Aktivitas vulkanologi

PVMBG: Tetap Waspadai Kawah Timbang

Kompas.com - 05/06/2011, 11:17 WIB

BANJARNEGARA, KOMPAS.com — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi meminta masyarakat tetap mewaspadai Kawah Timbang, Gunung Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, meskipun aktivitas kegempaannya cenderung menurun.

"Kita harus tetap waspada. Jangan-jangan Dieng itu sedang menghimpun kekuatannya," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Minggu (5/6/2011).      

Menurut dia, gempa embusan pada Sabtu (4/6/2011) merupakan yang terbanyak sepanjang krisis Dieng ini karena mencapai 18 kali. Namun, dalam pengamatan pada pukul 00.00-06.00 WIB Minggu, aktivitas kegempaan relatif berkurang.      

Namun, PVMBG tidak serta-merta menurunkan status Kawah Timbang ketika parameternya terlihat menurun. "Kami melihat ke depan, kami sudah memiliki banyak peralatan, empat seismograf telah dipasang, berarti sudah ada lima (seismograf). Kami lihat kegempaannya seperti apa, kami lihat fluktuasi gasnya seperti apa," tutur Surono.

Menurut dia, fluktuasi gas beracun (CO2) yang dikeluarkan Kawah Timbang masih berada pada tingkat konsentrasi yang berbahaya. "Kemarin (Sabtu) tercatat 1,18 persen volume, hari ini (Minggu) sebesar 1,54 persen volume. Nilai 1,54 persen volume itu berbahaya, standar internasional 1,5 persen volume sudah harus dievakuasi," katanya.

Ia mengakui, arah luncuran gas CO2 semakin melebar ke arah selatan karena gas ini berat sehingga mengikuti lereng dan lembah. "Saya berharap tidak semakin parah, tidak semakin mendekat ke jalan karena lembahnya ke jalan dan Kali Sat. Saya takutnya (luncuran gas) memotong jalur utama Wonosobo-Batur," ujarnya.

Kalau hal itu terjadi, menurut Surono, berarti harus ada penutupan jalan sehingga akan mengganggu aktivitas masyarakat.

Ditanya apakah peningkatan aktivitas Kawah Timbang terkait ulah manusia, Surono menyatakan, hal tersebut tidak terkait secara langsung. "Tetapi, manusia cenderung meninggikan risiko bencana karena terlalu dekat dengan kawah," katanya.      

Ia mengatakan, tidak tepat jika longsoran tanah dari lahan kentang dijadikan alasan peningkatan aktivitas Kawah Timbang. "Sangat kecil kemungkinan longsoran tanah tersebut menutupi lubang kawah sehingga akumulasi tekanan jadi meningkat karena pusatnya berada pada kedalaman 5 kilometer."

Sebelumnya, warga Dusun Simbar, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, meyakini bahwa peningkatan aktivitas Kawah Timbang, Gunung Dieng, merupakan akibat ulah manusia.

"Ini semua karena ulah manusia. Lubang kawah yang biasa digunakan sebagai tempat keluarnya gas tertutup longsoran tanah dari ladang kentang milik orang kaya yang berada di bagian atas Kawah Timbang," kata warga Dusun Simbar, Suhem (60), di Pos Pengungsian SMA Negeri 1 Batur, Banjarnegara, kemarin.

Menurut dia, warga Simbar sebenarnya telah berupaya mengingatkan agar pekerja ladang tersebut tidak membuat saluran air yang mengarah ke Kawah Timbang. Namun, lanjut dia, para pekerja lahan kentang tersebut tidak mengindahkan peringatan warga.

"Akibatnya, pada saat musim hujan kemarin, longsoran tanah dari ladang tersebut menutup lubang gas di Kawah Timbang. Mungkin karena sudah terlalu lama tertutup, tekanan gas dari dalam sangat kuat sehingga mengakibatkan gempa dan aktivitas Kawah Timbang pun meningkat," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau