Komoditas

Petani Tebu Kembangkan Gula Cair

Kompas.com - 10/06/2011, 03:32 WIB

JEMBER, KOMPAS - Sejumlah petani tebu di Jember, Jawa Timur, mulai mengembangkan gula cair lewat usaha industri rumah tangga. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian karena rendemen jatuh saat tebu digiling di pabrik gula.

Saat ini ada lima petani tebu yang mengembangkan industri pembuatan gula cair. Dua di antaranya adalah H Samuji Zarkasi dan H Marzuki Abd Ghofur. Dua tahun lalu hanya seorang petani yang mengembangkan industri gula cair.

Samuji, pengusaha tebu di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember, Kamis (9/6), mengatakan, selama ini rendemen tebu milik petani selalu pada posisi yang sangat rendah saat digiling di pabrik tebu, yaitu sekitar 6 persen. Jika tebu digiling sendiri untuk dijadikan gula cair, rendemen yang dihasilkan lebih dari 10 persen.

Dia mengatakan, dari tebu yang digiling dengan mesin mini berkapasitas 10 ton per hari, dia bisa memproduksi 1,5 ton gula cair per hari. Artinya, tebunya menghasilkan rendemen 15 persen.

Marzuki yang juga Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Semboro mengatakan, tebu yang dijadikan gula cair ternyata mampu menghasilkan rendemen sebesar 12 persen. ”Bandingkan jika digiling di Pabrik Gula Semboro, rendemen yang didapat hanya 6,1 persen,” kata Marzuki.

Menguntungkan

Dia mengatakan, hasil industri rumah tangga gula cair sangat menguntungkan. Untuk lahan seluas 1 hektar dengan produksi tebu sekitar 10 ton, pendapatannya bisa lebih dari Rp 40 juta.

”Bandingkan jika giling ke pabrik dengan rendemen 6,1 persen, paling hanya terima uang sekitar Rp 30 juta-Rp 31 juta,” kata Marzuki.

Apalagi, hasil lelang gula yang diterima petani saat ini hanya Rp 7.761 per kilogram. ”Saya baru diberi tahu teman lewat telepon bahwa harga lelang gula petani di Pabrik Gula Gempol Kerep hanya Rp 7.761 per kilogram,” kata Samuji.

Jika harga lelang yang dibeli pedagang kurang dari Rp 8.000 per kilogram, petani tebu menjadi terpuruk. Sebenarnya harga produksi petani Rp 7.500 per kilogram, tetapi pemerintah menetapkan Rp 7.000 per kilogram.

Selain lebih menguntungkan petani, sebuah industri gula cair juga memberi kesempatan kerja kepada sekitar 10-12 warga setempat.

Pemasaran gula cair, kata Samusi, sangat terbuka sepanjang pabrik kecap masih beroperasi. Bahkan, kini permintaan dari berbagai industri makanan dan minuman mulai berdatangan.

”Permintaan akan gula cair sangat besar, sedangkan persediaannya masih sangat terbatas. Dengan demikian, prospek industri gula cair akan menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang,” kata Marzuki. (SIR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau