SEMARANG, KOMPAS.Com - Masyarakat dengan daya beli tidak memadai masih dapat memiliki rumah, dengan peran bank yang membantu pembiayaan perumahan masyarakat.
Fasilitas bagi pengembang menyediakan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dijamin melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Hal itu dikatakan Menteri Negara Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa, Rabu (8/6) ketika meresmikan sebanyak 1.178 unit rumah sejahtera tapak yang dibangun pengembangan anggota Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, dan dipusatkan di Wisma Perdamaian, Semarang, Jawa Tengah.
Peresmian 1.778 rumah sejahtera tapak tersebar di Pekalongan, Boyolali, Kota Semarang, Kudus, Grobogan, dan Pati. Hadir dalam peresmian ini Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, Ketua Umum DPP REI, Setyo Maharso, dan Ketua DPD REI Jateng Sujadi. Turut diresmikan pula enam rumah susun mahasiswa di enam perguruan tinggi di Kota Semarang.
"Penyediaan rumah sejahtera tapak yang dibangun pengembang, diharapkan terus bertambah sehingga dapat memperkecil kekurangan kebutuhan perumahan di Indonesia," kata Suharso Monoarfa.
Suharso juga kembali mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah menyediakan tanah untuk perumahan masyarakat. Pemda harus berperan aktif supaya mau melakukan tabungan tanah, yakni banyak membeli tanah untuk pembangunan perumahan rakyat.
"Bila pemda dapat menyiapkan suplai lahan, tentulah ada koordinasi yang baik antara program pembangunan perumahan dan penataan kawasan permukiman. Tidak ada lagi lahan pertanian yang beralih fungsi untuk nonpertanian, karena pemda tahu betul lahan yang untuk perumahan dan nonperumahan," ujar Suharso.
Salah satu bentuk kebijakan Kementerian Negara Perumahan Rakyat membantu masyarakat agar dapat memiliki rumah dengan harga terjangkau, adalah pengembang dan bank pembiayaan rumah menerapkan program FLPP. Program FLPP melalui kerja sama sejumlah bank swasta nasional, termasuk juga oleh bank-bank daerah seperti Bank Jateng.
Untuk mendukung FLPP, pihaknya berharap kalangan perbankan memiliki dana jangka panjang. Penyediaan dana jangka panjang, lebih menjamin bank mampu menyediakan rumah murah dengan bunga dibawah dua digit. Dana jangka panjang yang tingkat bunganya bisa diatur rendah, juga dapat dilakukan oleh bank-bank daerah. Bank di daerah lebih memahami soal karakteristik dan sumber-sumber dana likuitas jangka panjang.
Untuk program FLPP, sudah tersedia dana sampai dengan tahun 2014. Dana yang terkumpul mencapai kisaran Rp 21 triliun. Dana ini akan cepat berkembang dengan makin banyaknya kebutuhan masyarakat akan perumahan, sehingga bisa meningkat bjadi Rp 25 triliun dalam jangka relatif pendek.
Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, mengemukakan, pengembangan perumahan menggunakan lahan yang tidak produktif. "Jangan lahan produktif direkayasa, kemudian dikeringkan dan untuk pembangunan perumahan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang