Bung Karno di Dadaku

Kompas.com - 05/06/2011, 04:29 WIB

Yulia Sapthiani

Semangat warna keindonesiaan marak dalam rancangan busana saat ini. Pahlawan bangsa seperti Bung Karno, Bung Tomo, Kartini, juga motif burung Garuda, reog ponorogo, serta batik menghiasi dada kaum muda.

”Patriotisme itu sekarang sedang hits. Dan, memang harus begitu. Daripada ke mana-mana kita bangga pakai kaus gambar muka Che Guevara, kenapa enggak wajah pahlawan kita sendiri?” tutur Daniel Mananta, pengusung produk fashion lokal Damn! I Love Indonesia.

 

Patriotisme juga muncul lewat penggunaan unsur etnis, seperti produk mode dari toko Geulis dan www.gantibaju.com. Tokoh-tokoh pewayangan, seperti punakawan, Hanoman, atau reog ponorogo, barong, hingga lambang burung Garuda menghiasi kaus-kaus berbahan katun yang adem.

Dua di antara pendiri www.gantibaju.com, yakni Bima (25) dan Anang (28), mengatakan, mereka memang sengaja mengutamakan unsur keindonesiaan dalam rancangan mereka. Apalagi, bisnis ini memang dibuat dengan niat awal untuk memperluas semangat mengenakan merek lokal di kalangan anak muda. ”Unsur Indonesia jatuhnya enggak harus tradisional, tapi bisa ngepop,” ujar Bima.

Di toko Geulis, yang produknya disediakan untuk perempuan, berbagai batik yang motifnya terkesan ringan didesain menjadi blus atau jaket pendek. Adapun kain tenun dengan warna lembut diubah menjadi rompi yang modis.

Batik untuk ”clubbing”

Konsep batik yang tidak ”berat” itu juga disodorkan Urban Batik yang menjadi tema terbaru koleksi baju buatan anak negeri milik Daniel Mananta, sejak April 2011.

Sesuai pasarnya, yaitu anak-anak muda, produk batik di toko ini tidak terkesan ”berat”. Setiap unsur etnik tidak diambil utuh, melainkan hanya seperti dicuplik, lalu diolah dan dikombinasikan dengan baju-baju berpotongan modern.

Beberapa motif batik, misalnya, merupakan kolaborasi batik dari berbagai daerah, salah satunya motif parang. Motif ini lalu diaplikasikan pada sedikit bagian pundak dan punggung dari kemeja pria putih polos yang berpotongan pas di tubuh, bagian depan jaket, dan sack dress.

”Saya memang ingin baju dengan nuansa keindonesiaan tidak harus benar-benar terlihat tradisional, tetapi harus tetap bisa cocok buat clubbing. Batik saya jadikan urban batik, fusion batik, sehingga brand ini saya harapkan jadi urban brand,” ujar Daniel, pertengahan pekan lalu.

Koleksi Urban Batik ini dipersembahkan untuk generasi muda sebagai apresiasi terhadap batik yang makin digemari, seiring dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2009. Jadi, siapa bilang batik tidak bisa dipakai untuk clubbing? Dengan kreativitas pembuatnya, batik atau kain tradisional lainnya bisa dikenakan kapan pun, ke mana pun, dan oleh siapa pun.

Etnis-modern

Dipandang sebagai faktor yang bisa menjadi keunggulan produk lokal dibandingkan merek internasional, unsur etnik dipilih banyak perancang busana untuk tema koleksi mereka meski dengan penerjemahan yang berbeda.

Ada yang memakai kain tradisional dari atas hingga ke bawah. Namun, tak sedikit pula yang mengombinasikan dengan bahan dan jenis busana lain agar produk mereka bisa menjangkau konsumen yang lebih luas.

Dalam acara Jakarta Fashion and Food Festival 2011, Mei lalu, Stephanus Hamy, yang selama delapan tahun terakhir konsisten menggali tenun Nusa Tenggara Timur untuk lini utama Hamy Culture, kali ini mencoba merangkul kelas menengah dalam label Earthnic.

Dengan Earthnic, Hamy menunjukkan modernitas kain tradisional dengan memadukan blus dan jaket dari tenun dengan kaus, tank top, celana panjang, atau rok pendek dari bahan denim. Padu padan ini membuat tenun yang lebih sering dikoleksi sebagai kain atau bahkan berfungsi sebagai aksesori rumah berubah menjadi busana bergaya modern.

Hamy menilai, saat ini masyarakat semakin bisa menerima busana bertema etnik, termasuk tenun. Salah satu indikatornya adalah dengan semakin banyak permintaan kemeja, jaket, rok, dan jenis busana lainnya dari bahan tenun.

Sentuhan etnik, tetapi bergaya modern juga dibuat Musa Widyatmodjo yang memakai lurik untuk koleksi terbaru, M by Musa, Carmanita, Ari Seputra yang mengubah sarung menjadi gaun-gaun cantik, Dina Midiani, dan Barli Asmara yang mengubah tenun Makassar menjadi gaun cocktail.

Untuk jenis baju muslim, kain dengan motif etnik juga menjadi pilihan banyak desainer, seperti Merry Pramono yang mengeksplorasi berbagai motif batik, Dian Pelangi yang memakai songket, dan Nieta Handayani yang menggunakan tenun Tarutung. Jadi, tak heran kalau busana muslim Indonesia selalu terlihat lebih modis dibandingkan busana muslim dari negara lain.

Untuk mereka yang tak bisa menjangkau harga produk desainer, tersedia pilihan lebih murah di berbagai pusat belanja kelas menengah. Di area Pusat Batik Nusantara, Thamrin City, misalnya, pengunjung bisa membeli pakaian dengan desain yang mirip karya perancang ternama. Mau jaket batik lawasan yang mirip karya Anne Avantie atau jaket tenun ala Hamy? Semuanya tersedia.... (NUR HIDAYATI/SARIE FEBRIANE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau