Kebutuhan pokok

Gagal Panen, Harga Beras Naik

Kompas.com - 09/06/2011, 21:05 WIB

TEGAL, KOMPAS.com — Harga beras di Tegal, Jawa Tengah, naik dalam sepekan terakhir. Kenaikan pada beberapa pedagang berbeda-beda, berkisar Rp 200 hingga Rp 600 per kilogram. Kenaikan tersebut diperkirakan akibat gagal panen yang dialami petani di sejumlah daerah.

Amir Mahrudi (33), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kamis (9/6/2011), mengatakan, saat ini harga beras C4 di tingkat penggilingan padi sudah mencapai Rp 5.800 per kilogram (kg), sedangkan di tingkat pedagang besar sekitar Rp 5.900 per kg.

Di tingkat pedagang pasar induk, harga beras C4 berkisar Rp 6.200 hingga Rp 6.500 per kg, tergantung kualitas beras. Padahal, pekan sebelumnya harga beras di tingkat pedagang pasar induk masih Rp 5.800 hingga Rp 5.900 per kg.

"Dulu beli masih Rp 5.500 hingga Rp 5.600 per kilogram," kata Amir Mahrudi.

Menurut dia, kenaikan harga beras karena panen pada musim kedua tidak maksimal. Di beberapa daerah, petani mengalami gagal panen karena tanaman mereka terserang hama.

Namun, menurut Mahrudi, pasokan beras masih aman. Saat ini rata-rata pasokan beras yang masuk ke Pasar Induk Beras Martoloyo mencapai 10 hingga 20 truk per hari, atau 80 ton hingga 160 ton per hari.

Beras tersebut diperuntukkan bagi para pedagang, yang berjumlah sekitar 30 orang. Pasokan berasal dari wilayah Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

Siti (50), pedagang beras lainnya di Pasar Induk Beras Martoloyo, mengatakan, harga beras naik Rp 200 hingga Rp 300 per kg. Beras C4 kualitas standar yang sebelumnya Rp 5.700 per kg naik menjadi Rp 5.900 hingga Rp 6.000.

Selain karena pengaruh gagal panen yang dialami sejumlah petani, kenaikan harga beras diperkirakan juga akibat meningkatnya permintaan beras dari luar daerah, termasuk Jakarta. Sebelumnya, ia mengirim lebih kurang 8 ton beras ke Jakarta dalam satu pekan sekali.

Namun, karena permintaan meningkat, saat ini pengiriman beras ke Jakarta dilakukan empat hari sekali, sebanyak 8 ton beras sekali pengiriman. Harga beras yang dikirim ke Jakarta juga naik, dari Rp 6.100 menjadi Rp 6.400 per kg.

"Kalau penjualan eceran sepi, paling sehari hanya 4 kuintal," ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ali Muchson (25), salah seorang pemasok beras dari Tegal ke Jakarta, mengatakan, secara umum harga beras memang naik karena pada panen kedua kali ini banyak petani yang gagal panen.

Selama ini, ia hanya melayani pasar di Jakarta dan agen-agen beras. Harga beras ke Jakarta naik Rp 50 hingga Rp 100 per kg, sedangkan harga untuk agen naik sekitar Rp 100 per kg.

Tidak optimalnya panen pada musim kedua kali ini diakui oleh sejumlah petani di Kabupaten Tegal. Mujib (35), petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, mengatakan, hasil panen kedua menurun bila dibandingkan hasil pada panen pertama.

Dari lahan seluas 1.800 meter persegi, rata-rata hanya dihasilkan 6 hingga 8 kuintal gabah basah. "Padahal, dalam kondisi normal, dari luas lahan yang sama bisa dihasilkan sekitar 1,2 hingga 1,3 ton gabah basah. Panen lalu masih dapat 1,1 ton gabah," tuturnya.

Menurut dia, hasil panen turun karena tanaman padi tidak sehat. Pada musim tanam kedua kali ini, banyak tanaman padi yang terserang krupak sehingga daunnya meranggas dan bulir padi yang dihasilkan tidak optimal.

Berkurangnya panen mengakibatkan harga gabah naik dari Rp 2.600 menjadi Rp 2.900 per kg untuk gabah basah dan Rp 3.300 menjadi Rp 3.600 per kg untuk gabah kering giling.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau