6). Serangan itu melukai bagian belakang kepala Presiden Ali Abdullah Saleh.

Ini merupakan buntut pertempuran antara pendukung oposisi dan Presiden dalam rangka penjungkalan Presiden yang berkuasa sejak tahun 1978.

Sejumlah pejabat tinggi berada di kompleks itu saat serangan terjadi dan mengalami cedera. Tujuh pengawal Presiden yang sedang menjalankan shalat Jumat tewas akibat serangan itu.

Terjadi simpang siur soal kondisi Presiden. Sebuah berita dari kalangan medis menyebutkan, Presiden Abdullah Saleh dan sejumlah pejabat tinggi Yaman telah meninggalkan Sana’a menuju Arab Saudi untuk pengobatan atas luka-luka akibat serangan itu. Pihak Arab Saudi membantah bahwa Presiden Abdullah Saleh berada di negara itu.

Namun, Ketua DPR Yaman Yahya al-Raie, Ketua MPR Abdul Aziz Abdul Ghani, Perdana Menteri Ali Mohamed Majur, dan Deputi Perdana Menteri Sadiq Amin Abu Ras dibawa ke Arab Saudi dengan pesawat khusus untuk pengobatan.

Gubernur Sana’a Noman Duweik mengalami kehilangan kaki akibat serangan itu dan dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit Sana’a. Kantor berita Yaman, Saba, memberitakan, wakil perdana menteri lainnya, Jenderal Rashad al-Alimi, yang dekat dengan Presiden, mengalami cedera dan dalam kondisi kritis. Ia juga dikirim ke Arab Saudi.

Beberapa saat setelah serangan itu, Saleh tampil di stasiun televisi pemerintah dengan suara saja, tetapi tanpa gambar. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Presiden dalam kondisi kritis.

Ada berita yang menyebutkan, kondisi Presiden Ali Abdullah Saleh stabil dan sedang dirawat di sebuah rumah sakit militer di Sana’a.

Menteri Perdagangan dan Industri Hisham Sharaf menegaskan, ia telah bertemu dengan Presiden pada Jumat malam. Ia malah mengatakan, Presiden terus bertahan dari tuntutan para demonstran.

”Ia memiliki keyakinan yang tinggi. Aksi protes yang gagal membuat Anda lebih kuat. Aksi protes malah membuatnya lebih percaya diri dan ia tidak akan menyerah, hingga ia yakin bahwa keadaan aman dan lepas dari unsur milisi,” kata Sharaf.

Lewat televisi, Presiden menuduh sindikat bersenjata ilegal yang loyal kepada pemimpin kabilah Hashid, Sheikh Sadiq al-Ahmar, berada di belakang upaya pembunuhan terhadap dirinya.

Dengan suara terbata-bata dan tampak kelelahan, Presiden mengatakan, ”Serangan itu tidak ada kaitan dengan pemuda pengunjuk rasa, tetapi terkait dengan sindikat yang loyal kepada Sheikh Sadiq al-Ahmar.”

Deputi Menteri Penerangan Yaman Abduh Gundi menuduh para loyalis Sheikh Sadiq al-Ahmar dan Komandan Divisi Kavaleri I Mayjen Ali Mohsen al- Ahmar berada di balik serangan itu.

Namun, kantor Sheikh Sadiq al-Ahmar membantah bahwa mereka terlibat dalam serangan tersebut. Oposisi balik menuduh Abdullah Saleh yang mengatur serangan untuk memberi legitimasi pada serangan besar-besaran terhadap loyalis Sheikh Sadiq al-Ahmar.

Sheikh Sadiq al-Ahmar adalah salah satu dari 10 bersaudara putra sheikh besar kabilah Hashid, Sheikh Abdullah al-Ahmar, yang wafat pada tahun 2007. Ia menjadi figur kuat oposisi dan mendukung tuntutan rakyat soal pergantian rezim di Yaman.

Sheikh Abdullah al-Ahmar awalnya adalah mitra kuat Presiden Abdullah Saleh dan pernah ikut membantu kenaikan Abdullah Saleh ke kursi kepresidenan pada tahun 1978. Namun, putra-putra Sheikh Abdullah al-Ahmar kini pecah kongsi dengan Presiden Abdullah Saleh.

Menuduh Amerika Serikat

Juru bicara Presiden, Ahmed al-Sufi, menolak berkomentar soal perkembangan kondisi Presiden. Namun, ia menuduh Amerika Serikat mendukung serangan oposisi. ”Semua pertanda menunjukkan keterlibatan AS,” katanya.

Gedung Putih sebelumnya meminta pertempuran sesama warga Yaman, yang sejauh ini telah menewaskan 160 orang, dihentikan. ”Kekerasan tidak merupakan penyelesaian atas masalah,” kata Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney.

Penasihat Presiden AS Barack Obama, John Brennan, membicarakan krisis Yaman dengan pejabat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam kunjungan tiga hari ke Timur Tengah, yang berakhir Jumat. Ia menyerukan akan bekerja sama dengan tetangga Yaman untuk menghentikan aksi kekerasan.

AS selalu menegaskan akan mendukung reformasi di Yaman untuk mengikis anasir Al Qaeda. AS juga sering menuduh Iran mendukung kelompok tertentu di Iran untuk memperkuat hegemoni Iran.

Lepas dari itu, militer Yaman, Sabtu, menyerang rumah Sheikh Hamid al-Ahmar. Sheikh Hamid adalah pebisnis dan Ketua Partai Al-Islah (reformasi). Ia adalah saudara Sheikh Sadiq al-Ahmar, tokoh oposisi. (REUTERS/AP/AFP/MON/MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau