Makan Tanah Liat Baik untuk Pencernaan?

Kompas.com - 08/06/2011, 10:26 WIB

KOMPAS.com - Keinginan yang sangat besar untuk makan tanah liat atau disebut geophagy, ternyata kebiasaan yang sudah lama ada. Meski kebiasaan ini tak lazim, tetapi ternyata mempunyai efek positif bagi pencernaan. Geophagy biasanya sering dialami oleh perempuan di awal masa kehamilannya atau pada anak-anak. Setelah diteliti ternyata tanah liat atau lempung tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi pelakunya dari virus dan bakteri.

"Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus kita," kata Sera Young dari Cornell University, New York, AS, yang meneliti mengenai geophagy ini.

Ia menjelaskan, kebiasaan makan lempung ini biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di area tropis dan hangat. Kebiasaan ini banyak dimiliki orang dari berbagai negara, meski sebagian besar orang yang punya kebiasaan aneh ini tidak pernah mengakuinya.

Beberapa hipotesa telah dibuat untuk memahami mengapa ada orang-orang yang hobi makan yang tidak lazim, tetapi belum ada satu kesimpulan bulat mengenai hal ini.

Salah satu teori menyebutkan, keinginan makan tanah atau hal lain yang tak lazim mungkin disebabkan karena anemia atau malnutrisi. Namun, ketika pasien tersebut diberi suplemen zat besi atau mineral, hobi makan yang tak lazim itu tetap ada.

Dalam penelitian yang dilakukan Young, diketahui primata dan mamalia lain juga memiliki kebiasaan yang sama. "Karena hewan biasanya fokus pada survival maka kebiasaan ini pasti punya alasan kuat," katanya.

Untuk menguji teori-teori yang ada, Young dan timnya menganalisa literatur antropologi dan sejarah untuk mengetahui prevalensi geophagy dari seluruh dunia.

Ternyata, keinginan yang kuat untuk makan tanah ini banyak dialami oleh ibu hamil dari berbagai belahan dunia. Misalnya saja di Tanzania dan negara Afrika lain, 30-60 persen ibu hamil pernah makan tanah atau kotoran lain.

Sementara itu di Denmark, secara nasional ditemukan 0,01 persen ibu hamil yang memiliki keinginan serupa. Sementara itu di AS, prevalensi pica (kebiasaan makan benda-benda) sekitar 20-40 persen.

Ternyata kebiasaan makan tanah liat ini memang berkaitan dengan manfaat untuk melindungi diri. "Ibu hamil dan anak-anak yang makan tanah liat mayoritas adalah mereka yang paling rentan pada penyakit infeksi. Keinginan makan tanah ini timbul ketika jumlah patogen meningkat, terutama saat iklim sedang hangat," katanya.

Dalam percobaan pada kelinci dan tikus, para peneliti menemukan tanah lempung akan bertindak seperti pelindung yang mencegah masuknya virus dan bakteri di usus. Selain itu, tanah lempung ini akan meningkatkan penyerapan nutrisi, yang sangat diperlukan di masa kehamilan dan anak-anak.

Manfaat tanah liat untuk pencernaan sebenarnya bukanlah isu baru. Sebuah perusahaan farmasi pernah memproduksi obat antidiare yang terbuat dari tanah liat. Namun perusahaan itu berhenti memproduksi obat itu karena ada isu tanah liat terkontaminasi logam berat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau