Jalan Baru Serpong, Jalan Baru Milik Siapa?

Kompas.com - 08/06/2011, 18:09 WIB

oleh Paulus Pandiangan

Fakta kemajuan pembangunan daerah Serpong yang ditulis dalam kolom di Kompas.com oleh Robert Adhi Ksp sepatutnya memang menjadi perhatian semua stakeholder Tangerang, bahkan lebih jauh lagi wilayah Banten pada umumnya.

Sebab, jangan sampai dampak positif yang telah dimunculkan oleh derap kemajuan pembangunan daerah Serpong menjadi mubazir semata-mata hanya karena kelalaian perencanaan tata ruang dan wilayah. Ironisnya lagi, kegagalan tersebut terjadi disebabkan ketidakpedulian para stakeholder yang semestinya bertanggung jawab untuk itu.

Tidak seperti wilayah lainnya di Jabodetabek, progres pembangunan di Tangerang dan wilayah sekitarnya memang memperlihatkan pertumbuhan yang sangat signifikan belakangan ini. Dalam hal ini, andil dan visi dari masing-masing pengembang tentu saja tidak bisa diabaikan.

Lewat beragam konsep dan strategi, para pengembang berupaya keras memberikan kontribusi sekaligus mewujudkan mimpi kawasan hunian dan bisnis yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan standar gaya hidup modern.

Namun, pada saat yang sama, adalah sebuah tindakan yang sangat terpuji sekaligus bijak bilamana pemerintah daerah mampu bergerak cepat dan segera tanggap untuk memberikan pengawasan dan arahan yang bermuara kepada kemaslahatan umum.

Misalnya, melalui pembuatan dan penerapan berbagai peraturan dan petunjuk teknis yang berimbang dan sekaligus mampu mengakomodir kepentingan pihak swasta dan masyarakat umum. Atau, bilamana dinilai telah kedaluarsa, revisi segera atas berbagai peraturan dan petunjuk teknis yang berlaku, tentu saja merupakan awal yang baik bagi terwujudnya harmoni kepentingan antara pihak swasta dengan publik.

Satu hal yang kerap ditemukan di lapangan adalah minimnya sinkronisasi peraturan maupun petunjuk teknis dari departemen-departemen terkait yang berujung pada terbukanya kesempatan yang lebar untuk penyimpangan.

Pada saat yang sama, dasar pemikiran dan interpretasi terhadap peraturan dan petunjuk tenis yang berlaku seringkali sudah tidak memadai lagi dengan kenyataan di lapangan. Hal ini juga dapat menjadi potensi munculnya interpretasi-interpretasi sepihak yang menyimpang jauh dari harmonisasi kepentingan swasta maupun publik. Akibatnya -kerap terjadi- posisi menjadi tidak seimbang: kepentingan publik mengalah kepada kekuatan modal.

Imbauan jalan baru di Serpong sejatinya merupakan cerminan upaya agar dua kepentingan tersebut dapat berjalan paralel sekaligus menguntungkan kedua belah pihak.

Dengan demikian, pesatnya progres pembangunan yang dihadirkan para pemilik modal lewat pengawasan beragam peraturan dan petunjuk teknis yang berimbang oleh pemintah daerah, bisa memberikan dukungan positif kepada peningkatan mobilitas ekonomi sosial masyarakat umum yang berdomosili di wilayah sekitar kawasan hunian dan bisnis yang dibangun para pengembang.

Di sisi lain, kondisi harmonis semacam itu, juga bisa dipastikan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai properti yang dikembangkan oleh masing-masing pengembang. Akses keluar masuk yang mudah ke dalam sebuah kawasan hunian dan bisnis misalnya, tentu saja akan menjadi pertimbangan utama bagi calon penghuni ketika memilih sebuah tempat tinggal atau lokasi usaha.

Simbiosa mutualisme seperti inilah yang semestinya menjadi acuan pemikiran para stakeholder wilayah Tangerang dan sekitarnya, sehingga dalam tempo 10 atau 20 tahun lagi, bahkan lebih jauh lagi, wilayah Tangerang dan sekitarnya akan tetap menjadi pilihan utama bagi para pelaku bisnis untuk berusaha maupun calon konsumen yang menginginkan tempat tinggal yang nyaman.

Semoga harapan ini dapat terwujud berkat keharmonisan sikap dan pemikiran dari para pihak yang berkompeten untuk pengembangan wilayah Tangerang dan sekitarnya.

*) Paulus Pandiangan, Praktisi Humas

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau