The paijo family - 3

Dua Lelaki yang Berpelukan

Kompas.com - 08/06/2011, 05:27 WIB

Matahari mulai rebah ke barat, saat Onah pulang sekolah. Tanpa diduga, dia bertemu Imam, kawan Hendry, persis di mulut gerbang perumahan tempat Onah tinggal.

"Yuk minum dulu, On," ajak Imam.
"Nggak ah, udah sore, mesti buru-buru pulang."
"Bentar aja kok, nanti Bang Henry juga ke sini kok."
"Mmmm, bentar aja tapi ya."

Dalam hati Onah bertanya-tanya. Tak biasanya kawan Hendry itu mengajaknya ngobrol. Apalagi berdua-duaan seperti sekarang ini. Sekali-sekali dia melirik ke arah Imam yang agak gelisah.

"Ada apa sih mas?" Onah penasaran.
"Mmm.. nggak kok, bentar lagi Bang Hendry ke sini."
"Mau ngapain, biasanya juga langsung ke rumah."
"A.. u...."

Saat Imam gelagapan mencari jawaban, dari jauh nampak Jeng Wi berlari mendekati Onah. Lalu katanya, "Onah, sini aku bilangi, kayaknya Bang Hendry bukan lelaki sejati."

Onah terperanjat, "Maksud jeng?"

Jeng Wi berbisik di telinga Onah, "Masa, di warnet tadi, aku liat Bang Hendry ngintip foto-foto lelaki... hiiiii."

Imam yang sedari tadi duduk berdekatan dengan Onah lalu menukas. "Jangan termakan omongan orang, Onah. Banyak juga kok perempuan yang suka melihat foto-foto perempuan seksi, dan itu tidak lantas mereka bukan perempuan toh?"

Onah kebingungan. Dalam bingung, Onah seperti melihat layar film saat dirinya dengan Hendry. Sejauh ini, Hendry baik-baik saja kok. Bahkan terlalu baik untuk ukuran lelaki dewasa yang telah bekerja. Bayangkanlah, sepanjang pacaran dirinya hanya dibelai. Paling banter, hanya kecupan di kening.

'Atau... jangan-jangan dia nggak berselera sama saya, sama wanita. Ah..' Onah berusaha membangun pikiran positif. Jika Hendry tak berbuat laiknya orang dewasa berpacaran, itu pertanda Hendry memang orang baik, sangat baik.

"Terserah kamu Onah, bagaimana menyikapinya. Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat, karena aku sahabatmu," ujar Jeng Wi.

Imam, si pria parlente, yang sudah mengenal Hendry, angkat bicara membela kawannya, "Belum jaminan Hendry punya perilaku seksual menyimpang hanya karena melihat gambar-gambar lelaki. Aku mengenal Hendry selama ini, dia baik-baik saja kok."

'Tapi ada benarnya juga omongan Jeng Wi, Bang Hen memang suka bercerita tentang kegantengan orang-orang yang dijumpainya ketimbang menceritakan kecantikan perempuan,' hati Onah masih terus bertanya-tanya.

"Terserah kamu Onah, pokoknya aku udah kasih tahu sejak awal lo ya. Kalo ada apa-apa di tengah jalan jangan nyalahin aku," ucap Jeng Wi rada emosi.

"Udah dong Jeng, jangan bikin fitnah begitu," sergah Imam menentramkan Onah.

"Kalau mau bukti, sana datang ke warnet dekat gardu siskamling, mungkin Bang Hendrymu masih di sana," tambah Jeng Wi sambil pergi.

"Udah nggak usah digubris, siapa tahu Bang Hendrymu sedang cari gaya berfoto yang bagus untuk profil picture di facebooknya," Imam mengakhiri pembicaraannya sambil tak lupa mengelus-elus punggung gebetan kawannya itu.

"Iya Mas. Omong-omong, Mas Imam juga suka liat gambar-gambar cowok?"

Imam terperanjat mendapat pertanyaan tak terduga dari Onah.

"Mmmmm... kadang suka juga, biasa.. buat cari model pakaian yang lagi ngetren," akhirnya Imam mendapat jawaban jitu setelah menerima pertanyaan mendadak dari Onah.

"Mas Imam deket ya sama Bang Hendry?"
"Mmmm ya, iiyya deket, eh.. ya begitulah, namanya juga kawan.. tentu dekat," Imam mulai grogi.
"Sedekat apa?"
"Mmmmm... sedekat kamu sama Bang.. Eh, ah.. ya gitu deh, lebih dekat hubungan kalian ding."

Sebelum kembali diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan "mematikan", mendadak dari kejauhan Imam melihat Hendry datang, "Tuh pacarmu datang," Imam menunjuk sosok Hendry yang berjalan menuju ke arah mereka.

Muka Onah masih masam. Provokasi dari Jeng Wi tadi, serta jawaban-jawaban Imam yang kurang meyakinkan, kian membuat galau hati Onah.  Itulah soalnya. Onah cuek saja ketika Hendry tiba di hadapannya.

"Hai bo', udah lama ya?" kata Hendry seraya memeluk Imam.

Kali ini Onah meledak. Tanpa mempedulikan dua lelaki yang saling berpelukan di hadapannya, dia berlari menuju rumah. Hatinya luka, hatinya luka. Adegan yang dipertontonkan oleh Hendry dan Imam langsung meyakinkan dirinya tentang siapa sejatinya Hendry. Naluri wanita Onah tergetar, dia menangkap gelagat bahwa Hendry ingin menjelaskan siapa dirinya.

Garis demarkasi tiba-tiba membentang sedemikian lebar antara dirinya dan Hendry. Tak ada lagi kita, yang ada kamu dan aku. Dalam sekejap Hendry menjadi mahluk asing. Hubungan yang selama ini terjalin langsung menjadi bayang-bayang sebelum akhirnya lunas hilang.

Onah terus berlari. Dari jauh, terdengar suara Hendry memanggil-manggil namanya...

"Onahh...." Hendry memanggil sambil mengejar Onah.

Kejar-kejaran antara Onah dan Hendry langsung mengundang perhatian ibu-ibu yang sedang ngerumpi di muka rumah mereka sore itu.

"Onaaaaahhhh...."

Onah seperti memasuki kabut pekat yang menyesakkan dada.

"Onaaaahhhhhhh..."

Onah sama sekali tak menoleh oleh teriakan Hendry. Dia berlari sambil menangis. Hendry tak kuasa mengejarnya.

"Onaaaaaahhhhh...."

Onah tak peduli. Dalam keputus-asaan, dengan sisa suaranya, Hendry kembali memanggil Onah,

"Neeeee'..."

Bruk!

Suara Hendry membentur pintu yang ditutup kencang oleh Onah.

Dengan lembut, Imam mengelus pundak Hendry seraya berkata,

"Sutralah..."

catatan:

Ne': panggilan akrab untuk seseorang di kalangan gay

Sutralah: sudahlah

(jodhi yudono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau