JEMBER, KOMPAS -
Saat ini ada lima petani tebu yang mengembangkan industri pembuatan gula cair. Dua di antaranya adalah H Samuji Zarkasi dan H Marzuki Abd Ghofur. Dua tahun lalu hanya seorang petani yang mengembangkan industri gula cair.
Samuji, pengusaha tebu di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember, Kamis (9/6), mengatakan, selama ini rendemen tebu milik petani selalu pada posisi yang sangat rendah saat digiling di pabrik tebu, yaitu sekitar 6 persen. Jika tebu digiling sendiri untuk dijadikan gula cair, rendemen yang dihasilkan lebih dari 10 persen.
Dia mengatakan, dari tebu yang digiling dengan mesin mini berkapasitas 10 ton per hari, dia bisa memproduksi 1,5 ton gula cair per hari. Artinya, tebunya menghasilkan rendemen 15 persen.
Marzuki yang juga Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Semboro mengatakan, tebu yang dijadikan gula cair ternyata mampu menghasilkan rendemen sebesar 12 persen. ”Bandingkan jika digiling di Pabrik Gula Semboro, rendemen yang didapat hanya 6,1 persen,” kata Marzuki.
Dia mengatakan, hasil industri rumah tangga gula cair sangat menguntungkan. Untuk lahan seluas 1 hektar dengan produksi tebu sekitar 10 ton, pendapatannya bisa lebih dari Rp 40 juta.
”Bandingkan jika giling ke pabrik dengan rendemen 6,1 persen, paling hanya terima uang sekitar Rp 30 juta-Rp 31 juta,” kata Marzuki.
Apalagi, hasil lelang gula yang diterima petani saat ini hanya Rp 7.761 per kilogram. ”Saya baru diberi tahu teman lewat telepon bahwa harga lelang gula petani di Pabrik Gula Gempol Kerep hanya Rp 7.761 per kilogram,” kata Samuji.
Jika harga lelang yang dibeli pedagang kurang dari Rp 8.000 per kilogram, petani tebu menjadi terpuruk. Sebenarnya harga produksi petani Rp 7.500 per kilogram, tetapi pemerintah menetapkan Rp 7.000 per kilogram.
Selain lebih menguntungkan petani, sebuah industri gula cair juga memberi kesempatan kerja kepada sekitar 10-12 warga setempat.
Pemasaran gula cair, kata Samusi, sangat terbuka sepanjang pabrik kecap masih beroperasi. Bahkan, kini permintaan dari berbagai industri makanan dan minuman mulai berdatangan.
”Permintaan akan gula cair sangat besar, sedangkan persediaannya masih sangat terbatas. Dengan demikian, prospek industri gula cair akan menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang,” kata Marzuki.