Pelanggan Telkomsel Mengamuk di Grapari

Kompas.com - 06/06/2011, 21:40 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Puluhan pengguna kartu telepon selular dengan operator Telkomsel mengamuk di Grapari Telkomsel di Makassar, senin, karena buruknya pelayanan yang diberikan.

Pelayanan buruk yang memicu emosi itu adalah keterlambatan pihak Telkomsel dalam mengumumkan kerusakan sistem yang membuat pelanggan harus menunggu hingga dua jam di Grapari Telkomsel Makassar di Gedung Graha Pena.

Pelanggan yang kebanyakan sudah datang sejak pukul 08.00 wita merasa kesal karena pengumuman bahwa sistem Telkomsel di seluruh Indonesia sedang tidak "online" baru diberikan pada pukul 10.00 wita.

"Seharusnya diberi tahu dong dari awal kalau memang sedang ada gangguan sehingga kami tidak perlu menunggu. Kami ini kan bekerja, menunggu dua jam begini berarti sudah mengorbankan pekerjaan," kata Nurul Fatimah, salah seorang pengguna kartu Simpati yang merupakan produk PT Telkomsel dengan nada tinggi sambil membanting barang bawaannya.

Pengunjung yang datang untuk mengaktifkan kembali kartunya yang hilang ini mengatakan, ia datang sejak pagi agar bisa cepat dilayani.

Setelah mengambil nomor antrian dan mengisi formulir keluhan, ia dan pelanggan lainnya menunggu nomor antrian dipanggil.

Setelah satu jam berlalu, nomor antrian tersebut tidak juga dipanggil tanpa ada pemberitahuan yang jelas sehingga membuat pelanggan mulai resah dan bertanya-tanya.

Akhirnya pada pukul 10.00 wita, petugas keamanan yang biasa memanggil nomor antrian pelanggan mengumumkan bahwa sistem sedang "offline" sehingga tidak bisa melayani pelanggan. Pengumuman yang terlambat ini membuat pelanggan marah bahkan ada yang berteriak-teriak.

"Bagaimana sih ini Telkomsel! layanan secara langsung bermasalah, layanan jaringan lebih parah lagi jeleknya," ujar salah seorang pengunjung yang marah, Armin.

Sebelumnya, PT Telkomsel juga banyak menuai kritik dari masyarakat terkait jaringan yang buruk, baik dari Gubernur Sulsel, anggota DPRD Kota Makassar, maupun Ketua DPRD Provinsi Sulsel, yang sempat memanggil untuk hearing, karena menilai Telkomsel "melecehkan" Gubernur, sebab tim Telkomsel datang setelah Gubernur mengeluh, namun di lapangan tidak ada peningkatan kualitas layanan, sebab jaringannya selalu terganggu.

Pihak Telkomsel bila menjawab keluhan pelanggan melalui media massa, melalui public relations-nya selalu mengatakan, saat ini sedang pengerjaan penambahan banyak BTS, dampaknya sedikit terganggu jaringan, namun diyakini segera akan pulih.

"Walaupun kenyataannya gangguan jaringan terus terjadi hingga sekarang," ujar Nurul, pelanggan Telkomsel.

Pelanggan berharap, lanjut Nurul, Telkomsel secepatnya menormalkan kembali jaringannya dan pelayanan secara langsung di Grapari juga harus berkualitas.

Selain itu, Hindari promosi berlebihan yang tidak sesuai kenyataan agar pelanggan tidak meninggalkan Telkomsel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau